Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Rabu 15 Desember 2021: Masih Ragu?
"Bagi Tuhan, tak ada yang mustahil. Ia dapat mengubah yang tidak bisa diubah manusia". Kalimat luhur ini sangat sering disuarakan oleh siapa saja.
Renungan Harian Katolik Rabu 15 Desember 2021: Masih Ragu? (Lukas 7:19-23)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - "Bagi Tuhan, tak ada yang mustahil. Ia dapat mengubah yang tidak bisa diubah manusia".
Kalimat luhur ini sangat sering disuarakan oleh siapa saja. Kadang menghiasi status medsos netizen.
Dari mereka yang hidupnya aman sejahtera, yang terlihat baik dan jarang terdengar ditimpa masalah, yang berpendidikan sangat tinggi, hingga mereka yang terbilang pura-pura aman, sedang terlilit beban hidup.
Memang sangat boleh jadi, kalimat itu diucapkan karena ada keyakinan bahwa situasi berat yang dihadapi akan berubah.
Bisa pula ungkapan itu digunakan sebagai nasihat mulia untuk menguatkan hati atau menutupi ketidakmampuan diri lantaran tak lagi bisa bertahan dan memikul beban.
Tetapi apakah benar kalimat itu sungguh mengalir keluar dari lubuk hati paling dalam sebagai ungkapan imannya kepada Tuhan?
Persoalannya, walau kalimat mulia itu terucap dari mulut, tapi bersamaan dengan itu orang justru meragukan bahwa tak mempercayai bahwa Tuhan memang bisa mengubah sesuatu yang mustahil bagi manusia.
Beberapa waktu lalu terbaca tulisan itu yang menghiasi layar status seorang netizen. Hari ini pada layar yang sama, terposting ungkapan kekesalan, kejengkelan, lantaran masalah pelik yang dihadapinya seakan tak memberinya peluang sedikit pun untuk keluar darinya.
Bisalah dimengerti kalau ada yang berkomentar agak sinis dengan darah yang mungkin mendidih saat membaca kalimat mulia dari netizen itu yang meragukan Tuhan.
Komentator lain menulis tanggapan yang menghentak. Ia membuka tabir dan menunjukkan apa yang memang seharusnya bisa dilihat dan direnungkan.
Pandemi ini telah mengubah gaya hidup dan kebiasaan kita. Dari yang tak pernah berpikir harus bekerja di rumah berbulan lamanya sampai harus menyodok hidung untuk keperluan kesehatan.
Belum lagi memakai masker dan duduk berjarak seperti di tempat ibadah, di dalam pesawat, yang dulu, sebelum pandemi ini datang, kita tak pernah berpikir hidup seperti ini.
Dengan pandemi ini, kita mau tak mau terbuka mata bahwa teknologi yang majunya demikian dahsyat bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
Sebut saja, sekedar untuk bepergian, kita bisa mengunduh aplikasi untuk memantau aktivitas kita. Dengan teknologi komunikasi yang canggih, kini kita bisa memantau fluktuasi harga komiditi. Pun untuk melihat peluang bisnis apa yang paling prospektif.
Apa yang ia maksudkan terbaca dalam catatan penjelasannya berikut.
Kalau virus saja bisa mengubah gaya hidup dan kebiasaan kita, maka tak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Ternyata Tuhan membuat kita lebih punya banyak waktu untuk mengerti anak-anaknya, generasi millenial.
Dan, masih banyak peluang positif yang terpampang jelas untuk dicermati.
Dalam kerangka itu, seandainya kita pernah terjerembab dalam keraguan; atau mungkin sedang dibuat bimbang, kiranya kisah tentang Yohanes Pembaptis memberi pesan bermakna.
Ia seorang pengkotbah. Apa yang disuarakannya terarah kepada Yesus. Ia melihat ketidakberesan di tengah-tengah bangsanya.
Ketidakberesan itu, menurutnya, akan segera diakhiri oleh Kristus. Ia tahu diri bahwa Kristus yang akan datang itu lebih berkuasa dari padanya (bdk. Mat 3:11)
"Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan" (Luk 3:17; lih. Mat 3:12).
Alhasil Ia dibungkam secara paksa. Ia dipenjarakan Ia tak lagi bisa menyerukan dan menginsyafkan orang-orang untuk bertobat.
Kondisi yang membuatnya tak berdaya ini, tentu menggoncangkan pendiriannya. Apalagi ia pasti mendengar: kemesiasan Yesus diragukan orang-orang.
Bahkan para pemuka bangsanya mempertanyakan kuasa Yesus (bdk. Mat 21:23; Luk 20:2; Mrk 11:27). Yohanes menjadi ragu-ragu pada Yesus.
Tetapi Yohanes tetaplah seorang teladan. Dalam keragu-raguan dan tidak tahu bagaimana mengatasi kebimbangannya, Ia "mendatangi" Yesus dan bertanya langsung.
Ia mengirim dua muridnya bertanya kepada Yesus, "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?" (Luk 7:19).
Keraguannya tak membuatnya berpaling dari Yesus. Ia tetap percaya bahwa pada Yesus-lah ada kebenaran yang menyelamatkan.
Terhadap pertanyaan itu, Yesus tidak marah. Ia pun tidak terpancing mengumbar kesombongan diri dengan berkata, "Bilang Yohanes ya! Saya ini anak jenderal lho!"
Yesus hanya berkata, "Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik" (Luk 7:22).
Yesus mengembalikan persoalannya kepada Yohanes. Apakah Ia Mesias atau bukan seperti yang Yohanes beritakan, itu perkara diri Yohanes sendiri. Itu persoalan iman pada diri Yohanes.
Nah ... kita pun seharusnya mendatangi dan bertanya kepada Tuhan. Kita boleh mempertanyakan Tuhan, benarkah Ia akan "mengubah apa yang tak bisa diubah? Benarkah Ia akan membuat indah pada waktunya?"
Di hadapan Tuhan, kita akan melihat diri kita sendiri: sejauh manakah iman kita? Apakah saya bisa melihat perbuatan-perbuatan baik yang sudah dilakukan Tuhan?
Berhadapan dengan kita, Tuhan akan menjawabi kebimbangan kita. Dia akan mengajak kita untuk menengok apa saja yang telah dibuat-Nya, tetapi diri kita sendiri yang belum berubah.
"Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku", begitu tegas Tuhan.*
Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 15 Desember 2021:
Bacaan Pertama: Yesaya 45:6b-8,18,21b-25
Hai langit, teteskan keadilan dari atas
Beginilah firman Tuhan, “Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap.
Akulah yang memberikan kebahagiaan dan mendatangkan kemalangan.
Akulah Tuhan yang membuat semuanya ini.
Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan-awan mencurahkannya.
Baiklah bumi membuka diri, dan bertunaskan keselamatan serta menumbuhkan keadilan.
Akulah Tuhan yang menciptakan semuanya ini.” Sebab beginilah firman Tuhan, yang menciptakan langit dan bumi.
Dialah Allah yang membentuk dan menjadikan serta menegakkan bumi; yang menciptakan bumi bukan supaya kosong, melainkan supaya didiami orang; beginilah firman-Nya, “Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain.
Akulah Tuhan! Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain Aku. Allah yang adil dan juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku.
Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi!
Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.
Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali.
Semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, sambil berkata, Hanya dalam Tuhanlah keadilan dan kekuatan.
Semua orang yang telah bangkit amarahnya terhadap Dia akan datang kepada-Nya dan mendapat malu.
Tetapi seluruh keturunan Israel akan nyata benar dan akan bermegah dalam Tuhan.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: 85:9ab-10,11-12,13-14
Refr.: Hai langit, teteskanlah keadilan, hai awan, curahkanlah keadilan.
1. Aku ingin mendengar apa yang hendak difirmankan Allah! Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya? Sungguh, keselamatan dari Tuhan dekat pada orang-orang takwa, dan kemuliaan-Nya diam di negeri kita.
2. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan berpelukan. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan merunduk dari langit.
3. Tuhan sendiri akan memberikan kesejahteraan, dan negeri kita akan memberikan hasil. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan damai akan menyusul di belakang-Nya.
Bait Pengantar Injil: Yesaya 40:9-10
Refr.: Alleluya
Nyaringkanlah suaramu, hai pembawa kabar baik. Lihat, Tuhan Allah datang dengan kekuatan.
Bacaan Injil: Lukas 7:19-23
Katakanlah kepada Yohanes apa yang kalian lihat dan kalian dengar
Yohanes memanggil dua orang muridnya, dan menyuruh mereka bertanya kepada Yesus, “Tuankah yang ditunggu kedatangannya, atau haruskah kami menantikan seorang lain?”
Ketika kedua orang itu sampai kepada Yesus mereka berkata, “Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya, ‘Tuankah yang ditunggu kedatangannya, atau haruskah kami menantikan seorang lain?”
Pada saat itu Yesus sedang menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat; dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta.
Maka Yesus menjawab, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kalian lihat dan kalian dengar.
Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.
Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik lainnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)