Perang Rusia Ukraina

3 Senjata Rahasia Bantuan Amerika Serikat yang Bikin Pertahanan Ukraina Belum Rapuh

Pusat-pusat kota besar termasuk ibu kota Kyiv, tetap berada di tangan Ukraina hingga kini, kondisi yang mengejutkan Moskwa dan bahkan dunia.

Editor: Alfons Nedabang
AFP/RUSSIAN DEFENCE MINISTRY
Pasukan terjun payung Rusia mendarat di sebuah lapangan udara rahasia di Ukraina pada Sabtu 12 Maret 2022 Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Pasukan Rusia Paksa Ribuan Wanita dan Anak-anak Mariupol Pindah Secara Paksa ke Rusia, https://aceh.tribunnews.com/2022/03/20/pasukan-rusia-paksa-ribuan-wanita-dan-anak-anak-mariupol-pindah-secara-paksa-ke-rusia. 

POS-KUPANG.COM - Meski terus menerus dibombardir militer Rusia, pertahanan Ukraina belum rapuh. Negara yang dipimpin Presiden Volodymyr Zelensky belum mau menyerah. Kota-kota yang menjadi target utama belum berhasil dikuasai Rusia, atau masih dalam pangkuan Ukraina

Memasuki minggu keempat invasi Rusia, Moskwa gagal mencapai tujuan utamanya. Padahal, hampir 200.000 tentara dan ribuan kendaraan lapis baja yang didukung oleh pesawat tempur dan kapal perang telah "dipajang" di perbatasan sebelum invasi.

Militer Rusia mengharapkan "kampanye blitzkrieg" ke negara tetangganya hanya akan berlangsung 48 hingga 72 jam, dengan keyakinan Ukraina akan menyerah dengan cepat.

Akan tetapi, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memimpin perlawanan sengit. Pusat-pusat kota besar termasuk ibu kota Kyiv, tetap berada di tangan Ukraina hingga kini, kondisi yang mengejutkan Moskwa dan bahkan dunia.

Baca juga: Perang Rusia vs Ukraina: Putin Minta Pasukan Ukraina di Mariupol Menyerah, Warga Sipil Dievakuasi

Kegigihan dan pengetahuan Ukraina tentang medan perang telah memainkan peran besar dalam pertahanan efektif mereka. Namun selain itu, pasokan senjata dari NATO dan Uni Eropa juga memainkan peran penting dalam menghambat kemajuan Rusia.

Ukraina telah menerima senjata senilai miliaran dollar AS dari Barat, di antara bantuan itu tiga sistem senjata menonjol menurut laporan Business Insider. Sejak invasi dimulai, FGM-148 Javelin dan FIM-92 Stingers buatan AS, dan Next Generation Light Anti-Tank Weapon (NLAW) yang dirancang oleh Inggris dan Swedia telah menjadi teror pasukan Rusia.

Javelins

Rusia menggunakan regu batalion taktis (BTG) terdiri dari tank dan kendaraan lapis baja. Sebagian besar formasi mekanis menggunakan senjata berat untuk mengatasi perlawanan.

Namun, batalion itu rentan terhadap pertahanan anti-tank seperti Javelin. Peluru kendali yang dapat digunakan kembali itu memiliki dua bagian: tabung peluncuran dan unit pengarah luncuran, yang memiliki kontrol dan optik untuk penggunaan siang dan malam.

Baca juga: Perang Rusia vs Ukraina: Intelijen Ukraina Sebut Elite Rusia Berencana Gulingkan Putin

Moncong rudal Javelin memiliki sistem panduan inframerah homing. Ini memungkinkan operator menembakkan senjata dan kemudian berpindah untuk menghindari serangan balasan. Javelin tidak murah, masing-masing tembakkan harganya hampir 200.000 dollar AS (Rp 2,8 miliar).

"Jadi pengguna tidak bisa sembarangan menembakkannya," kata pasukan Baret Hijau yang ditugaskan ke unit Garda Nasional AS kepada Insider.

Meskipun ukurannya besar, apa yang membuat Javelin begitu efektif adalah fleksibilitas penargetannya.

Stringers

Ukraina mengandalkan sistem pertahanan udara portabel-manusia, seperti rudal Stinger, untuk mencegah pesawat tempur, pembom, dan helikopter Rusia beroperasi terlalu bebas di atas Ukraina.

Baca juga: Bukan Hanya Ukraina, Rusia Juga Disebut Rencana Serang Negara NATO Tetanggana, Dibocorkan TV Rusia

Stinger menjadi terkenal karena penggunaannya melawan pasukan Soviet di Afghanistan, dan memiliki reputasi yang menakutkan. Dengan jangkauan efektif 15.000 kaki (4,57 km), ia dapat mengenai hampir semua hal yang terbang di bawah 12.000 kaki (3,65 km).

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved