Wawancara Eksklusif

Mendikbud Ristek Nadiem Makarim Belajar Menahan Frustrasi: 2 Tahun Jadi Menteri Serasa 20 Tahun (1)

Mendikbud Ristek Nadiem Makarim Belajar Menahan Frustrasi: Dua Tahun Jadi Menteri Serasa 20 Tahun (1)

Editor: Kanis Jehola
tribunnews.com
mendikbud Nadiem Makarim, Menteri Kabinet Jokowi-Maruf Amin 2019-2024 

POS-KUPANG.COM - PRESIDEN Joko Widodo ( Jokowi) banyak memilih kalangan milenial di jajaran kabinetnya untuk periode kedua memimpin Indonesia. Salah satunya adalah Nadiem Makarim yang kala itu didapuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Saat ini, Nadiem sudah berganti jabatan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan-Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek).

Kepada Tribunnetwork, Nadiem mengaku waktu terasa sudah berlangsung lama semenjak penunjukkannya. Dua tahun baginya serasa dua puluh tahun lamanya. Tugas sebagai menteri dinilainya yang sangat berat.

"Dua tahun ini serasa 20 tahun, karena begitu banyak hal yang terjadi. Sebenarnya dari awal itu saya sudah menyadari bahwa tugas ini adalah tugas yang sangat berat," ujar Nadiem, saat wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra dan News Manager Tribun Network Rachmat Hidayat, Kamis 9 September 2021.

Baca juga: Tekad dan Harapan Nadiem Makarim Usai Dilantik Jadi Mendikbud-Ristek

Nadiem menyebut pandemi Covid-19 memperparah dan memperberat pekerjaannya selaku menteri. Sebab, reformasi yang tengah dilakukannya di sektor pendidikan menjadi terhambat dengan virus Corona.

"Waktu pandemi terjadi, isu ini menjadi tambah parah lagi. Itu satu hal yang sama sekali tidak ada di benak saya. Kita tidak bisa memprediksi pandemi ini seperti apa," ucapnya.

Berikut wawancara khusus Tribunnetwork dengan Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim:

Mas Menteri diminta oleh Presiden Jokowi menjadi Mendikbud pada Oktober 2019. Kalau dihitung sudah hampir 2 tahun. Apa yang Mas Menteri rasakan dan alami selama dua tahun membantu Pak Jokowi?

Ini pertanyaan yang berat menjawabnya. Dua tahun ini serasa 20 tahun, karena begitu banyak hal yang terjadi. Sebenarnya dari awal itu saya sudah menyadari bahwa tugas ini adalah tugas yang sangat berat. Sistem pendidikan kita empat terbesar di dunia. Kami mengalami berbagai macam stagnasi di tes PISA internasional. Perbandingan kita dengan negara-negara lain. Jadinya awalnya saja sudah suatu hal yang sangat besar.

Baca juga: Masih Ingat Franka Istri Nadiem Makarim? Begini Penampilannya Kini, Makin Cantik, Karirnya Cemerlang

Sistem yang, birokrasi yang sangat besar dan rumit. Ada pembagian antara daerah dan pusat, tergantung jenjangnya dan lain-lain. Ada berbagai macam isu.Waktu pandemi terjadi, issue ini menjadi tambah parah lagi. Itu satu hal yang sama sekali tidak ada di benak saya. Kita tidak bisa memprediksi pandemi ini seperti apa.

Pada saat itu terjadi itu menjadi pukulan yang cukup besar karena pada saat kita baru memulai, sudah ada banyak sekali momentum reformasi yang kita lakukan. Lalu pandemi terjadi, jadi ini merupakan tantangan yang maha berat lah buat kita.

Tapi tetap saja kita sudah hampir dua tahun, alhamdulillah karena saya punya tim yang luar biasa, punya rekan-rekan menteri yang luar biasa, dan terutama punya punya bos atau presiden yang punya keyakinan terhadap reformasi struktural di bidang pendidikan.

Tim saya di Kemendikbud, tim baru kombinasi dengan tim yang lama hebat hebat. Idealis, banyak milenial masuk, birokrat yang masuk integritasnya sangat baik. Jadi saya senang punya komunitas dan punya dukungan yang luar biasa.

Sekarang ini kita 13 episode lho. 13 episode merdeka belajar berhasil keluar walaupun pandemi, dan itu suatu hal yang sangat bangga. Di situasi sulit pun masih bisa reformasi besar-besaran struktural masih bisa jalan.

Mana yang mas menteri rasakan lebih pusing, mengurusi usaha atau kementerian dengan salah satu anggaran terbesar?

Tentu transisi dari swasta itu nggak mudah. Di swasta sebagai founder dan CEO kita bilang A, ya udah A jalan. Tapi kalau di pemerintah nggak semudah itu, dimana kita punya dependensi dengan berbagai macam kementerian, level pemerintahan daerah, kabupaten, provinsi, dan bukan cuma itu, stakeholdernya itu semua.

Kalau perusahaan itu stakeholdernya kan investor dan staf kita. Di pemerintah saja sudah banyak stakeholdernya, tapi di dunia pendidikan semua orang itu menjadi pakar pendidikan.

Dua tahun terakhir saya merasa telah tumbuh berkembang jauh lebih banyak daripada saat saya tujuh tahun di sektor swasta. Lebih sulit, menantang, rumit, kompleks, kita harus belajar menahan frusrtasi, sabar, mendengarkan orang dari berbagai macam organisasi, kalangan masyarakat, dan proses pembelajaran itu luar biasa.

Inilah yang mengasah kemampuan kepemimpinan saya dan tim, dan ke depan itu jadi merasa nggak terlalu takut dengan apapun, karena sudah mengalami hal yang begitu sulit, rumit.

Sejak empat bulan lalu, portofolio Anda bertambah dengan masuknya Ristek ke Kemendikbud. Ini musibah atau berkah?

Kata musibah atau anugerah itu kayaknya kurang tepat. Ini adalah amanah, mungkin itu kata yang lebih tepat menjelaskan tambahan tugas ini. Tentunya alasan tugas ini ditaruh di kementerian saya juga harus perjelas. Sebenarnya ada pembagian tugas.

Ada alasan mengapa itu di merger ke kementerian kami, karena kami yang memegang universitas. Jadi nggak semua beban di kita, BRIN adalah leading sectornya untuk riset strategis pemerintah, akan desentralisasi di BRIN.

Berarti tidak akan tumpang tindih antara BRIN dan Kemendikbudristek ya?

Betul, dan saling complimentary, saling mendukung. Jadinya kalau BRIN membutuhkan payung regulasi untuk mendukung inisiatif mereka ya kita support mereka. Misalkan membutuhkan talenta peneliti dari perguruan tinggi, kita yang akan membantu memfasilitasi dan membuka pintunya.

Sejumlah perguruan tinggi melakukan riset terkait vaksin Merah Putih. Dalam konteks ini, dimana peran Kemendikbudristek?

Kami yang mendukung dari sisi kebijakan, juga kalau ada bantuan dari sisi bukan hanya regulasi tapi payung hukum daripada semua aktifitas. Karena risetnya dilakukan didalam universitas kita. Jadi kami yang mendorong universitas untuk bebas berkarya dalam menyelesaikan project vaksin Merah Putih ini.

Peran Kemendikbudristek ini berhenti ketika vaksin sudah mendapat izin dari BPOM? Baru setelahnya menjadi urusan BRIN?

Sebenarnya sekarang itu sudah dibawah payungnya BRIN juga, mereka pun terlibat. Mereka yang melaksanakan berbagai macam inisiasi di berbagai universitas kita. Jadi benar-benar mitra. Kita harus membuka ruangnya dan memastikan fasilitasnya ada, dosen dan karirnya semua terdukung.

Lalu BRIN yang akan mengambil inisiasi dari berbagai macam risetnya, hilirisasinya lalu tentunya Kementerian Kesehatan akan jemput bola, insyaallah kalau vaksinnya sudah diapprove oleh BPOM. (tribunnetwork/vincentius jyestha)

Baca Wawancara Eksklusif Lainnya

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved