Breaking News:

Berita NTT

NTT Harus Terdepan Jaga Kebhinekaan

Abraham Liyanto meminta masyarakat NTT agar menjadi garda terdepan dalam menjaga kemajemukkan atau kebhinekaan

Penulis: Paul Burin | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/ISTIMEWA
SOSIALISASI - Anggota DPD RI, Abraham Liyanto ketika melakukan sosialisasi empat pilar bangsa di Ruteng, Jumat, 25 Juni 2021. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Paul Burin

POS-KUPANG.COM- Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia ( DPD RI) dari Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT), Abraham Liyanto meminta masyarakat NTT agar menjadi garda terdepan dalam menjaga kemajemukkan atau kebhinekaan. Alasannya, awal mula lahirnya ideologi Pancasila berada di NTT, yaitu Kota Ende. Hal itu terjadi saat mantan Presiden Soekarno dipenjara di Ende oleh pemerintahan kolonial Belanda.

“Kita orang NTT harus bangga akan itu. Itu sudah ada tugu dan rumah pembuangan Soekarno di Ende yang terus dijaga sampai sekarang. Itu catatan sejarah penting dalam pendirian bangsa ini,” kata Abraham di Kupang, NTT, Rabu, 22 September 2021.

Ia menjelaskan, salah satu ciri dasar ideologi Pancasila adalah mengakui berbagai kebhinekaan yang ada di negara ini. Dengan ideologi tersebut, kebhinekaan dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang sudah ada sebelum bangsa Indonesia berdiri 76 tahun lalu. 

Di sisi lain, ideologi Pancasila mengajarkan untuk saling harga-menghargai dan hormat-menghormati dengan siapa saja meski berbeda suku, ras, agama dan berbagai latar belakang lainnya.

Baca juga: Abraham Liyanto : Pancasila Luntur karena Reformasi

“Kita lihat di lambang burung Garuda Pancasila, ada semboyan Bhineka Tunggal Ika. Artinya meski berbeda-beda tetapi tetap satu. Itu sebagai penghormatan terhadap kebhinekaan yang ada di bangsa ini,” jelas anggota Komite I DPD ini.

Ketua Kadin Provinsi NTT mengingatkan ada upaya-upaya dari pihak luar untuk merusak rasa persaudaraan dan kebhinekaan di NTT. Hal itu terlihat dengan tertangkapnya beberapa terduga teroris di wilayah NTT. Kelompok-kelompok ini dikenal tidak menghargai perbedaan dengan orang lain.

“Bukan kita menolak kehadiran orang asing atau dari luar di NTT. Karena kalau begitu, kita tidak menghargai perbedaan. Namun harus hati-hati dengan orang-orang yang membawa pemahaman ekstrim, pemahaman yang tidak menghargai perbedaan. Kita harus tolak yang berhaluan ekstrim seperti itu di NTT,” jelas Abraham.

Menurut pemilik Universitas Citra Bangsa ini, kemajemukan yang ada di bangsa ini adalah satu keniscayaan. Ciri ini menjadi keunikan dan kebanggan bangsa Indonesia. Bangsa lain mengakui keunggulan tersebut dan heran bisa keberagaman mempersatukan bangsa Indonesia.

Baca juga: Abraham Liyanto Sebut Empat Pilar Pemersatu Bangsa Merupakan Harga Mati

“Kebhinekaan menjadi kekuatan kita. Jangan ingkari kenyataan ini. Tanpa kebhinekaan, bangsa ini bisa bubar,” tegas Abraham.

Dia menyebut, kebhinekaan Indonesia meliputi negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau. Tahun 2020, jumlah penduduk mencapai 270.203.917 jiwa dan menjadi negara berpenduduk terbesar keempat di dunia. Indonesia berpenduduk Muslim terbesar di dunia, dengan penganut lebih dari 230 juta jiwa.

Dari Sabang di ujung Aceh sampai Merauke di tanah Papua, Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, dan agama. Berdasarkan rumpun bangsa (ras), Indonesia terdiri atas bangsa asli pribumi yakni Mongoloid Selatan/Austronesia dan Melanesia.

Suku bangsa Austronesia yang terbesar jumlahnya dan lebih banyak mendiami Indonesia bagian barat. Kemudian Indonesia memiliki lebih dari 7.00 bahasa daerah, 1.340 suku bangsa, dan enam agama yang diakui resmi oleh negara.

“Ini keunikan kita yang harus kita jaga sampai kapan pun,” tutup Abraham. (*)

Baca Berita NTT Lainnya

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved