Berita Lembata
Pemkab Lembata Tanda Tangan Nota Kesepahaman Aksi Perubahan Iklim
Pemkab Lembata melakukan penandatanganan nota kesepahaman program memperkuat suara untuk aksi perubahan iklim
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Pemerintah Kabupaten Lembata ( Pemkab Lembata), perwakilan komunitas, organisasi internasional dan organisasi lokal di Lembata melakukan penandatanganan nota kesepahaman program memperkuat suara untuk aksi perubahan iklim yang berkeadilan.
Acara penandatanganan dilakukan di Ruang Rapat Bupati Lembata, Selasa, 7 Desember 2021. Pemerintah Kabupaten Lembata juga setuju bekerja sama dengan Koalisi Adaptasi yang diwakili oleh LSM Barakat dan Koalisi Pangan BAIK yang diwakili oleh Yaspensel dalam program memperkuat suara untuk aksi perubahan iklim yang berkeadilan.
Dalam acara ini, merespon berbagai fenomena kerusakan lingkungan, Bupati Lembata Thomas Ola Langoday mengajak semua pihak untuk mengembangkan sikap dan perilaku Sare Dame. Sikap dan tindakan untuk hidup selaras dan berdamai ini antara lain tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan Tuhan, leluhur dan juga alam.
Pernyataan ini disampaikan Thomas Ola dalam sambutan peresmian Program Amplifyng Voice for Just Climate Action yang akan dilaksanakan Yaspensel Keuskupan Larantuka dan Yayasan Barakat di Kabupaten Lembata, Selasa, 7 Desember 2021.
“Sare dame itu spirit untuk menjaga hidup selaras dengan semua unsur di sekitar kita. Jadi kita harus Sare Dame dengan Tuhan, Sare Dame dengan sesama manusia, dengan alam dan juga dengan leluhur. Saya baru kembali melakukan penanaman padi bersama petani sawah. Saya minta kita harus hidup selaras dengan alam. Jangan gunakan banyak pupuk kimia karena nanti kita juga akan yang akan terima dampaknya jika alam rusak," ungkapnya.
Kepada Yaspensel dan Barakat, Thomas Ola mendukung pelaksanaan program tersebut dengan menekankan spirit kerja kolaboratif dengan pemerintah daerah dan membangun keselarasan dengan alam Lembata.
“Lembata punya sorgum, jagung dan kambing. Namun kita tak menjual itu. Kita menjual branding. Bahwa yang baik, yang sehat itu datang dari Lembata. Healthy from the east. Jadi kami mendukung pelaksanaan program ini yang dilaksanakan Yaspensel dan Barakat. Namun harus mendukung mimpi besar ini. Itu berarti harus membangun kesadaran masyarakat untuk sare dame, bekerja selaras dengan alam,” tandas Thomas Ola.
Program dengan fokus Memperkuat Suara tentang Aksi Iklim yang berkeadilan ini akan dilaksanakan Yaspensel dan Barakat di Kabupaten Lembata selama kurang lebih 4 tahun hingga tahun 2025.
Dalam aktivitasnya, Yaspensel tergabung dalam Koalisi Pangan BAIK bersama sejumlah lembaga seperti Yayasan Kehati, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), AYO Indonesia dan Ayu Tani.
Sedangkan Yayasan Barakat tergabung dalam Koalisi Adaptasi bersama sejumlah lembaga lain yang dipimpin oleh Pena Bulu Foundation. Kedua koalisi menjalankan program dengan dukungan dana dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (HIVOS) Indonesia.
Direktur Yaspensel, Romo Benyamin Daud dalam sambutan mewakili kedua koalisi menyampaikan, Lembata adalah kabupaten serealia. Kekayaan tanaman sumber pangan ini, menurut Romo Benya menjadi penopang keberagaman yang mendukung konsumsi dan pangan rumah tangga masyarakat.
Dampak perubahan iklim perlu direspon dengan langkah adaptif termasuk mengembalikan kelestarian tanaman sumber pangan yang diyakini punya ketangguhan menghadapi perubahan iklim.
“Kami dua lembaga ini, Yaspensel dan Barakat dengan niat tulus datang untuk bersama pemerintah bangun masyarakat. Pai Taan tou. Kita bangun lewotana ini. Kita dikenal sebagai pulau serealia. Kita juga punya laut yang kaya. Namun kita mengalami perubahan. Oleh karena itu, kita perlu berkolaborasi untuk pulihkan ini, ” terang Romo Benya.
Yayasan Barakat dari Koalisi Adaptasi akan memperkuat kapasitas masyarakat pada lima wilayah desa yang pernah mereka damping terkait Muro yakni Desa Tapobaran, Desa Dikesare di Kecamatan Lebatukan. Sedangkan di Kecamatan Ile Ape ada Desa Kolontobo dan di Ile Ape Timur ada Desa Lamawolo dan Desa Lamatokan. Muro adalah kearifan lokal masyarakat untum menjaga konservasi kawasan teluk dan laut, yang sudah dipraktikan di kelima desa tersebut.
Yaspensel yang selama 7 tahun terakhir fokus dalam urusan pengembangan pangan lokal, akan mengimplementasikan program di Desa Tapobali Kecamatan Wulandoni dan Kelurahan Lewoleba Selatan Kecamatan Nubatukan.
Lembaga milik Keuskupan Larantuka ini akan melibatkan anak muda, perempuan dan kelompok rentan lain untuk memperkuat suara terkait perubahan iklim yang mungkin mereka sendiri atau keluarganya sering mengalami dalam kehidupan harian mereka.
Peresmian program ini dihadiri oleh perwakilan sejumlah organisasi pemerintah daerah yang punya relevansi program seperti Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Perikanan.
Sejumlah lembaga lain yang selama ini sudah mengimplementasikan program adaptasi perubahan iklim juga hadir seperti Yayasan Plan International Indonesia, Humanity and Inclusion, Gempita Lembata, Kwartir Ranting Pramuka serta Forum Peduli Kesejahteraan DIfabel dan Keluarga. Selain itu, perwakilan pemerintah desa dan kelurahan sasaran program juga hadir.
Bergerak Bersama Atasi Perubahan Iklim
Peneliti lingkungan, Piter Pulang, menyebutkan latar belakang ini adalah bagaimana menyadarkan pemerintah dan masyarakat bahwa perubahan iklim itu masalah yang serius yang tidak saja berdampak pada masyarakat adat di pedalaman saja tapi juga berdampak di kawasan kepulauan kecil seperti Lembata.
“Lalu, karena sifatnya akumulatif maka banyak variabel berdampak seperti ekonomi, sosial, dan budaya maka butuh gerakan bersama atau social enviromentalism,” kata Piter saat ditemui di Sekretariat Barakat Lamahora.
Karena perubahan iklim berdampak pada banyak variabel, maka perlu ada peralihan gerakan bersama hal yang implementing menuju ke non implementing seperti edukasi, koordinasi, dan publikasi.
“Program ini masuk ke Lembata karena ada model pendekatan karena sudah bicara pada kawasan pulau kecil bukan hanya pedalaman. Juga termasuk campaign birokrasi atau advokasi kebijakan makanya butuh pemerintah dan media,” ujarnya.
Direktur LSM Barakat Benediktus Bedil merincikan empat hal yang mau diintervensi oleh program ini yakni lingkungan, ekonomi, sosial dan politik yang didalamnya termasuk kebijakan pemerintah.
“Kita memprovokasi orang lain untuk bergerak bersama. Kita mau satukan persepsi bahwa perubahan iklim juga berdampak pada pulau-pulau kecil,” pungkasnya.
Untuk mewujudkan dan mendorong upaya adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, diperlukan keterlibatan semua pihak (pemerintah, swasta, masyarakat sipil, akademisi dan media),
keterlibatan dan partisipasi semua pihak untuk memastikan aksi untuk transisi iklim yang dilakukan berkeadilan dan inklusif.
Melalui program Amplifying Voices for Just Climate Actions yang didukung oleh Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (HIVOS – Indonesia), Koalisi Adaptasi yang terdiri dari Yayasan Penabulu sebagai lead koalisi dengan anggota Perkumpulan Yapeka,Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan & Demokrasi (KPI), Pusat Kajian Sains Keberlanjutan & Transdisiplin IPB (CTSS IPB), Perkumpulan Konsil LSM Indonesia (Konsil LSM), Perkumpulan Desa Lestari, Perkumpulan Sinergantara, Yayasan Koordinasi Pengkajian & Pengelolaan Sumber Daya (KOPPESDA), Lembaga
Pengembangan Masyarakat Lembata (BARAKAT) bertujuan untuk memperkuat suara-suara untuk aksi iklim yang adil dengan cara melakukan meningkatkan kapasitas kelompok/organisasi masyarakat sipil lokal dan kelompok marjinal di wilayah sasaran program, Akuisisi narasi media lokal dan pengembangan hubungan dengan media nasional dan jaringan advokasi OMS, Pengelolaan, penciptaan, pertukaran pengetahuan dan kearifan lokal dalam skala nasional.
Selain Koalisi Adaptasi, ada juga Koalisi pangan BAIK yang melaksankaan program Amplifying Voices for Just Climate Actions dukungan Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Hivos-Indonesia) di Kabupaten Lembata. Anggota Koalisi Pangan BAIK yang melaksanakan program di Kabupaten Lembata adalah Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Keusukupan Larantuka atau Yaspensel.
Kedua lembaga dari dua koalisi ini, sama –sama melaksanakan program di Kabupaten Lembata pada wilayah dampingan yang berbeda namun tetap berkolaborasi di level kabupaten untuk menuju pencapaian tujuan program.
Kegiatan akan dilakukan selama periode Agustus 2021 – Oktober 2025, intervensi program akan dilakukan di 4 Kabupaten/Kota di NTT, diantaranya Kota Kupang, Kabupaten Rote Ndao, Sumba Timur dan Lembata dan pada akhir periode program (akhir 2025), dikembangkan model di setidaknya 12 kabupaten/kota di NTT yang menunjukkan posisi strategis, peran dan pengaruh kelompok/organisasi masyarakat sipil lokal yang terhubung dengan jaringan CSO nasional.
Untuk memastikan transisi iklim yang adil, inklusif, efektif dan berkelanjutan di semua tingkat pembangunan.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan project dan membangun kerjasama dari semua pihak (multy stakeholder) agar program Amplifying Voices for Just Climate Actions ini bisa diterima menjadi program bersama untuk kepentingan masyarakat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pemkab-lembata-tanda-tangan-nota-kesepahaman-aksi-perubahan-iklim.jpg)