Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Selasa 1 Juni 2021, Peringatan St. Yustinus, Martir: PUBLIC ENEMY
Menjadi seorang "public enemy" adalah hal yang tidak menyenangkan dan sama sekali tidak diinginkan oleh satu orang pun.
Renungan Harian Katolik, Selasa 1 Juni 2021, Peringatan St. Yustinus, Martir: PUBLIC ENEMY (Markus 12:13-17)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - "Public enemy", Apa artinya? Googling sejenak, hasil yang didapatkan, istilah ini merupakan nama grup musik hip hop di Amerika, dan juga judul film cinema box office (public enemies) yang dibintangi Johnny Depp tahun 2009. Keren! Grup musik Public Enemy (PE) itu ternyata menuai prestasi, menyandang predikat "public enemy". Itu adalah label suatu bentuk seni dan produk kreativitas.
Menelusur arti kata yang sebenarnya, "public enemy" itu musuh publik, musuh masyarakat. Ini lebih sebagai suatu julukan atau predikat hitam yang diberikan atau dikenakan kepada seseorang atau sekelompok orang karena perbuatan destruktif yang pernah dilakukan dan merugikan orang lain. Atau, karena sikap dan perilaku orang tersebut yang negatif dan tidak disukai. Julukan ini cukup membuat orang yang mendengarnya minggir, bukan karena sekedar takut, ciut nyali; tetapi cenderung karena tak ingin tertular aura negatif, tak ingin mendapat masalah; mending ngacir, menyingkir sebisa mungkin.
Menjadi seorang "public enemy" adalah hal yang tidak menyenangkan dan sama sekali tidak diinginkan oleh satu orang pun. Tapi pada kenyataannya, ada banyak orang di luar sana telah menjadi "public enemy". Tak hanya preman pasar, ormas tertentu, yang melakukan aksi pemalakan para pedagang atau sopir; melainkan juga artis, politikus dan public figure, karena ucapan dan perilakunya yang nyleneh.
Tragisnya, orang baik- baik pun bisa dengan mudah dijadikan "public enemy", hanya karena ucapannya yang bertolak belakang dengan keinginan publik. Bisa disebut sebagai contoh, Alissa Wahid, salah satu puteri Gus Dur. Gara-gara mengomentari tes wawasan kebangsaan KPK, ratusan kritik dan cacian mampir ke kolom twitter-nya. Padahal itu adalah pendapat pribadinya. Sah-sah saja dalam iklim demokrasi.
Abad ini media sosial memberi ruang tanpa batas untuk memperluas interaksi sosial warganet. Keaktifan dan intensitas warganet sangat tinggi, terutama di platform Facebook, Twitter, Youtube, dan Instagram. Berbagai hal dan informasi pribadi dibagikan di media sosial tanpa sungkan dan ekspektasi privasi. Bahkan kebiasaan tersebut dapat menjadi sumber penghasilan, sebagaimana dialami oleh para influencer (pemengaruh) media sosial. Akibatnya, media sosial pun bisa dipakai untuk menilai dan menghakimi orang lain. Lewat media sosial, seorang warganet bisa dengan gampang memengaruhi warganet lainnya untuk menjadikan seseorang atau sekelompok orang yang tidak dia suka sebagai "public enemy".
Seandainya Yesus tampil di dunia zaman ini, hampir pasti para tokoh penting dan terkemuka agama dan tua-tua masyarakat Yahudi membangun strategi untuk memengaruhi diskursus dan memainkan sentimen kebencian publik terhadap Yesus. Para konsultan sosial politik dan buzzers pasti dibayar dan digunakan oleh mereka sebagai pasukan untuk membangun citra dan karakter Yesus yang negatif. Alhasil, jutaan warganet dengan mudah terperangkap dalam sekejap untuk bersama menjadikan Yesus sebagai "public enemy".
Penginjil Markus menyajikan kisah 2000 tahun yang lalu. Beberapa orang Farisi dan Herodian disuruh untuk menjerat Yesus dengan mengajukan pertanyaan, "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" (Mrk 12:13.14b).
Sebenarnya ada diskrepansi di kalangan Yahudi tentang pajak. Kebanyakan orang Yahudi memang membenci pajak dengan segenap hati. Tapi kaum Herodian mendukung untuk membayar pajak kepada penjajah Romawi. Orang-orang Farisi mentolerirnya. Kaum Zelot membenci dan melawannya dengan gerakan politik yang keras.
Tapi seperti kata Lord Palmerston, "We have no eternal allies, and we have no perpetual enemies. Our interests are eternal and perpetual, and those interests it is our duty to follow". Artinya kira-kira demikian, tidak ada teman atau musuh abadi dalam politik. Yang ada kepentingan abadi. Mereka yang ingin abadi dalam dunia politik dituntut fleksibel dalam mengikuti jalan kepentingan abadi’’. Maka, oleh para tokoh dan tua-tua Yahudi, diskrepansi diabaikan, perbedaan pandangan ditanggalkan. Semua menyatu dalam kepentingan yang sama, yakni melihat Yesus sebagai "public enemy". Yesus harus dijerat dan disingkirkan dengan cara dan jalan apa pun.
Pesan apa untuk kita? Apakah kita dilarang untuk menjatuhkan keputusan terhadap yang jahat? Tidak! Justru sebaliknya, tugas kita sebagai murid untuk membentuk hati nurani dunia. Dan, ini yang kiranya sungguh dibutuhkan di zaman kita ini, di mana tapal batas antara yang baik dan yang buruk sudah hampir dihapus bersih oleh kesadaran manusia, di mana yang baik dikatakan buruk dan yang buruk dikatakan baik, yang terang dikatakan gelap dan yang gelap dikatakan terang.
Yang diwartakan penginjil Markus dengan kisah yang dialami Yesus adalah: kita tidak boleh terjebak jatuh ke dalam watak menjadikan orang lain sebagai musuh, seberapa hitam pribadinya. Apalagi dengan berbagai cara memengaruhi orang lain untuk memiliki sikap dan pandangan yang sama seperti kita. Belum pernah ada seorang, dan tidak akan ada seorang yang jatuhnya sekian dalam sehingga tangan Tuhan tidak dapat menjangkaunya lagi, dan cinta kasih Tuhan tidak dapat merangkulnya lagi.
Kita tidak mempunyai hak untuk tidak menerima dan mencintai serta mempercayai apa yang dicintai dan dipercayai Tuhan. Maka, tentu kita tak dibenarkan melakukan tindakan bersekongkol dalam kepentingan untuk menjerat dan menjatuhkan orang lain, apalagi atas dasar ketidaksukaan dan kebencian.*
Simak juga video renungan harian katolik berikut:
Akses artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI