Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Kamis 3 Juni 2021: MENGAPA CINTA?

Seorang ratu tengah melihat keluar dari jendela istananya ke arah Buddha yang sedang berjalan untuk menerima dana makanan di kota.

Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik, Kamis 3 Juni 2021: MENGAPA CINTA? (Markus 12:28b-34)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Seorang ratu tengah melihat keluar dari jendela istananya ke arah Buddha yang sedang berjalan untuk menerima dana makanan di kota. Raja melihatnya dan menjadi cemburu terhadap kesetiaan sang ratu kepada sang pertapa agung. Dia memarahi sang ratu dan menuntutnya untuk mengatakan siapa yang lebih dicintai sang ratu: Buddha atau suaminya.

Sang ratu adalah pengikut Buddha yang setia, tetapi pada saat itu anda harus sangat hati-hati jika suami anda adalah seorang raja. Hilang kepala berarti hilang kepala betulan. Sang ratu ingin menjaga kepalanya tetap utuh, maka ia menjawab dengan kejujuran yang tak terbantahkan, "Saya mencintai diri saya sendiri lebih dari kalian semua".

Ajahn Brahn menulis kisah itu, karena menurutnya, cinta sejati itu adalah cinta yang tidak mementingkan diri sendiri. Kita hanya peduli kepada orang lain. Kita berkata kepada mereka, "Pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu, apa pun yang kamu lakukan", dan kita bersungguh-sungguh dengan perkataan itu. Kita hanya ingin mereka bahagia.

Plato membagikan refleksinya. Cinta itu daya manusia yang memiliki keterarahan kepada sang Baik. Orang yang mencintai, mengejar Kebaikan, mengarahkan diri untuk memeluk Kebaikan itu sendiri. Karena cinta, ia menanggalkan segalanya untuk mendapatkan Kebaikan. Ia tidak berada di wilayah kekosongan. Sebaliknya, ia mengalami kepenuhan dirinya.

Meister Erkhart, mistikus, berbicara tentang cinta sebagai persona dari Allah sendiri. Allah datang dan membuatnya tidak berkutik selain menyembah dan memasuki misteri-Nya. Kehadiran Allah bukan kehadiran yang membiarkan. Kehadiran-Nya menenggelamkan aku. Ia melingkupi aku.

Kalau begitu, cinta tak mungkin diasalkan dari ciptaan. Cinta yang demikian pasti berasal dari sang Pencipta. Saat menciptakan manusia, tak mungkin sang Pencipta hanya meniupkan nafas kehidupan. Ia pasti meniupkan pula Roh Cinta ke jiwa manusia. Sebab, Cinta itulah hidup manusia. Tanpa Cinta, manusia mati atau setengah mati.

Cinta itulah yang membuat manusia bergerak, berjalan menuju kesempurnaannya, yaitu kesatuan dengan Tuhan dan sesama. Kesatuan bukan fisik, melainkan menyeberangi realitas fisik ke keabadian.

Tidaklah heran saat ditanya seorang ahli Taurat tentang "Hukum manakah yang paling utama?" (Mrk 12:28b); Yesus sigap dan tegas menjawab, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mrk 12:30-31).

Bagi kita, nampak jelas bahwa frase "kasihilah Tuhan dan kasihilah sesama" mengungkapkan cinta itu indah dalam narasi kehidupan. Bukan dalam definisi, bukan abstraksi, bukan dalam quote atau kata-kata indah. Pesona cinta ada dalam penyerahan diri kepada Tuhan, Sang Sumber Cinta itu sendiri dan dalam pemberian diri kepada sesama.

Olehnya, kita berusaha untuk menanggapi perkataan Yesus itu dengan kehidupan kita yang penuh cinta. Hidup kita adalah bersama-sama dengan Tuhan, Sang Cinta. Dalam arti tertentu, kita tidak lupa untuk bertemu dengan-Nya dalam doa. Bila kita berdoa, dan doa itu hidup dalam batin kita, maka kita berpegang pada hukum pertama. Mengapa? Sebab melalui doa, kita menerima diri seadanya; kita mengakui bahwa kita ada dan hidup oleh Tuhan, Sang Cinta.

Berikutnya, kita tak takut apa pun untuk memberikan diri, membagi diri. Kita tak menghiraukan kehilangan apa pun, bahkan apa yang paling berharga dalam hidup; sebab yang paling berharga adalah cinta. Karena cinta, kita terdorong untuk mengulurkan bantuan kepada yang susah. Dengan cinta kita bekerja, karena cintanya kita kepada keluarga. Karena cinta kita berkarya dan melayani. Karena cinta pula kita beristirahat.*

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Akses artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved