Breaking News:

Berita NTT

Tahun 2020 Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di NTT Meningkat

Kepala Dinas DP3A Provinsi NTT, drg. Lien Adryani M. Kes mengatakan, angka tersebut jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, maka terdapat sedikit k

Penulis: Ray Rebon | Editor: Ferry Ndoen
Keterangan foto: Irfan Hoi/ K
Kepala Dinas DP3A Provinsi NTT, drg. Lien Adryani M. Kes 

Laporan reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami peningkatan di tahun 2020 lalu.

Laporan kekerasan yang diterima Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi NTT tercatat sebanyak 564 kasus.

Kepala Dinas DP3A Provinsi NTT, drg. Lien Adryani M. Kes mengatakan, angka tersebut jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, maka terdapat sedikit kenaikan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTT.

"Itu termasuk tinggi, dan merupakan kasus yang dilapor. Bisa jadi ada banyak kasus yang terjadi, tetapi tidak dilaporkan," ujar Lien Adryani kepada wartawan, Senin 11 Oktober 2021.

Baca juga: Selamatkan Uang Negara, Sejumlah Penyidik Tipikor Dapat Penghargaan Kapolda NTT

Dia menjelaskan, jumlah 564 merupakan akumulasi semua kasus yang telah dilaporkan dan dicatat oleh DP3A. Dan sering dilaporkan adalah kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

"Paling sering dilaporkan itu KDRT. Tetapi kekerasan itu sering juga terjadi pada anak. Karna kasus yang kami catat itu kekerasan terhadap perempuan dan anak," terangnya.

Dia menerangkan, kasus kekerasan terhadap perempuan kadang dianggap sebagai sebuah aib, sehinggn ingin dilaporkan ke DP3A, namun yang bersangkutan merasa malu.

"Kadang ini menjadi sebuah aib ya, karena jika dipukul suami dan mau melaporkan, tetapi mereka malu," ungkapnya.

Menurutnya, jumlah tersebut merupakan kasus yang sudah dilaporkan dan telah diselesaikan, dengan menghadirkan pihak keluarga dan difasilitasi oleh DP3A.

"Jadi kita seperti sidang keluarga. Dua keluarga besar dipertemukan untuk menyelesaikan. Walaupun ada yang diselesaikan dua hari, dan ada yang seminggu baru diselesaikan," jelasnya.

Dia menambahkan, selama pandemi COVID-19 di tahun ini terutama, laporan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih fluktuatif.

"Tetapi nanti akhir tahun baru bisa disampaikan secara keseluruan, sehingga kami bisa analisa kasusnya dulu," tandasnya. (*)

Berita NTT Lainnya :

Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved