Senin, 27 April 2026

Berita Sumba Timur

Hanya Ada di Sumba Timur Lumpur Jadi Bahan Pewarna Alami Kain Tenun

Aneh tapi nyata, lumpur menjadi bahan pewarna alami kain tenun ikat Sumba Timur. Harganya pun fantastis tembus Rp 15 juta/lembar

Penulis: Gerardus Manyela | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/GERARDUS MANYELLA
DEMO PEWARNA LUMPUR -Rambu Mbabu Watpelit sedang mendemonstrasikan proses pewarna alami lumpur di sanggarnya, Kamis, 18 November 2021. 

POS-KUPANG.COM, WAINGAPU -Aneh tapi nyata, lumpur menjadi bahan pewarna alami kain tenun ikat Sumba Timur. Harganya pun fantastis tembus Rp 15 juta/lembar.

Ketrampilan ini dimiliki kelompok tenun ikat Panongu Luri di Dusun Karuku, Desa Patawang, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kurang lebih 50 km arah selatan Kota Waingapu. Kelompok tenun yang beranggotakan 11 orang ibu-ibu ini, mendapat kehormatan kunjungan oleh Direktur IFAD (International Fund for Agricultural Development) Perwakilan Indonesia, Ivan Cortez, Tesk Team Leader Tekad (Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu), Anisa Pertiwi, Direktur Pengembangan Prodag Unggulan Desa Kemendes PDTT, Semy Leroy Uguy, Kamis, 18 November 2021.

Rombongan yang didampingi Tim Monev Dinas PMD Provinsi NTT, Ester Jawa Rambu Deta dan Farida Magdalena, Kadis PMD Kabupaten Sumba Timur, Franki Ranggabani, tim Nasional Managemen Consultan (NMC), Provincial Managemen Vonsultan (PMC), Elis Jawa, Korkab Tekad Sumba Timur, Largus Ogot, Faskab Monev, Deby Bunga, Faskab Pemasaran Ferdi Gogi, Faskab Pembangunan Ekonomi, Helena A Yermias, Faskab Tata Kelola Desa, Umbu Bahi, Tenaga Ahli Kemendes PDTT, Arli Arief, fasilitator kecamatan dan desa, fasilitator P3MD, Berno Watan dan aparat desa setempat.

Baca juga: 71 Anak Putus Sekolah di Kabupaten Ngada Ikut Pendidikan Kecakapan Wirausaha Tenun Ikat

Ketua Kelompok Tenun Panongu Luri, Rambu Mbabu Watupelit yang memiliki keahlian meramu lumpur menjadi zat pewarna hitam alami saat ditemui di lokasi menuturkan bahwa lumpur yang digunakan tidak sembarang lumpur. Lumpur tersebut diambil di pinghir danau musiman yang berwarna kekuningan.

Cara membuatnya, benar dimasak sampai 4 kali mendidih diangkat dan dicelupkan ke dalam lumpur yang sudah dimasak dengan ramuan daun-daun pilih sebagai pengawet tetap. Setelah itu benangnya diangkat dan dicuci lalu dimasak dan dicelup lagi sampai dipadtikan warnanya sudah hitam sesuai dengan yang diinginkan.Warna ini tidak akan luntur jika kainnya dicuci.

Lumpur sebagai pewarna, kata Rambu Mbabu, merupakan warisan leluhur. Untuk kain dengan pewarna lumpur proses kerjanya 3 bulan dengan harga jual Rp 15 juta perlembar.

Juru bicara kelompok Panongu Luri, Rambu Hunggu Hau Maritu menjelaskan, ada tiga warna alami yang dimiliki kelompok,yaitu hitam diramu dari lumpur dan ramuan daun-daun penguat, merah dengan bahan dasar kulit kayu dan biru bahan dasarnya daun-daun. Untuk daun-daun, kelompoknya kesulitan di musim kemarau karena daunnya gugur sehingga kegiatan tenun kain warna biru lebih cocok di musim hujan sehingga kelompoknya tidak kesulitan.

Ambu Maritu menyampaikan kelompok mereka mengalami dua kesulitan yang perlu mendapat intervensi dari TEKAD dan IFAD yakni pasar dan modal kerja. Ke depan kelompok ini berniat mendirikan rumah tenun yang dipadukan dengan warung kopi Sumba sehingga pengunjung selain menikmati aneka kain tenun dan selendang juga menikmati kopi sumba dipadukan dengan pangan lokal tapi harganya murah meriah.

Kelompok ini mengembangkan dua motif yakni motif umum yang dipajang dan boleh dipotret dan disebarluaskan di media sosial dan motif khusus yang disimpan di dalam rumah dan pengunjung dilarang memotret dan menyebarluaskan untuk menghindari plagiat. Ke depan motif khusus ini perlu memiliki hak paten sehingga tidak ditiru pihak lain.

Harga kain pun mulai dari Rp 500 ribu untuk selendang hingga Rp 75 juta untuk kain yang terbuat dari benang pintal dan pewarna alami serta motif khusus.

Untuk masalah ini, Tesk Team Leader TEKAD, Anisa Partiwi, bersama Direktur IFAD Indonesia, Ivan Cortez dan Direktur Pengembangan Prodag Unggulan Desa Kemendes PDTT, Semy Uguy akan memberikan intervensi baik pemasaran maupun modal kerja, jika kelompok ini serius.

Ketiga pimpinan ini meminta fasilitator TEKAD memberikan pendampingan penuh, termasuk perencanaan agar berjalan sesuai harapan.(gem)

Baca Berita Sumba Timur Lainnya

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved