Sabtu, 25 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 29 Agustus 2021: Menjadi Manusia Otentik

Bacaan injil hari Minggu Biasa XXII ini, 29/8/2021, yakni Mrk 7:1-8.14-15.21-23, berbicara tentang kritik Yesus terhadap orang Farisi dan ahli Taurat.

Editor: Agustinus Sape
Dok Pribadi
RD. Siprianus S. Senda 

Renungan Harian Katolik Minggu 29 Agustus 2021: Menjadi Manusia Otentik

Oleh RD. Siprianus S. Senda*

POS-KUPANG.COM - Dalan hidup bersama, kerap kita dengar ungkapan ini. Omong lain, buat lain. Apa yang dikatakan, berbeda dengan apa yang diperbuat.

Contoh yang paling terkenal adalah ungkapan "Katakan tidak pada korupsi". Tetapi karena yang mengucapkan ini justeru melakukan korupsi, maka publik memplesetkannya menjadi "Katakan tidak padahal korupsi". 

Bicara itu memang gampang. Menghayati apa yang dibicarakan itu tidak mudah. Dengan mudah kita dapat memberi nasihat kepada orang, "Sudahlah, jangan mendendam. Mendendam itu tidak baik."

Tetapi ketika situasi yang sama kita alami, segala nasihat kita justeru kita abaikan. Kita malah mendendam. Lain kata, lain perbuatan. 

Bacaan injil hari Minggu Biasa XXII ini, yakni Mrk 7:1-8.14-15.21-23, berbicara tentang kritik Yesus terhadap orang Farisi dan ahli Taurat.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 28 Agustus 2021: Menghargai dan Mensyukuri Talenta

Mereka mengajarkan hal yang satu, sementara perbuatannya bertentangan dengan apa yang diajarkan.

Mereka menekankan perbuatan lahiriah yang legalistik, sementara cinta kasih diabaikan.

Mereka mengutamakan adat istiadat, sementara perintah Tuhan disingkirkan.

Pada akhirnya mereka kelihatan saleh, tapi ternyata salah. Kelihatan suci, tapi ternyata licik. 

Maka Yesus mengkritik mereka dengan mengatakan, "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang munfaik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu."

Kritik Yesus ini persis menegaskan, lain di bibir, lain di hati. Lain yang diajarkan, lain yang dilakukan. Lain motivasi, lain perbuatan. Motivasi untuk puji diri, perbuatan seolah-olah untuk Tuhan. 

Kritik Yesus itu menelanjangi orang Farisi dan ahli Taurat yang memang terkenal dengan kemunafikan. Mereka bersikap legalistik, kelihatan taat hukum Taurat, tetapi dengan motivasi makan puji.

Hatinya jauh dari Allah. Karena dipenuhi dengan pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan dan sebagainya.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 25 Agustus 2021: Manusia Biasa

Hati yang dipenuhi aneka jenis kekotoran ini menyebabkan mereka cenderung bersikap munafik. Omong lain, buat lain. Dengan itu mereka jauh dari manusia otentik. 

Manusia otentik adalah manusia sejati. Manusia yang tulus, apa adanya, setia kepada kebenaran. Apa yang diajarkan, itu yang dihayati.

Manusia otentik, tidak omong lain buat lain. Ada kesatuan antara apa yang dikatakan atau diajarkan dengan apa yang dihayati. 

Contoh dalam injil adalah Yesus sendiri. Yesus mengajarkan cinta kasih, sekaligus menghayatinya. Bahkan Dirinya adalah cinta kasih itu sendiri.

Ia mengajarkan pengampunan, sekaligus mengampuni. Di atas kayu salib, Ia mengampuni mereka yang melakukan kejahatan terhadapNya. 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 27 Agustus 2021: Seorang Nabi Besar Telah Muncul di Tengah Kita

Yesus sebagai Manusia otentik, menunjukkan teladan dalam hal otentisitas pribadi. Ia mengkritik orang Farisi dan ahli Taurat, tetapi tidak melakukan seperti mereka yang dikritik.

Ia tetap teguh pada apa yang diajarkan dan dihayati: kebenaran, kebaikan, cinta kasih, keadilan, pengampunan, kerahiman, solidaritas.

Ia mengkritik yang salah dengan kata-kata, sekaligus memberi contoh dengan perbuatan, bagaimana seharusnya hidup. 

Mentalitas Farisi dan ahli Taurat yang omong lain buat lain kerap masih muncul dalam kehidupan bersama. Setiap kita dapat terjebak dalam mentalitas ini.

Termasuk kami para imam yang biasa berkotbah. Kerap kami berkotbah dan mengajar umat untuk tidak mendendam, harus saling mengampuni, tetapi ternyata masih suka mendendam dan tidak mau mengampuni sesamanya. 

Menjadi manusia otentik artinya menjadi manusia yang menyatukan kata dan perbuatan dalam kebenaran. Apa yang diajarkan, itulah yang dihayati. Apa yang dikatakan, itulah yang diperbuat.

Tentu saja yang dikatakan dan diperbuat itu adalah kebaikan, kebenaran, cinta kasih, solidaritas, kerahiman, keadilan, pengampunan, dan nilai-nilai kristiani lainnya. 

Semoga... 

*Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Teks Lengkap Bacaan Minggu 29 Agustus 2021:

Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab.
Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab. (POS-KUPANG.COM/AGUSTINUS SAPE)

Bacaan I : Ulangan 4:1-2.6-8

Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu; dengan demikian kamu berpegang pada perintah Tuhan

Di padang gurun seberang Sungai Yordan Musa berkata kepada bangsanya, “Hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup, dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu.

Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu, dan janganlah kamu menguranginya; dengan demikian kamu berpegang pada perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu.

Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaan dan akal budimu di mata bangsa-bangsa.

Begitu mendengar segala ketetapan ini mereka akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi!

Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti Tuhan, Allah kita, setiap kali kita berseru kepada-Nya?

Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?

Demikianlah Sabda Tuhan

Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan : 15:2-3a.3cd-4ab.5

Refr. Tuhan siapa diam di kemah-Mu, siapa tinggal di gunung-Mu yang suci?

  • Yaitu orang yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya; yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya.
  • Yang tidak berbuat jahat terhadap teman, dan tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tercela, tetapi menjunjung tinggi orang-orang yang bertakwa.
  • Yang tidak meminjamkan uang dengan makan riba, dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian tidak akan goyah selama-lamanya.

Bacaan II : Yakobus 1:17-18.21b-22.27

Hendaklah kamu menjadi pelaku firman

Saudara-saudaraku yang terkasih, setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang.

Pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya pada tingkat yang tertentu kita menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.

Terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

Hendaklah kamu menjadi pelaku firman, dan bukan hanya pendengar! Sebab jika tidak demikian, kamu menipu diri sendiri.

Ibadah sejati dan tak bercela di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemari oleh dunia.

Demikianlah Sabda Tuhan

Syukur kepada Allah

Bacaan Injil : Markus 7:1-8.14-15.21-23

Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia

Pada suatu hari serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus.

Mereka melihat beberapa murid Yesus makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.

Sebab orang-orang Farisi – seperti orang-orang Yahudi lainnya – tidak makan tanpa membasuh tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang.

Dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya.

Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga.

Karena itu, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus, “Mengapa murid-murid-Mu tidak mematuhi adat istiadat nenek moyang kita? Mengapa mereka makan dengan tangan najis?”

Jawab Yesus kepada mereka, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, “Dengarkanlah Aku dan camkanlah ini! Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskan dia!

Tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskan dia! Sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, pencabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Demikianlah Injil Tuhan

Terpujilah Kristus

Doa 

Tuhan, berilah kami hati yang suci, bersih dan murni agar mampu tangan kami digerakkan olehnya untuk mengasihi dan melayani secara tulus. Engkaulah sumber dan asal segala yang baik.

Bangkitkanlah dalam diri kami kasih akan Dikau dan tambahkanlah iman kami. Semoga Engkau memupuk benih-benih yang baik dalam diri kami dan memeliharanya sampai menghasilkan buah. Amin.*

Renungan harian katolik lainnya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved