Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Kamis 25 November 2021: Angkatlah Muka
Tanggal 27 Februari 1979, malam Rabu, banjir badang melanda kotaku Larantuka. Saat itu saya masih duduk di kelas II SMP.
Renungan Harian Katolik Kamis 25 November 2021: Angkatlah Muka! (Lukas 21:20-28)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Mungkin banyak dari antara kita tak pernah mengalami situasi perang. Kita hidup di wilayah damai, tanpa perang berkecamuk.
Umumnya kita hanya bisa nonton di televisi perang di Afghanistan, Irak, Suriah, Palestina. Atau pernah nonton film perang di bioskop seperti Rambo-nya Sylvester Stallone.
Selebihnya kita mendapat gambaran tentang perang Padri, Diponegoro, dll. lewat paparan menarik dari guru sejarah saat di sekolah dasar dan menengah dulu.
Tapi saya pernah mengalami berbagai bencana alam dan malapetaka dahsyat.
Tanggal 27 Februari 1979, malam Rabu, banjir badang melanda kotaku Larantuka. Saat itu saya masih duduk di kelas II SMP.
Sedangkan gempa bumi, selain beberapa yang berskala kecil, ada 2 (dua) gempa bumi dahsyat yang saya alami.
Pertama, gempa bumi dengan 6.5 skala Richter disusul tsunami yang melanda pantai utara Flores siang hari, tanggal 12 Desember 1992.
Kedua, gempa bumi dengan 7.5 skala Richter yang menghantam dan meluluhlantakkan kota Padang sore menjelang malam tanggal 30 September 2009.
Dalam semua kejadian itu, terlebih saat gempa bumi mengguncang dahsyat, dunia seakan runtuh. Situasi menjadi begitu mencekam. Semua dilanda ketakutan ngeri yang tiada tara.
Namun satu hal ini patut dicatat! Rupanya dalam situasi yang mencekam dan mengerikan itu, semua orang pada lari dan berseru kepada Tuhan. Nyaris tak terkecuali.
Dia yang selama ini tak pernah lagi menyebut nama Tuhan, spontan meluncur keluar dari mulutnya, "Tuhan e ...!"
Mereka yang sebelum ini merasa berkuasa atas apa dan siapa saja, pun hanya bisa merunduk dan berpasrah diri.
Penginjil Lukas mencatat perkataan Yesus yang menggambarkan situasi dunia yang jauh lebih dahsyat dan mengerikan dari peristiwa atau kejadian apa pun yang (pernah) terjadi di seantero planet bumi ini.
"Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu" (Luk 21:20-23).
Itulah gambaran situasi akhir dunia, hari kiamat. Mencekam! Menakutkan!
Tapi persis reaksi kita di saat mengalami peristiwa yang menggetarkan nyali, berhadapan dengan situasi akhir dunia, Yesus mengajak kita agar tak boleh terpaku apalagi tenggelam dalam gambaran situasi yang kelam dan ngeri itu.
Ibarat menanti pelangi di balik badai. Mata kita justru harus mencari dan mendatangi Tuhan yang memberi harapan.
Kita tahu Yesus datang menyampaikan Kabar Gembira. Ia datang untuk membangkitkan optimisme. Ia datang membawa harapan dan keselamatan.
Dan memang benar! Kita bisa temukan perkataan-Nya sendiri.
"Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat" (Luk 21:27-28).
Kita catat apa yang dikatakan Yesus, "Angkatlah mukamu!". Dia menegaskan bahwa kita harus mengangkat muka.
Rupanya Yesus tahu bahwa kita memang selalu tertunduk karena merasa rendah diri di hadapan-Nya yang kudus. Ini bawaan lahiriah.
Tapi juga karena kita merasa diri tak pernah mendengarkan Dia dan jarang datang kepada-Nya untuk menyembah dan memuliakan-Nya. Atau pun karena selama ini kita telah menjauh dan berada jauh dari Dia.
Kita pun kerap tak berani angkat muka, tak sanggup mengangkat muka, karena kelewat malu setelah berbuat salah atau ketahuan melakukan kejahatan dan berada dalam lembah dosa yang menjijikkan.
Namun kita harus cermat dan mencerna dengan sepenuhnya perkataan-Nya. Soalnya perkataan-Nya menghidupkan nyala harapan dalam diri kita.
Ia menyuruh kita, "Angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat".
Kita disuruh angkat muka, karena ada kaitannya dengan akan datangnya Anak Manusia dan saat penyelamatan.
Bahwa kita harus angkat muka untuk melihat Dia yang akan datang nanti. Itulah saat penyelamatan kita.
Maka kita tak perlu segan, malu, apalagi cemas dan takut, baik karena kesederhanaan diri, dosa dan kesalahan; oleh penganiayaan dan penindasan, bencana dan malapetaka apa pun maupun akhir dunia.
Ngapain kita mesti malu, segan, cemas, gentar dan takut dengan akhir dunia, karena saat itulah Anak Manusia datang. DIA datang membawa penyelamatan.
Namun ini yang penting! Perkataan-Nya tentang gambaran akhir dunia dan kedatangan-Nya sebagai saat penyelamatan itu, sesungguhnya mengingatkan kita untuk "angkat muka" dari sekarang.
Artinya, hidup kita harus kembali dan selalu terarah kepada-Nya. Tak boleh lagi bias sedetik dan sejengkal pun.
Iman kita harus kokoh, kuat berakar dan berpegang pada-Nya. Kita mesti selalu berada bersama-Nya di jalan-Nya.
Kita ingat kata-kata-Nya kemarin, "Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu" (Luk 21:19). *
Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 25 November 2021:
Bacaan Pertama: Daniel 6:12-28
“Allah telah mengutus malaikat-Nya dan mengatupkan mulut singa-singa.”
Sekali peristiwa para pegawai Raja Darius masuk ke kamar Daniel, dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya.
Maka mereka menghadap raja dan menanyakan kepada raja, “Bukankah Tuanku mengeluarkan suatu perintah, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia selain kepada Tuanku, akan dilemparkan ke dalam gua singa?”
Raja menjawab, “Memang! Perkara itu sudah pasti, menurut undang-undang orang Media dan Persia yang tidak dapat dicabut kembali.”
Lalu mereka berkata kepada raja, “Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan Tuanku, ya Raja.
Ia tidak mengindahkan larangan yang Tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya.”
Mendengar hal itu sangat sedihlah raja, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel.
Bahkan sampai matahari terbenam, ia masih berusaha untuk menolongnya.
Tetapi para pegawai itu bergegas-gegas menghadap raja serta berkata kepadanya, “Ketahuilah, ya Raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tiada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja dapat diubah.”
Sesudah itu raja memberi perintah; lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa.
Berbicaralah raja kepada Daniel, “Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang akan melepaskan dikau!”
Lalu dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu.
Raja mencap batu itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam perkara Daniel tidak diadakan perubahan apa-apa.
Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman.
Ia tidak mendatangkan penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur.
Pagi-pagi benar ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa.
Sesampai di dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara sayu, “Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan dikau dari singa-singa?”
Daniel menjawab, “Ya Raja, semoga kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa.
Maka aku tidak diapa-apakan, karena ternyata aku tidak bersalah di hadapan Allahku.
Demikian pula terhadap Tuanku, ya Raja, aku tidak bersalah.” Raja sangat bersukacita dan memberi perintah supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu.
Maka ditariklah Daniel dari dalam gua. Ternyata tidak ada luka sedikit pun padanya, karena ia percaya kepada Allahnya.
Kemudian atas perintah raja, ditangkaplah orang-orang yang telah menuduh Daniel, dan dilemparkan ke dalam gua singa, baik mereka sendiri maupun anak isteri mereka.
Belum lagi mereka sampai ke dasar gua, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka.
Kemudian Raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang mendiami seluruh bumi, bunyinya, “Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu!
Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar terhadap Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa, dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir.
Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mukjizat di langit dan di bumi.
Dialah yang melepaskan Daniel dari cengkeraman singa-singa.”
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Kidung Dan 3:68.69.70.71.72.73.74
* Pujilah Tuhan, hai embun dan salju membadai.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
* Pujilah Tuhan, hai es dan udara dingin.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
* Pujilah Tuhan, hai embun beku dan salju.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
* Pujilah Tuhan, hai siang dan malam.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
* Pujilah Tuhan, hai cahaya dan kegelapan.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
* Pujilah Tuhan, hai halilintar dan awan gemawan.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
* Biarlah bumi memuji Tuhan.
U: Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.
Bait Pengantar Injil
U : Alleluya.
S : (Luk 21:28) Angkatlah kepalamu, sebab penyelamatmu sudah dekat.
Bacaan Injil: Lukas 21:20-28
“Yerusalem akan diinjak-injak oleh para bangsa asing sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu”
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Apabila kalian melihat Yerusalem dikepung oleh tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat.
Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, orang-orang yang ada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota.
Sebab itulah masa pembalasan dan genaplah semua yang tertulis.
Celakalah para ibu yang sedang hamil atau yang sedang menyusui bayi pada masa itu!
Sebab kesesakan yang dahsyat akan menimpa seluruh negeri, dan murka akan menimpa bangsa ini.
Mereka akan tewas oleh mata pedang dan diangkut sebagai tawanan ke segala bangsa.
Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.
Dan akan tampaklah tanda-tanda pada matahari, bulan dan bintang-bintang.
Bangsa-bangsa di bumi akan ketakutan dan bingung menghadapi deru dan gelora laut.
Orang akan mati ketakutan karena cemas berhubung dengan segala sesuatu yang menimpa bumi ini, karena kuasa-kuasa langit bergoncangan.
Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik lainnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)