Berita Kota Kupang
Selama Pandemi Covid-19 Gereja Alami Tantangan Pelayanan Digital
Selama pandemi Covid-19 hingga kini, gereja mengalami tantangan digital ministry atau pelayanan digital
Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Selama pandemi Covid-19 hingga kini, gereja mengalami tantangan digital ministry atau pelayanan digital. Pemanfaatan media digital tidak bisa terelakan lagi.
Hal ini disampaikan Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Merry Kolimon pada acara penahbisan gedung GMIT Jemaat Imanuel Oepura, Minggu 31 Oktober 2021.
Hadir pada acara ini, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, Ketua Umum Panitia Pembangunan, Ir. Esthon Foenay,M.Si, Ketua Klasis Kota Kupang, Pdt.Jacky Adam, Ketua Majelis Jemaat Imanuel Oepura, Pdt. Anthoneta Rahakbauw - M, S.Th, Sekretaris, Pnt. Iwan J. Franklin, Ketua Panitia Pembangunan, Toni Dapa, Ketua Panitia Pelaksana, Pdt. Iwan J. Lay, S. Th, Sekretaris, Pnt. Ever G. Tinenti para majelis serta jemaat. Hadie pula Sekda Kota Kupang, Fahren Funay dan Wakil Ketua DPRD Kota Kupang, Padron Paulus.
Menurut Merry, ketika gereja ditutup beberapa bulan, dapat dilihat bagaimana penggunaan media digital dalam pelayanan gereja.
Baca juga: Lantamal VII Kupang Vaksinasi Jemaat Gereja GMIT Rehobot Bakunase
"Pemanfaatan digitalisasi ini tidak bisa terelakan lagi .Tidak ada pendeta yang bilang beta (saya) tidak mau zoom, karena saya punya zaman sudah lewat. Tidak lagi, kita semua dipaksa masuk dalam revolusi industri 4.0 ,bahkan saat ini banyak sudah bicara revolusi 5.0," kata Merry.
Kepada panitia, Pdt. Merry menegaskan, gereja sudah ditahbiskan, tetapi perlu disadari bahwa, perlu dilengkapi dengan media-media pelayanan.
"Hari ini gereja sudah ditahbiskan, namun perlu disadari bahwa gedung saja juga penting, tapi perlu dilengkapi dengan media-media pelayanan yang lebih beragam, termasuk pelayanan digital yang dibutuhkan zaman ini," katanya.
Dikatakan, gereja yang hidup adalah gereja yang bukan hanya mengurus dirinya sendiri, tapi peduli dengan dunia di sekitarnya.
"Saya berterima kasih banyak, Jemaat Imanuel Oepura tetap konsisten memperhatikan sekolah GMIT yang ada di sini. Tadi saya tanya ibu pendeta, ini bangun apa yang berbentuk huruf L. ibu pendeta menjawab bahwa itu akan dibuat TK, kemudian di atasnya SD, bahkan kita juga buat PPA di sini," kata Merry.
Dikatakan, jika dilihat sejarah GMIT, maka sebelum GMIT ada, sekolah sudah ada lebih dahulu, sebelum ada pendeta, guru Injil ada di sana yang mana pada hari Senin sampai Sabtu mengajar dan pada Minggu berkhotbah.
"Jangan sampai gedung gereja megah, tapi sekolah dibiarkan mati di sana.
Kita menjadi gereja yang tumbuh dan berbuah jika kepedulian gereja untuk pendidikan. Kita tetap menjadi gereja yang tidak bertumbuh, jika gedung-gedung gereja megah, tetapi pendidikan di NTT tetap miris," ujarnya.
Dikatakan, ketika stunting angkanya tinggi, ketika kemiskinan yang ekstrem jumlahnya besar, warga gereja kita barangkali ada di daftar itu. "Maka kita tidak bisa katakan gereja kita bertumbuh dan berbuah," katanya.
Lebih lanjut dikatakan, gereja yang tumbuh dan berbuah itu adalah gereja yang aktif dalam pembangunan bangsa yang adil dan makmur, giat mensejahterakan bangsanya, bahu-membahu dengan semua bangsa yang lain, terlibat dalam mendampingi jemaat yang terdampak Pandemi Covid-19 dan Seroja dengan berbagi iman, kasih dan pengharapan.
"Gereja yang tidak mau hanya menerima bantuan, tapi aktif dalam mengorganisir dukungan kemanusiaan," ujarnya. (*)