Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Sabtu 19 Juni 2021: MELEPASKAN (Matius 6:24-34)
Ajahn Brahm punya cerita menarik. Dalam suatu kejadian, gurunya Ajahn Chah memungut sebuah ranting di pinggir jalan.
Renungan Harian Katolik, Sabtu 19 Juni 2021: MELEPASKAN (Matius 6:24-34)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Ajahn Brahm punya cerita menarik. Dalam suatu kejadian, gurunya Ajahn Chah memungut sebuah ranting di pinggir jalan. Gurunya lalu berbalik dan bertanya, "Brahmavamso, apa ini berat?" Sebelum Ajahn Brahm bisa menjawab, gurunya itu sudah melempar ranting itu ke semak-semak, lalu berkata, "Lihat khan? Itu hanya berat jika kita melekat padanya". Ajahn Brahm membatin, "Ya ... itu hanya berat ketika kita memegangnya. Namun begitu kita melepasnya, tidaklah berat lagi. Sungguh mendalam, sederhana, dan tak terlupakan".
Anda sering melihat para backpacker zaman now? Umumnya punya tas ransel raksasa. Apa saja sih yang mereka bawa? Tentu segala barang keperluan yang dibayangkan. Apa saja. Tak hanya pakaian, tetapi juga kamera dengan lensa telefoto dan tripod. Bahkan tak ketinggalan kompor gas. Tak terbayangkan bagaimana beratnya beban yang mereka pikul. Pastilah akan membuat mereka merasa lelah, sakit selama perjalanan. Padahal tujuannya adalah untuk mengalami kebahagiaan.
Pastilah kita pernah mengalami kelelahan dalam perjalanan hidup kita. Itu terjadi karena kita membawa terlalu banyak hal di "ransel batin" kita. Jika kita tengok sebentar ke dalam ransel itu, apa yang bisa dibuang? Ternyata ada banyak hal yang bisa kita buang tanpa ada dampak buruk yang terjadi. Gubrisan kita mengenai masa lalu dan kekuatiran kita akan masa depan, kiranya menjadi hal-hal pertama yang seharusnya kita buang dan sebenarnya tidak ada hal buruk yang terjadi.
Katakanlah, perihal rasa kuatir. Seluruh perasaan itu dimulai dengan pikiran "bagaimana nanti", "bagaimana kalau" dan berlanjut dengan sesuatu yang diduga-duga akan terjadi, yang sifatnya negatif. Jadi, rasa kuatir adalah mencari-cari kesalahan masa depan. Rasa kuatir adalah apa yang terjadi, jika sesuatu yang buruk terjadi. Rasa kuatir terlarut dalam ketidakpastian masa depan. Maka, pemunah rasa kuatir adalah apa yang terjadi jika itu tidak terjadi. Kebijaksanaannya adalah kalau saja kita selalu ingat bahwa masa depan itu tak pasti, kita tak akan pernah memenuhi pikiran dan mencoba berspekulasi atau meramalkan tentang apa yang bisa saja salah. Rasa kuatir berakhir saat itu juga.
Yesus sangat mengenal hati manusia. Ia tahu, manusia sering kuatir. Ia menyebut kekuatiran yang biasanya menimpa manusia, yang Ia ungkapkan pengajaran-Nya, "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?" (Mat 6:25).
Makanan, minuman, pakaian adalah kebutuhan-kebutuhan pokok kita manusia, yang sering dikuatirkan. Mau makan sei babi atau BPK, muncul kekuatiran apa nggak naikkan kolesterol? Gaun apa sih yang pas ke pesta pernikahan dan memudahkan untuk bergoyang pompa?
Yesus berkata, lepaskan semua kekuatiran. Bahkan seru-Nya tegas,"Janganlah kuatir ...!" Ia bukannya melarang kita untuk memikirkan atau merencanakan apa yang akan kita makan, minum, atau pakai; melainkan Ia melarang untuk "mengkuatirkannya". Persiapan yang bijaksana adalah baik; yang salah ialah kekuatiran yang meletihkan, merongrong dan membuat kita merasa tersiksa.
Kalau kita bermenung sejenak lebih dalam, kita dianugerahi dan memiliki kehidupan. Kehidupan ini lebih berharga daripada makanan dan minuman seberapa pun enak dan bergizi. Diri pribadi, martabat kita lebih penting daripada pakaian "Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian semodis apa pun?" (Mat 6:25).
Kita orang beriman dan murid Yesus. Yang membedakan kita dari orang lain adalah kita berani dan mampu melihat kehidupan ini dengan mata lain, dengan mata ilahi. Dengan iman, kita berani melepaskan kekuatiran, bahkan kepastian sekalipun, dan menggantungkan diri kepada Tuhan, karena kita tahu dan mengerti siapa sebenarnya Tuhan. "Bapamu yang di sorga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu" (Mat 6:32).*
Simak juga video renungan harian katolik berikut:
Akses juga artikel-artikel renungan harian katolik lainnya, klik DI SINI