Berita Nasional
Rawat Kebhinekaan Secara Paripurna
Kemajemukan atau kebhinekaan yang ada pada bangsa ini adalah satu keniscayaan
Penulis: Paul Burin | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kemajemukan atau kebhinekaan yang ada pada bangsa ini adalah satu keniscayaan. Tidak ada yang bisa mengingkari karena kemajemukan telah ada sejak bangsa ini lahir hingga sekarang ini.
Ciri ini menjadi keunikan dan kebanggaan bangsa Indonesia. Bangsa lain mengakui keunggulan tersebut dan heran bisa keberagaman mempersatukan bangsa ini.
Anggota MPR/DPD RI dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Abraham Liyanto mengajak seluruh lapisan masyarakat agar merawat kebhinekaan yang dimiliki bangsa ini. Generasi sekarang harus mengikuti teladan para pendiri bangsa yang sepakat hidup dalam kebhinekaan.
“Ini (kebhinekaan) menjadi kekuatan kita. Jangan ingkari kenyataan ini. Tanpa kebhinekaan, bangsa ini bisa bubar,” kata Abraham dalam kegiatan sosialisasi MPR di Kupang, NTT, Jumat, 20 Agustus 2021.
Baca juga: Abraham Liyanto Tegaskan Jangan Paksa Bangun Wisata Halal di NTT
Ia menyebut kebhinekaan Indonesia meliputi negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau. Tahun 2020, jumlah penduduk mencapai 270.203.917 jiwa dan menjadi negara berpenduduk terbesar keempat di dunia. Indonesia berpenduduk Muslim terbesar di dunia, dengan penganut lebih dari 230 juta jiwa.
Dari Sabang di ujung Aceh sampai Merauke di tanah Papua, Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa dan agama. Berdasarkan rumpun bangsa (ras), Indonesia terdiri atas bangsa asli pribumi yakni Mongoloid Selatan/Austronesia dan Melanesia. Suku bangsa Austronesia yang terbesar jumlahnya dan lebih banyak mendiami Indonesia bagian barat.
Indonesia kemudian memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, 1340 suku bangsa, dan enam agama yang diakui resmi oleh negara.
Abraham menegaskan kemajemukan yang ada di negara ini sebagai anugerah yang indah dari Tuhan. Apa yang diciptakan Tuhan harus disyukuri, diterima dan dijaga dengan baik.
Baca juga: Anggota DPD RI, Abraham Liyanto Menyebut Mafia Tanah Menghambat Investasi
“Hidup dalam kemajemukan itu sangat mulia. Kita jangan mengingkari ciptaan Tuhan. Mari kita hidup berdampingan dengan latar belakang apapun,” ujar senator asal Provinsi NTT ini.
Senator tiga periode ini mengingatkan, para pendiri bangsa sudah bersusah payah melahirkan negara ini. Mereka harus mengorbankan jiwa untuk melahirkan bangsa ini. Sebagai generasi penerus, setiap lapisan masyarakat yang hidup di era sekarang, harus bisa memertahankan keutuhan bangsa ini dengan berbagai keunikan yang ada sejak berdiri.
“Semua ini bukan baru ada sekarang, tetapi sejak bangsa ini berdiri. Sampai sekarang, aman-aman saja. Nah, situasi yang aman ini harus terus dijaga sampai kapan pun. Kecuali Indonesia ini bubar,” ujar anggota Komite I DPD ini.
Anggota Komite I DPD ini menyayangkan masih ada sebagian masyarakat yang memerrtentangkan perbedaan suku, agama, dan ras (sara).
Menurutnya, para pendiri bangsa sudah sepakat tidak memertentangkan perbedaan tersebut. Karena perbedaan adalah keanekaragaman dan kekayaan yang dijadikan alat pemersatu.
Pendiri Universitas Citra Bangsa ini berharap tidak ada lagi pendegradasian satu komunitas terhadap komunitas lain.
Kemudian, tidak ada penolakan terhadap kelompok agama yang berbeda dengan kita. Alasannya, semua SARA punya hak hidup.(pol)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/abraham-liyanto-sebut-empat-pilar-pemersatu-bangsa-merupakan-harga-mati.jpg)