Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Kamis 3 Juni 2021: Melampaui Kata-kata

Saya tertegun menyaksikan dahsyatnya penghormatan seluruh dunia kepada Muder Teresa dari Kalkuta dan Lady Diana saat prosesi kematian mereka.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Kamis 3 Juni 2021: Melampaui Kata-kata (Mrk 12:28b-34)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Saya tertegun menyaksikan dahsyatnya penghormatan seluruh dunia kepada Muder Teresa dari Kalkuta dan Lady Diana saat prosesi kematian mereka. Ada energi kemanusiaan yang begitu menggelora mengisi relung hati. Energi rohani itulah yang menyatukan seluruh dunia untuk menghormati dua sosok perempuan inspiratif ini.

Kata-kata mereka, betapa pun sangat sederhana, tapi bermakna. Orang merindukan suara mereka. Kata-kata mereka telah menjadi kekuatan tindakan kasih lintas batas. Perbuatan kasih telah melampaui kata-kata sesakral apa pun.

Orang mendengarkan kata-kata dua perempuan ini menggema dahsyat dalam perbuatan kasih menyapa orang-orang tak terpandang dan memberi optimisme hidup kepada sesama yang tinggal menghitung detik kematian.

Bagi kedua sosok perempuan “cantik” ini, kata-kata, ajaran Yesus, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mrk 12: 30-31) telah menjelma jadi tindakan konkret.

Keduanya menerobos zona nyaman hidup membiara dan istana kerajaan dan masuk ke dalam dunia yang dianggap paling kotor lalu terlibat dalam tindakan kasih. Keterlibatan kasih ini menggetarkan hati. Tindakan kasih itu ibarat magnet yang memesona nurani. Ia menjadi peringatan bagi semua orang bahwa hidup itu bermakna ketika “di-ekaristi-kan” bagi orang lain. Hidup dengan segala kelebihan akan menjadi lebih nikmat ketika dipersembahkan dengan hati tulus penuh kasih bagi sesama.

Teladan hidup sarat kasih itulah yang membuat hidup kedua orang ini begitu segar. Mereka benar-benar menjadi “Bait Allah” yang mengalirkan air untuk menyegarkan hidup sesama yang gersang dibakar terik zaman. Semua orang berebut menjamah tangan mereka. Orang-orang berlomba mengabadikan senyum mereka. Kematian - yang bagi banyak budaya adalah tragedi - justru menjadi perayaan penuh sukacita dan kegembiraan. Mereka tetap hidup meski jasad mereka terbujur kaku di altar. Kasih tulus adalah kehidupan abadi. Juga ketika kematian telah merenggut mereka.

Orang Latin punya satu ungkapan yang indah: verba movent, exempla trahunt. Kata-kata menggerakkan tapi teladan hidup jauh lebih menarik. Orang boleh bertahan berjam-jam mendengarkan sebuah pidato yang menggetarkan rasio. Tapi teladan dan tindakan kasih mengabadi di hati. Pembicara yang hebat terkenang saat kata-katanya “berguna.” Pengamal kasih setia menginspirasi sepanjang hidup.

Selama masa pandemi Covid-19 ini, kata-kata peringatan untuk menjaga protokol kesehatan membandang di ruang publik. Semuanya baik untuk menaklukkan keangkuhan diri yang bisa menjadi mudarat bagi orang lain.

Kata-kata itu harus lebih menggerakkan kita untuk lebih peka membaca “tanda-tanda zaman” yang menuntut tindakan kasih kepada orang lain. Kita terbuka hati melihat tetangga, saudara, rekan kerja dan masih banyak orang lain yang membutuhkan uluran tangan kasih.

Kasih, betapa pun kecil dan sederhana, akan membuat orang lain “tersenyum” seumur hidupnya. Dan kita, merasakan getaran yang melapangkan hati. *

Akses juga artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved