Berita Nagekeo
Beras Mbay, Masa Depan Nagekeo Lumbung Padi NTT
Bupati Nagekeo, Johannes Don Bosco Do mengatakan tahun 2019 lalu, dirinya diinformasikan oleh tim dari IPB dan Balai Pertanian Kupang
Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi
POS-KUPANG.COM, MBAY-Bupati Nagekeo, Johannes Don Bosco Do mengatakan bahwa pada tahun 2019 lalu, dirinya diinformasikan oleh tim dari IPB dan Balai Pertanian Kupang bahwa tanah di irigasi Mbay, khususnya di irigasi Mbay Kanan, sifat fisik, kimia, dan biologisnya sudah cukup buruk sehingga perlu usaha yang luar biasa untuk perbaikannya.
Kegelisahan inilah yang menjadi salah satu alasan untuk memberikan perhatian lebih terhadap dunia pertanian. Sejarah telah mencatat irigasi Mbay sebagai salah satu dari hanya dua daerah irigasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang luas potensialnya di atas 5.000 ha dengan satu sumber air dan satu sistem pengambilan/bendung.
Sehingga menjadikan Mbay sebagai lumbung padi Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah sebuah amanah dari perjalanan sejarah. Kejayaan di masa lalu tentang produktivitas dan cita rasa khas beras Mbay harus segera dikembalikan.
Kolaborasi dan Sinergi
Di era saat ini, keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat (Public-Private-Community Partnership- PPCP). Hal ini disadari betul oleh Bupati Nagekeo yang akan memasuki tahun ketiga periode kepemimpinannya.
Sehebat apapun mesin birokrasi yang ia miliki, tidak akan mampu menjawab persoalan masyarakat tanpa berkolaborasi dengan pihak swasta maupun masyarakat itu sendiri. Sehingga di masa kepemimpinannya, ia selalu mencari mitra yang bisa diajak berjuang bersama untuk menjawab setiap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat di Kabupaten Nagekeo.
"Dua tahun kemudian kami berkenalan dengan Pandawa Agri Indonesia yang datang dengan sebuah solusi untuk menurunkan penggunaan insektisida yang berlebihan melalui reduktan dan juga solusi agar kesuburan tanah dapat dikembalikan dengan penggunaan mikronutrien, hal ini seperti pucuk dicinta ulam pun tiba atau bahasa kami menyebutnya Ruas ketemu Buku," ujar Bupati Don kepada Pos Kupang saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu.
Bupati Nagekeo yang saat itu baru pertama kali bertemu dengan Pandawa Agri Indonesia langsung memberikan sebuah tantangan untuk mewujudkan mimpi masyarakat Nagekeo memiliki brand beras yang mengidentitaskan keunggulan dan cita rasa khas Beras Mbay yang selama 10 tahun terakhir mulai tenggelam oleh beras dari daerah lain.
Tantangan ini kemudian menjadi motivasi bagi PT. Pandawa Agri Indonesia untuk membantu mimpi Bupati Nagekeo mengembalikan kejayaan beras Mbay di Pulau Flores dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
"Jadi ketika kami mendapatkan kesempatan dan juga tawaran untuk bisa mendampingi petani padi di Nagekeo, kami sangat semangat dan langsung terjunkan tim ke lapangan untuk bersama-sama dengan petani melihat apa yang menjadi masalah bagi mereka dan apa yang kira-kira bisa kita tawarkan sebagai solusi. Kami sangat bersyukokur karena pemerintah daerah Nagekeo juga melihat apa yang kami lakukan sebagai suatu hal yang sangat positif. Sehingga pemerintah dengan tangan terbuka mengundang kami untuk bisa berkolaborasi bersama," ujar Kukuh Roxa, CEO PT. Pandawa Agri Indonesia melalui sambutannya dalam video.
Kolaborasi dengan swasta dan masyarakat serta sinergi dengan mesin birokrasi yang Bupati Nagekeo miliki, menjadi kunci utama keberhasilan mengembalikan kejayaan beras Mbay.
Adopsi Teknologi PPAI dan Branding Beras Mbay
PT. Pandawa Agri Indonesia merupakan perusahaan berbasis lifescience yang berfokus pada penggunaan input pertanian yang ramah lingkungan, aman bagi pengguna dan terjangkau.
Sejak tahun 2014, Pandawa Agri Indonesia berinovasi dalam menciptakan produk pengurang pestisida yang disebut sebagai reduktan pestisida. Reduktan pestisida merupakan bahan campuran yang diformulasikan untuk mengurangi dosis penggunaan pestisida hingga 50% dari dosis awal.
Menjawab tantangan yang disampaikan Bupati Nagekeo, PT. Pandawa Agri Indonesia mengembangkan teknologi PPAI yang diharapkan mampu mengurangi penggunaan pestisida dan meningkatkan produktivitas sawah. Sehingga petani bisa menghasilkan padi yang lebih sehat dan lebih banyak tanpa mengurangi produktivitas dan kesuburan tanah.
Teknologi PPAI ini dimulai dengan penggunaan benih bersertifikat. Yaitu, benih padi yang sudah teruji oleh lembaga sertifikasi untuk menjamin kualitas sehingga pertumbuhan tanaman menjadi seragam dan potensi hasil panen lebih baik. Selanjutnya adalah penggunaan pupuk mikro lengkap sebagai pemenuhan unsur hara mikro.
Kemudian penggunaan dekomposer Jerami yang merupakan pemberian bakteri yang dapat mengurai jerami menjadi pupuk organik. Dekomposer ini juga efektif sebagai pengendali penyakit kresek dan blas pada padi. Selanjutnya adalah pengenalan mikoriza kepada petani. Mikoriza merupakan jamur yang dapat meningkatkan kemampuan akar untuk menyerap unsur hara dan air serta menambah daya tahan padi.
Selanjutnya, penggunaan pupuk silika untuk membantu meningkatkan kualitas pertumbuhan padi dan hasil panen dengan memperkuat batang tanaman, mencegah rontok, dan melindungi padi dari cuaca ekstrim. Terakhir adalah pengenalan penggunaan reduktan WS dan reduktan PS yang merupakan campuran zak aktif yang mampu mengurangi penggunaan dosis herbisida dan insektisida.
Dari perjalanan implementasi Teknologi PPI tersebut, Petani Mbay, Pemerintah Kabupaten Nagekeo dan PT. Pandawa Agri Indonesia telah berhasil melahirkan produk beras dengan branding Natural Rice Beras Mbay yang harapannya menjadi kebanggaan masyarakat Nagekeo.
"Tidak terasa kegiatan pendampingan sudah memasuki panen perdana. Petani-petani yang mengikuti dengan baik arahan dari kegiatan pendampingan ini mendapatkan hasil panen yang sangat baik di musim tanam yang bisa dibilang tidak begitu bagus kondisi iklim dan cuacanya. Dengan begitu, untuk merayakan panen perdana kegiatan pendampingan ini yang berjalan dengan baik, Pemerintah Kabupaten Nagekeo akan melakukan kegiatan Launching Beras Mbay yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2021, bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Nagekeo. Dan tanggal 8 Desember juga akan kirim perdana ke Ende 2 ton dan di minimarket Kota Mbay 1 ton. Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, animo-animo petani Mbay dapat muncul untuk mengikuti kegiatan pendampingan ini secara holistik," pungkasnya dalam video tentang perjalan sukses beras Mbay. (Tulisan ini merupakan Kerjasama Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Nagekeo dengan Pos Kupang)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/beras-mbay-masa-depan-nagekeo-lumbung-padi-ntt.jpg)