Minggu, 7 Juni 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 27 September 2021: Beda Pola Pikir

Kita juga ingat kisah Adam dan Eva di taman Eden. Eva tergoda oleh ular untuk makan buah terlarang karena ingin sama seperti Allah.

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto pribadi
RD. Frid Tnopo 

Renungan Harian Katolik Senin 27 September 2021: Beda Pola Pikir (Lukas, 9:46-50) 

Oleh: RD. Frid Tnopo

POS-KUPANG.COM - Kita tentunya ingat kisah tentang menara babel di zaman Babylonia. Setelah zaman nabi Nuh, pasca banjir bandang, saat itu seluruh umat manusia bersatu untuk membagun sebuah menara yang tingginya bisa mencapai surga.

Menara itu direncanakan menjadi tangga untuk bisa menggapai tempat Tuhan.

Waktu itu seluruh umat manusia bersatu karena hanya memiliki satu rumpun bahasa dan kemudian semua manusia bepergian ke arah timur untuk mendirikan menara yang sangat tinggi menjulang ke langit di sebuah tempat yang bernama Shinar.

Namun ternyata usaha itu sia-sia. Menara itu akhirnya hancur karena Tuhan mencerai-beraikan manusia dalam aneka ragam bahasa.

Seandainya sukses, maka menara itu akan menjadi simbol kesombongan manusia.

Kita juga ingat kisah Adam dan Eva di taman Eden. Eva tergoda oleh ular untuk makan buah terlarang karena ingin sama seperti Allah.

Eva terbuai lalu membujuk Adam karena ada godaan untuk menjadi penguasa, mau tahu segala-galanya seperti Allah.

Akhirnya Eva dan Adam jatuh lalu terlempar keluar dari Eden menuju Edan.

Perlu sadar bahwa ada perbedaan yang sangat jauh antara Allah dan Manusia. Ibaratnya langit dan bumi yang tidak pernah akan menyatu.

Allah tetap Allah dan manusia tetaplah manusia. Tidak akan pernah sama.

Sekuat apapun manusia berusaha untuk sama dengan Allah tetap tidak akan pernah bisa. Sekalipun manusia berusaha untuk menggapai tempat Allah semasa hidup, tidak akan pernah sampai.

Meskipun demikian, sebagai ciptaan-Nya, manusia tetap harus berusaha untuk menyerupai-Nya.

Salah satu perbedaan yang mencolok terlihat dalam kisah injil hari ini yakni ada beda pola pikir antara Allah (Yesus) dan manusia (para murid).

Allah berpikir inklusif sedangkan manusia selalu berpikir eksklusif.

Allah melalui Putera-Nya Yesus selalu memikirkan manusia (yang lain), sedangkan para murid berpikir tentang diri mereka sendiri.

Terlihat saat para murid begitu asyiknya bertengkar satu sama lain tentang siapa yang terbesar di antara mereka.

Yesus selalu memikirkan tentang keselamatan kelompok besar umat manusia, sedangkan para murid senantiasa hanya memikirkan tentang keunggulan dan kepentingan kelompoknya sendiri.

Nampak saat Yohanes melaporkan kepada Yesus bahwa mereka mengusir seorang yang mengusir setan demi nama Yesus, karena orang itu buka terbilang dari kalangan mereka.

Yesus lalu mencegah kepicikan cara berpikir mereka.

Dalam analogi-Nya, Yesus sebenarnya mau mengatakan: Biarkanlah otakmu kosong, polos seperti seorang anak kecil agar bisa diisi dengan hal-hal baru yang ada tersebar luas di jagad raya ini.

Biarkanlah pikiran dan hatimu seperti tanah lapang yang siap untuk ditumbuhi aneka pengetahuan baru yang datang dari luar.

Jangan berpikir sok hebat bahwa kamu bisa mengatur segalanya, tetapi jadilah seperti seorang anak kecil yang selalu merasa bergantung kepada orang lain.

Bukalah hati dan pikiranmu agar bisa merangkum orang lain. Keluarlah dari lingkaran kelompokmu dan lihatlah ada sesuatu yang baik dari kelompok lain.

Jangan berpikir untuk menyingkirkan yang berseberangan, tetapi cobalah untuk merangkul perbedaan.

Dunia semakin terbuka dan hendaknya pikiran kita pun harusnya makin terbuka.

Manusia sekarang perlu hidup dalam semangat pluralisme. Globalisasi mendorong manusia untuk membuka wawasannya demi memelihara kebersamaan dalam keberagaman.

Tidak perlu menjadi satu dalam identitas, tetapi harus satu dalam memperjuangkan nilai-nilai yang baik.

Boleh berbeda-beda asal, tetapi harus satu dalam tujuan yakni menuju yang Ilahi.

Sebagaimana Yesus mewanti-wanti para murid untuk tidak berpikir dan berperilaku eksklusif, demikian halnya juga untuk kita.

Eksklusivis adalah salah satu ciri manusia sombong. Eksklusvfisme yang salah bisa mengarah ke radikaslisme tanpa akal sehat.

Marilah kita berusaha untuk berpikir dan berperilaku inklusif seperti Yesus. Bisa menerima dan merangkul yang lain. Kita semua sama di mata Tuhan. Salve. *

Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 27 September 2021:

Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab.
Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab. (POS-KUPANG.COM/AGUSTINUS SAPE)

Bacaan I : Zakharia 8:1-8

Aku akan menyelamatkan umat-Ku dari timur sampai barat

Datanglah sabda Tuhan semesta alam, bunyinya: Beginilah sabda Tuhan semesta alam, “Aku berusaha untuk Sion dengan kegiatan besar dan dengan kehangatan amarah yang besar.”

Beginilah sabda Tuhan semesta alam, “Aku akan kembali ke Sion dan akan tinggal di tengah-tengah Yerusalem. Yerusalem akan disebut Kota Setia, dan gunung Tuhan semesta alam akan disebut Gunung Kudus.”

Beginilah sabda Tuhan semesta alam, “Akan ada lagi kakek-kakek dan nenek-nenek yang duduk di jalan-jalan Yerusalem, masing-masing memegang tongkat karena lanjut usianya. Dan jalan-jalan kota itu akan penuh dengan anak-anak laki-laki dan perempuan yang bermain-main di situ.”

Beginilah sabda Tuhan semesta alam, “Kalau pada waktu itu sisa-sisa bangsa ini menganggap hal itu ajaib, apakah Aku akan menganggapnya ajaib?” demikianlah sabda Tuhan semesta alam.

Beginilah sabda Tuhan semesta alam, “Sesungguhnya Aku akan menyelamatkan umat-Ku dari timur sampai ke barat, dan Aku akan membawa mereka pulang, supaya mereka tinggal di tengah-tengah Yerusalem. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran.”

Demikianlah Sabda Tuhan

Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan: 102:16-18.19-21.29.22-23

Refr.: Tuhan sudah membangun Sion dan menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya

Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama Tuhan, dan semua raja bumi menyegani kemuliaan-Mu, bila Engkau sudah membangun Sion, dan menampakkan diri dalam kemuliaan-Mu; bila Engkau mendengarkan doa orang-orang papa, dan tidak memandang hina doa mereka.

Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji Tuhan, sebab Ia telah memandang dari tempat-Nya yang kudus, Tuhan memandang dari surga ke bumi, untuk mendengarkan keluhan orang tahanan, dan membebaskan orang-orang yang ditentukan harus mati.

Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu, supaya nama Tuhan diceritakan di Sion, dan Dia dipuji-puji di Yerusalem apabila para bangsa berkumpul bersama-sama dan kerajaan-kerajaan berhimpun untuk beribadah kepada Tuhan.

Bacaan Injil: Lukas 9:46-50

Yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar

Sekali peristiwa timbullah pertengkaran di antara para murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.

Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka.

Karena itu, Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya.

Lalu Ia berkata kepada mereka, “Barangsiapa menerima anak ini demi nama-Ku, dia menerima Aku.

Dan barangsiapa menerima Aku, menerima Dia yang mengutus Aku. Sebab yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar.”

Pada kesempatan lain Yohanes berkata, “Guru, kami melihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, dan kami telah mencegahnya, karena ia bukan pengikut kita.”

Tetapi Yesus menjawab, “Jangan kalian cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kalian, dia memihak kalian.”

Demikianlah Injil Tuhan

Syukur kepada Allah

Renungan Harian Katolik lainnya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved