Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Jumat 4 Juni 2021: Soal Hati
Dalam Injil hari ini, Yesus mengoreksi gelar “anak Daud” yang disematkan pada-Nya berdasarkan runutan sejarah Perjanjian Lama.
Renungan Harian Katolik, Jumat 4 Juni 2021: Soal Hati (Mrk 12: 35-37)
Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - Para ahli Taurat tahu bahwa Mesias adalah keturunan Daud. Tulisan-tulisan para Rabi menyatakan bahwa Mesias selalu disebut dengan gelar “anak Daud”. Yesus pun dipanggil dengan gelar tersebut (Mrk 10:46-52). Sebutan tersebut bukan hal yang salah. Yesus tentu tidak menyepelekan gelar “keturunan” itu.
Memang secara hukum, Dia keturunan Daud karena Yusuf memang keturunan Daud (Matius 1:6-16). Namun, gelar itu tidak begitu memadai lagi dan memang tidak tepat. Maka dalam Injil hari ini, Yesus mengoreksi gelar “anak Daud” yang disematkan pada-Nya berdasarkan runutan sejarah Perjanjian Lama.
Gelar “anak Daud” bersifat sangat politis. Raja Daud memang sukses sebagai penguasa. Dia berhasil menyatukan seluruh Israel. Sejak masa pemerintahannya, Israel mulai diperhitungkan oleh bangsa-bangsa di sekitarnya. Maka ketika kejayaan Israel merosot, bangsa Yahudi sangat mengharapkan kehadiran keturunan Daud yang akan mengembalikan kejayaan (politik) Israel dan bangsa Israel akan diperhitungkan lagi di tengah percaturan politik bangsa-bangsa dunia.
Bangsa Yahudi menantikan sosok Anak Daud dalam bayang-bayang idealisme kekuasaan: politisi ulung, panglima yang tak terkalahkan, dan raja di atas segala raja. Maka gelar “anak Daud” sangat bernuansa duniawi, militer, dan politis dalam cara pandang kaum ahli Taurat dan bangsa Yahudi (ST:2018).
Pertanyaan mengenai gelar “anak Daud” merupakan titian bagi Yesus yang selalu berusaha menyadarkan bangsa-Nya agar meninggalkan cara pandang lama tentang Mesias yang akan membebaskan Israel dari penjajahan Romawi. Yesus hendak menginspirasi orang Yahudi agar melihat-Nya sebagai Tuhan dengan hati, merasakan dan mengalami dalam kehidupan yang konkret.
Bahkan Stefan Leks lebih keras lagi mengatakan bahwa bangsa Yahudi sangat picik karena mereduksi Allah sebatas tokoh politik dan panglima perang. Yesus justru mengingatkan kita untuk membebaskan diri dari pandangan sempit mengenai Allah.
Yesus membuka horizon wawasan orang Yahudi bahwa Mesias (Juruselamat) sangat jauh dari cara pikir politik. Mesias adalah Tuhan yang menyelamatkan manusia dari belenggu penjajahan dosa. Allah menjanjikan sosok Mesias atau Sang Juruselamat manusia adalah Tuhan sendiri yang menyelamatkan manusia.
Janji Allah itu terungkap dalam Injil Yohanes: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya. Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya” (Yoh 1:1-2,10-11).
Orang Yahudi waktu itu belum tahu Injil Yohanes (Perjanjian Baru). Kitab suci mereka hanya Perjanjian Lama. Mereka juga belum tahu apalagi paham tentang relasi Allah Tritunggal: Allah Bapa, Allah Putera, Allah Roh Kudus. Namun Yesus berusaha menjelaskan hal ini lewat pengajaran-Nya dan perbuatan ajaib, mukjizat yang menakjubkan orang Yahudi.
Mestinya, para ahli Taurat mengerti tanda Mesias yang hadir secara historis dalam diri manusia Yesus. Mayoritas ahli Taurat menutup pintu hatinya karena bersikukuh dengan kebenaran sendiri. Namun tidak semua ahli Taurat keras hati. Nikodemus mau introspeksi diri dengan menerima penjelasan Yesus (RK:2020).
Jadi, persoalannya terletak pada sikap hati. Apakah kita mau terbuka terhadap rahmat Allah dengan kiblat keselamatan kekal atau nekat bertahan dengan kebenaran sendiri yang berarti menutup pintu jalur keselamatan.
Mari kita gunakan hati nurani dan akal sehat untuk peka membaca kehadiran Kristus dalam sejarah hidup dan menjadikan diri kita sarana keselamatan bagi orang lain. *
Simak juga video renungan harian katolik berikut:
Akses artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI