Tips Kesehatan

Cara Mengontrol Hipertensi Tanpa Pengobatan, Ini Penjelasan Dokter Yovita Gotama

Terapi gaya hidup ini dengan mengurangi berat badan dengan membatasi asupan kalori, konsumsi sodium.

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO-YOVITA GOTAMA
dr Yovita Gotama 

POS-KUPANG.COM - Hipertensi adalah penyakit tidak menular dan masih menjadi perhatian di seluruh dunia karena menjadi penyebab kematian nomor 1 di dunia. Organisasi kesehatan dunia WHO memperkirakan prevalensi hipertensi secara global sebesar 22 persen dari total penduduk dunia dan hanya kurang dari seperlima yang melakukan upaya pengendalian terhadap tekanan darah yang dimiliki.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,11 persen pada penduduk dengan usia di atas 18 tahun. Prevalensi di Provinsi Nusa Tenggara Timur sendiri sebesar 27,72 persen.

Seseorang dikatakan hipertensi apabila tekanan darah sistolik sebesar 140 mmHg atau tekanan darah diastolik 90 mmHg pada 2 kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang.

Baca juga: Pemicu Hipertensi Saat Hamil, Gejala Tekanan Darah Tinggi, Dampak dan Cara Mengatasi

Cara mengontrol hipertensi sebenarnya cukup mudah dan dapat dilakukan dengan tanpa pengobatan yaitu melalui perubahan gaya hidup.

Perubahan gaya hidup ini dinamakan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) seperti mengurangi konsumsi sodium, meningkatkan konsumsi potassium, buah-buahan serta sayur-sayuran, mengurangi konsumsi alkohol dan meningkatkan aktivitas fisik.

Managemen perubahan gaya hidup merupakan komponen yang sangat penting karena memiliki banyak manfaat seperti menurunkan tekanan darah, meningkatkan efektivitas beberapa obat anti hipertensi, meningkatkan kesehatan dalam aspek metabolik dan pembuluh darah.

Baca juga: Kenali Gejala & Jenis-jenis Hipertensi atau Tekanan Darah Tinggi, Ada Hipertensi Primer dan Sekunder

Diteliti pada pasien yang melakukan perubahan gaya hidup dengan metode DASH juga menurunkan risiko penyakit jantung dan diabetes karena mengontrol tekanan darah, kolesterol, gula darah puasa dan berat badan terutama bila dilakukan lebih dari 12 hingga 24 bulan.

Terapi gaya hidup ini dengan mengurangi berat badan dengan membatasi asupan kalori, konsumsi sodium (<2300 mg atau setara dengan 1 sendok teh garam per hari), meningkatkan konsumsi buah dan sayur (8-10 porsi per hari) dan produk susu rendah lemak (2-3 porsi per hari), menghindari konsumsi alkohol berlebihan, merokok dan meningkatkan aktivitas fisik.

Pembatasan Konsumsi Sodium

Penelitian telah membuktikan dengan membatasi konsumsi sodium dapat menurunkan 5 mmHg tekanan darah sistolik dan 2-3 mmHg tekanan darah diastolik.

Baca juga: Gejala Hipertensi Primer dan Sekunder, Kenali Perbedaannya

Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik yang disarankan adalah intensitas sedang seperti 30-45 menit jalan cepat per hari.

Namun aktivitas fisik ini perlu disesuaikan dengan kondisi pasien seperti pada usia tua dan status fungsional pasien tersebut.

Penurunan Berat Badan

Penurunan berat badan 1 kg telah dikaitkan dengan penurunan tekanan darah setara 1 mmHg.

Baca juga: Waspadalah! Anak Bisa Diserang Hipertensi, Ketahui Gejala Penyakit dan Penyebabnya

Hipertensi adalah salah satu faktor risiko yang bila berlangsung dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan kerusakan pada beberapa organ seperti ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (stroke).

Maka dari itu hipertensi ini perlu dikontrol dengan minimal cek rutin 1 kali setiap bulan dengan target tekanan darah di bawah 140/90 mmHg.

Bila tekanan darah seseorang sudah mencapai di bawah target bukan berarti sembuh melainkan terkontrol sehingga tetap harus dengan pengawasan dokter bila meminum obat. (*)

Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved