Ritual Pati Ka di Danau Kelimutu Ende, Mosalaki Minta Leluhur Cegah Air Habis

KABUT tebal beserta hujan menyelimuti kawasan Danau Kelimutu di Desa Pemo, Kabupaten Ende, Jumat 30 Juli 2021

Editor: Kanis Jehola
FOTO BTN KELIMUTU
RITUAL ADAT - Mosalaki atau tua-tua adat berjalan menuju Danau Kelimutu untuk melaksanakan ritual Pati Ka, Jumat (30/7). 

POS-KUPANG.COM - KABUT tebal beserta hujan menyelimuti kawasan Danau Kelimutu di Desa Pemo, Kabupaten Ende, Jumat 30 Juli 2021. Pada hari itu digelar ritual adat Pati Ka, memohon agar air Danau Tiga Warna tidak habis.

Sejak tahun 2009, Pati Ka rutin digelar setiap tanggal 14 Agustus. Ritual tersebut menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Ende. Meski sudah digelar lebih awal namun pada 14 Agustus tetap dilaksanakan ritual Pati Ka.

Mosalaki atau tua-tua adat duduk melingkari batu yang diyakini sebagai tempat arwah leluhur. Dalam kondisi basah kuyup, mereka mendarasakan doa permohonan dalam syair adat.

Selanjutnya mereka menyerahkan sesajian, terdiri dari nasi merah, tuak, sirih pinang, hati dan jantung babi yang sudah dimasak. Sesajian diletakkan di atas pelataran batu leluhur. Hal ini menjadi tradisi suku Lio.

Baca juga: Air Danau Kelimutu Ende Surut, Pemprov NTTHarap Dukungan Kementerian LHK Untuk Riset 

Tua adat yang memberi makan leluhur di Danau Kelimutu merupakan Mosalaki Pu'u dari suku-suku yang tergabung dalam Forum Komunitas Adat Taman Nasional Kelimutu (TNK).

Suku yang hadir adalah Pemo, Woloara, Sipijena, Ndito, Aesira Wolomasi, Pu'u Tuga, Nua Noka, Kurulimbu. Berikutnya, Roga, Mbuja Lo'o, Tenda, Wiwi Pemo, Wologai, Detusoko, Wolofeo, Wolomoni, Saga, Kelikiku, Sokoria, Koanara dan Nduaria.

Sedangkan Mosalaki Pu'u yang tidak hadir, yakni Wiwipemo, Mbuja Lo'o, Tenda, Koanara, Nduaria, Wologai, Detusoko, Wolofeo, Wolomoni, Saga, Kelikiku, Sokoria dan Roga. Mereka beralasan cuaca sedang tidak bersahabat.

Adapun permohonan dalam ritual Pati Ka, agar Danau Kelimutu dengan air berwarna hitam atau Tiwu Ata Bupu yang menyusut pada Mei 2021 lalu, debitnya kembali seperti semula.

Baca juga: Permukaan Air Danau Kelimutu Ende Turun Sejak Juni 2019

Masyarakat adat Lio meyakini Tiwu Ata Bupu merupakan tempat bersemayam arwah-arwah orang tua. Dua danau lainnya, yakni Tiwu Atapolo dan Tiwu Ko'o Fai Nuwa Muri.

Tiwu Ata Polo diyakini sebagai tempat berkumpulnya arwah orang-orang yang semasa hidupnya banyak melakukan kejahatan baik terhadap alam maupun manusia.
Sementara Tiwu Ko'o Fai Nuwa Muri merupakan tempat berkumpulnya arwah kaum muda-mudi. Mosalaki juga memohon agar masyarakat Kabupaten Ende diselamatkan dari wabah penyakit.

Ketua Forum Komunitas Adat Penyangga Taman Nasional Kelimutu, Don Watu mengatakan, baru kali ini ritual Pati Ka diselimuti kabut tebal dan hujan. Ia menyebut fenomena alam ini langka. "Kalau yang kita lakukan (Pati Ka) sebelum -sebelumnya, cuacanya selalu cerah," ujar Don.

Menurut Don, menyusutnya air danau Tiwu Ata Bupu dan kabut tebal saat Pati Ka pertanda ada peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi, baik di Ende maupun secara nasional.

Ia mengatakan, permukaan air danau Tiwu Ata Bupu pernah menyusut pada era jatuhnya rezim Soeharto (1998) dan meninggalnya Taufiq Kiemas (2013) setelah sempat mengunjungi Danau Kelimutu.

Menurutnya, menyusutnya air pada dua peristiwa itu tidak separah yang terjadi pada Mei 2021 karena bebatuan di dasar danau sampai kelihatan.

"Kalau Pati Ka kali memang khusus berkaitan dengan air danau yang menyusut dan kita mohon agar masyarakat Kabupaten Ende diselamatkan dari wabah penyakit. Pati Ka tahun ini, 14 Agustus juga tetap akan dilakukan," ujarnya.

Ritual Pati Ka dihadiri Asisten I Sekda NTT Abraham Badu dan pihak Balai Taman Nasional Kelimutu. Pihak Balai Taman Nasional Kelimutu akan mendatangkan tim ahli geologi untuk meneliti surutnya air danau Tiwu Ata Bupu. (oris goti)

Berita Kabupaten Ende Lainnya

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved