Kamis, 23 April 2026

Berita Nasional

Fadli Zon Teriak Sektor Perunggasan Nasional Sekarat

Dalam unggahan terbarunya di instagram @fadlizon, Ketua Umum HKTI menyebutkan bahwa saat ini sektor perunggasan nasional sedang sekarat.

Penulis: Agustinus Sape | Editor: Agustinus Sape
Instagram/fadlizon
Anggota DPR RI yang juga Ketua Umum Kerukunan Tani Indonesia Fadli Zon mensinyalir sektor perunggasan di Indonesia sedang sekarat. 

Fadli Zon Teriak Sektor Perunggasan Nasional Sekarat

POS-KUPANG.COM - Satu minggu setelah kasus penangkapan seorang peternak unggas di Blitar oleh aparat keamanan saat kunjungan Presiden Jokowi, anggota DPR RI Fadli Zon kembali mengangkat masalah peternakan ayam di Indonesia.

Dalam unggahan terbarunya di instagram @fadlizon, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menyebutkan bahwa saat ini sektor perunggasan nasional sedang sekarat.

Diberitakan sebelumnya, kasus penangkapan seorang pria di Blitar, Jawa Timur gara-gara membentangkan poster saat Presiden Joko Widodo meninjau pelaksanaan vaksinasi, Selasa 7 September 2021, menuai banyak komentar.

Anggota DPR RI dari Partai Gerindra, Fadli Zon vokal menentang aksi polisi tersebut sampai ia mengunggah berita penangkapan tersebut di akun instagramnya @fadlizon.

Pada poster yang diangkat pria Blitar itu tertulis permintaan yang berkaitan dengan usaha ternak ayam.

"Pak Jokowi Bantu Peternak Beli Jagung dengan Harga Wajar," demikian tertulis pada poster pria tersebut yang berdiri di pinggir jalan saat Presiden Jokowi melintas.

Baca juga: Fadli Zon Singgung Hal Ini Saat Presiden Jokowi Tolak Jabatan Tiga Periode Atau Jabatan Diperpanjang

Jokowi tampaknya tidak memberi perhatian pada poster itu. Dia hanya melambaikan tangan kepada warga yang berdiri di sepanjang jalan.

Mobilnya itu terus melaju menuju makam Bung Karno di mana Jokowi dan rombongan hendak berziarah.

Yang melihat poster itu justru polisi. Seorang polisi mendatangi pria tersebut, langsung merebut dan merobek poster yang dipajang pria tersebut.

Polisi itu pun langsung menggelandang pria tersebut ke mobil polisi. Sang pria tampak mengikuti saja sang polisi, tanpa melawan.

Setelah membaca berita tentang kejadian tersebut, Fadli Zon menyatakan ketidakpuasannya dan menyampaikan simpatinya kepada pria Blitar itu.

Menurut Fadli Zon, itu merupakan aksi wajar dari peternak ayam di saat usahanya mengalami keterpurukan.

Dia menyebut harga telur jatuh, sementara pakan ayam mahal.

"Spanduk itu hanya aspirasi pada P ⁦@jokowi⁩ agar tahu kondisi sebenarnya dan ada jalan keluar bagi peternak ayam," tulis Fadli Zon di akun instagramnya.

Dia pun meminta polisi agar tidak menahan pria tersebut. "Tolong bebaskan peternak ayam yang bawa spanduk itu," seru Fadli Zon.

Baca juga: Fadli Zon Raih Penghargaan AIPA di Saat Usulan Soal Myanmar di Forum Parlemen ASEAN Tak Disepakati  

Menanggapi postingan Fadli Zon tersebut, sejumlah netizen sangat menyayangkan tindakan polisi tersebut.

Bahkan ada netizen yang sampai membandingkan masa kepemimpinan Jokowi sekarang dengan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tidak hanya Fadli Zon, sikap aparat yang berlebihan ini juga dikritik politukus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani.

Menurut Arsul, jajaran kepolisian di daerah-daerah tidak perlu berlebihan jika ada warga masyarakat yang memanfaatkan kunjungan tersebut untuk menarik perhatian.

"Polisi untuk tidak "over-reacted" jika ada warga masyarakat yang memanfaatkan kunjungan tersebut untuk menarik perhatian," kata Arsul kepada KOMPAS TV, Rabu 8 September 2021.

Menurut dia, aksi yang dilakukan oleh warga itu cukup diberikan pengertian agar yang bersangkutan tak anarkis selama kunjungan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Pemerintah Harus Turun Tangan

Dalam unggahan terbarunya di instagram @fadlizon, Senin 13 September 2021, Fadli Zon mencantumkan sebuah tulisan seperti judul sebuah buku, "SEKTOR PERUNGGASAN SEKARAT, PEMERINTAH HARUS TURUN".

Di bagian bawah tulisan tersebut, selain tercantum nama dan jabatannya sebagai anggota DPR RI, Fadli Zon juga menulis jabatan lainnya sebagai ketua umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Dalam pandangan HKTI, demikian Fadli Zon, kondisi perunggasan nasional sedang tidak baik-baik saja, harus ditolong.

"Pemerintah harus jamin ketersediaan dan stabilitas harga jagung untuk pakan unggas. Pemerintah juga harus jamin harga telur di tingkat peternak," tulis Fadli Zon.

Menurut Fadli Zon, kalau Pemerintah tidak segera turun tangan, maka kondisi ini akan jadi kiamat buat dunia perunggasan nasional yang sudah swasembada puluhan tahun.

"Alas hukum untuk menolong para peternak sudah tersedia, Permendag No. 7 Tahun 2020, tinggal dilaksanakan," tulisnya.

Baca juga: Fadli Zon Tagih Janji Anies Baswedan Usai Kampung Susun Akuarium yang Digusur Ahok Siap Digunakan

Lebih lanjut dia menulis, HKTI mendesak pemerintah untuk segera menyediakan jagung dengan harga Rp 4.500, sesuai harga acuan pemerintah. Juga jamin harga telur ayam sesuai harga acuan. Ini urgent dilakukan Pemerintah.

Selanjutnya, HKTI juga mendesak agar Pemerintah menyerap kelebihan pasok telur melalui bansos yang diberikan kepada masyarakat.

Penyerapan melalui bansos, katanya, minimal dilakukan sampai pasar telur kembali normal.

"Usulan lain HKTI, cutting tidak dilakukan pada telur tetas, tetapi pada indukan ayam broiler, sehingga meminimalisir rembesan telur tetas ke pasar," demikian Fadli Zon mengakhiri unggahannya.

Seorang netizen yang menanggapi unggahan Fadli Zon merasa heran sektor perunggasan bisa sekarat.

"Aneh kok bisa sekarat pasar kita kan guede bgttttt hadeuuh," tulis hotnews_indo .

Netizen lainnya menyinggung soal rencana impor daging ayam dari Brasil sehingga peternak lokal dimatikan.

"Apakah ada relefansi dengan rencana impor daging ayam dari brazil sehingga sengaja pwternak lokal "dimatikan"???," tulis kamrandawasir.

Fadli Zon sendiri tidak mencantumkan data mengenai harga ayam dan telur yang sedang sekarat di Indonesia.

Namun, berdasarkan data yang beredar di media online, Minggu 12 September 2021, harga ayam broiler di berbagai kota di Indonesia berkisar antara Rp 18.000 - 28.000 per kg. 

Sementara menurut berita kompas.com, harga telur di berbagai pasar Jakarta berkisar antara Rp 19.000 - 22.000 per kg. 

Mengutip detik.com sebelumnya, ada segudang masalah yang dihadapi sektor perunggasan di Indonesia. Di antaranya terkait harga unggas yang anjlok terus dan loyonya konsumsi masyarakat pada bahan pokok pangan satu ini.

Demi menyelesaikan masalah-masalah tersebut, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menekankan perlunya pembaharuan dan transformasi baik di sisi supply chain maupun dalam hal konsumsi.

Baca juga: Fadli Zon Ditantang untuk Perjuangkan Hak Warga Negara yang Menolak Divaksin, Netizen: Berbicaralah!

Dalam sisi supply chain, harus ada transformasi agar produk perunggasan Indonesia bisa lebih efisien dan kompetitif.

Pasalnya, sebagai bagian dari sistem perdagangan global yang terbuka, Indonesia harus selalu siap untuk bersaing dengan negara lain.

"Menurut saya, trend usaha di sektor perunggasan menuju ke arah yang lebih integrative dari hulu hingga hilir. Sistem yang terintegrasi ini memungkinkan efisiensi dari sisi produksi dan perdagangan sehingga masyarakat bisa menikmati harga yang lebih kompetitif," ujar Jerry dalam dalam Rembug Nasional Perunggasan VIII di Bandung, dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis 4 Maret 2021.

Dalam rangka transformasi itu, pelaku usaha perunggasan khususnya peternak dan pedagang kecil juga perlu diberikan peran yang sesuai.

Selain itu, diperlukan sistem logistik yang baik untuk mendukung pembaharuan di sektor perunggasan tersebut.

Untuk itu, Kemendag, katanya, telah meluncurkan Sistem Resi Gudang (SRG) termasuk di sektor perunggasan.

Hal ini dibuktikan dengan peresmian SRG untuk ayam di Cianjur beberapa waktu lalu.

"SRG ini menopang perdagangan ayam potong untuk daerah Cianjur, Bogor dan sekitarnya," imbuhnya.

Jerry menambahkan penyempurnaan sistem logistik perunggasan dengan data yang lebih integratif yang bisa menjadi rujukan antar Kementerian dan Lembaga juga sangat diperlukan. Tujuannya untuk menjadi dasar pembuatan kebijakan.

Selain itu, data yang terpercaya dan integratif akan mendukung pelaku usaha untuk menentukan sistem produksi dan perdagangan mereka.

Di sisi konsumsi, diperlukan upaya agar konsumsi unggas di masyarakat terus dikampanyekan. Hal ini untuk mencapai konsumsi per kapita yang ideal.

Pasalnya, sambung Jerry, daging ayam termasuk salah satu penopang gizi masyarakat guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Diharapkan pasar unggas Indonesia yang terus membesar bisa memberikan insentif bagi pelaku usaha.

"Pasar Indonesia yang besar harus dimanfaatkan, tentu dengan titik tekan bahwa UMKM di bidang ini dan masyarakat pada umumnya juga mendapat manfaat yang besar pula," imbuhnya. *

Berita nasional lainnya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved