Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Sabtu 12 Juni 2021: SUMPAH (Matius 5:33-37)

Di kalangan kaum millenial, muncul beragam ungkapan yang memakai kata sumpah dengan pengertiannya sendiri. “Sumpah! Nasi goreng ini enak banget"

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik, Sabtu 12 Juni 2021: SUMPAH (Matius 5:33-37)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Kata "sumpah" cukup sering kita temukan dalam pemakaian sehari-hari. Pada dasarnya secara leksikal, sumpah bermakna janji atau ikrar yang mengindikasikan adanya tindakan atau kewajiban yang harus dilaksanakan setelah mengucap sumpah. Olehnya, sumpah biasa digunakan dalam peristiwa pelantikan di mana orang menyatakan janjinya dengan memanggil Allah sebagai saksinya bahwa ia akan memangku jabatan dan menjalankan tugasnya sesuai janji yang ia nyatakan.

Kini rupanya kata "sumpah" seakan mengalami pergeseran dan perluasan makna. Ada variasi makna yang muncul. Di kalangan kaum millenial, muncul beragam ungkapan yang memakai kata sumpah dengan pengertiannya sendiri. “Sumpah! Nasi goreng ini enak banget, ditambah telur, kubis, dan bakso ikan”. Kata "sumpah" memiliki makna meyakinkan kepada orang lain bahwa nasi goreng tersebut rasanya enak atau benar-benar enak dan menegaskan bahwa makanan yang dimakannya benar-benar enak. Atau, “Ondeee ... sumpah, malem-malem gue lapar bangett”. Di sini kata "sumpah" merupakan pengungkapan perasaan penutur terhadap yang dirasakan pada dirinya, yaitu rasa lapar.

Dalam konteks perkembangan zaman, perluasan makna sebuah kata memang tak terelakkan. Lewat serapan kata asing, pergaulan, interaksi sosial, bisa saja siapa atau kelompok mana pun bisa memunculkan makna baru dari sebuah kata. Proses penerimaan dan penggunaannya tergantung para penutur atau pengguna bahasa. Asalkan tidak dimunculkan makna baru yang mengaburkan bahkan membuat makna asali seakan meredup. Apalagi memberikan penafsiran baru yang melenceng maknanya dengan tujuan kepentingan pembenaran diri.

Saat menyampaikan perintah Allah kepada umat, Musa menggunakan kata-kata yang jelas maknanya. Sebut saja, "Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan" (Kel 20:7 - Perintah ketiga). "Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu" (Im 19:12).

Rumusan kata-kata yang berisi perintah itu, sepintas saja sudah dipahami maksudnya. Bahwa perintah itu melarang sumpah palsu, artinya membuat sesuatu ikrar, lalu melanggarnya.

Tapi orang Farisi yang jago bermain kata, mengubah makna larangan yang keras itu serta membatasinya. Mereka mengalihkan perhatian orang dari makna rumusan kata-kata itu serta keharusan untuk menepatinya ke formula dan penafsiran baru demi kepentingan mereka. Mereka mengajarkan dan menerapkan dalam hidup bahwa kalau bersumpah dengan menyebut nama Allah sembarangan dilarang, maka bersumpah dengan tidak menyebut nama Allah tidak tergolong dosa.

Dengan begitu, mereka boleh saja mengangkat sumpah dan menuntut sumpah dalam soal-soal apa saja, pun dalam hal-hal sepele. Dan, mereka tidak terikat keharusan untuk memenuhi janji yang mereka ikrarkan dalam sumpah, asalkan sumpah itu tidak menyebut nama Allah. Tidak heran formula "demi Tuhan" diganti dengan ungkapan-ungkapan yang kurang berbobot, seperti "demi Taurat", "demi Musa", "demi Bait Suci", dan sebagainya.

Dalam salah satu ucapan celaka terhadap orang Farisi, Yesus menyatakan kejijikan-Nya dan mengecam keras akal bulus mereka. Dalam Kotbah di Bukit, Yesus menyampaikan antitesis-Nya: "Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar" (Mat 5:33-35).

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved