Peran Wartawan Sebagai Guru Bangsa Perlu Kerja Lebih Keras

peserta 15 orang yang adalah wartawan terpilih dari media nasional dan lokal di sejumlah provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia

Penulis: Teni Jenahas | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/ISTIMEWA
Pemateri pelatihan jurnalistik program Fellowship Jurnalisme Pendidikan, Hasudungan Sirait dan Nurcholis MA Basyari.  

Peran Wartawan Sebagai Guru Bangsa Perlu Kerja Lebih Keras

POS KUPANG.COM| ATAMBUA--Wartawan atau jurnalis senantiasa memposisikan kedudukannya sebagai guru bangsa. Untuk itu, peran wartawan tidak hanya menjelaskan duduk persoalan secara lengkap dan terperinci. Wartawan tidak hanya membentangkan benang masalah kepada pembaca tetapi juga menjajaki jalan keluar atau upaya solusi

Memainkan peran sebagai guru bangsa tidaklah mudah. Wartawan butuh kerja lebih keras lagi untuk menghimpun bahan (news gathering) secara lengkap lewat riset data, wawancara dan observasi. Pengumpulan bahan untuk indepth report membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan dengan liputan biasa. 

Hal ini disampaikan Hasudungan Sirait ketika tampil sebagai pemateri "Merancang Liputan Mendalam" dalam pelatihan jurnalistik program Fellowship Jurnalisme Pendidikan yang diselenggarakan Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), Kamis 3 Mei 2021. 

Pelatihan ini dilaksanakan secara daring dengan jumlah peserta 15 orang yang adalah wartawan terpilih dari media nasional dan lokal di sejumlah provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia. 

Menurut Hasudungan, liputan mendalam atau indepth report berbeda dengan liputan biasa. Liputan mendalam mempunyai ciri-ciri, mulai dari pengertian indepth report, merancang liputan, struktur laporan sampai pada langkah-langkah peliputan.  

Kata dia, indepth report menggunakan pendekatan multidemensi. 

"Apapun topiknya, kita melihatnya dari pelbagai jurusan : ekonomi, sosial, budaya lingkungan, psikologi, pendidikan, politik dan lainnya. Pada dasarnya setiap permasalahan itu memang multidimensional", terang jurnalis senior ini. 

Selain itu, liputan mendalam juga harus menjelaskan duduk persoalan secara lengkap dan terperinci. Fakta-fakta yang masih tercecer mesti dihimpun dan disusun kembali. Kemudian wartawan tidak hanya membentangkan benang masalah kepada pembaca tetapi juga menjajaki jalan keluar atau upaya solusi. 

Menurut Hasudungan, liputan mendalam merupakan pekerjaan besar dan banyak hal yang wartawan lakukan sekaligus sehingga dibutuhkan outline atau desain liputan sebagai alat bantu.

Selain alat bantu, outline juga sebagai catatan pertanggungjawaban yang menjadi pegangan bagi siapa saja yang terlibat. Dengan demikian, atasan tidak serta merta menyalahkan wartawan ketika hasil liputannya ada yang kurang. 

Lanjutnya, struktur laporan indepth report terdiri dari cerita utama dan cerita pendukung. Cerita utama merupakan gambaran persoalan secara garis besar sedangkan cerita pendukung berupa rincian cerita utama yang urutan kemunculannya berdasarkan urgensi. Hasil liputan bisa disajikan satu kali dan juga bisa serial. 

Ciri lain indepth report adalah trend isu bisa tak baru atau tanpa news, tujuan pewartaan kalau bukan update memberi warna baru.

Pekerjaan di lapangan mengikuti TOR, posisi peliput proaktif, langkah peliputan adalah riset data, wawancara dan observasi. Nara sumber sesuai derajat kompetensi, wujud sajian terdiri dari beberapa tulisan, menelisik pelbagai aspek dan sesuai standar jurnlisme serta memiliki tesis. 

Di hari yang sama, Direktur Pelaksana GWPP, Nurcholis MA Basyari menyampaikan materi "Rambu-rambu Etika dan Hukum Pers Indonesia.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved