Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Senin 31 Mei 2021: KUNJUNGAN

Di beberapa wilayah di Flores, bulan Mei sebagai bulan Maria dimeriahkan dengan acara mengarak arca Bunda Maria dari lingkungan ke lingkungan

Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik, Senin 31 Mei 2021: KUNJUNGAN (Lukas 1:39-56)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Di beberapa wilayah di Flores, bulan Mei sebagai bulan Maria dimeriahkan dengan acara mengarak arca Bunda Maria dari lingkungan ke lingkungan, kampung ke kampung, stasi ke stasi. Setelah misa pembukaan di gereja paroki pada tanggal 1 Mei, arca Bunda Maria lalu diarak ke salah satu kampung atau stasi.

Dijemput dengan acara meriah, kemudian ditakhtakan di kampung atau stasi itu sesuai jatah hari. Selanjutnya akan diarak lagi ke kampung atau stasi berikut dengan acara pelepasan dan penjemputan tak kalah meriahnya. Begitulah seterusnya hingga penutupan acara pada tanggal terakhir di bulan Mei.

Praktek devosional yang luar biasa ini entah dimulai sejak kapan. Tentu bermaksud untuk menumbuh-kembangkan iman umat. Iman setidaknya mesti dirayakan. Tapi praktek ini pun tidak bisa tidak punya kaitan yang erat dengan pesta St. Perawan Maria Mengunjungi Elisabeth yang memang dirayakan pada tanggal 31 Mei.

Maria mengetahui dari Malaikat bahwa saudaranya Elisabet mengandung seorang putera pada umur tuanya. Ini sudah menjadi ajakan yang cukup bagi Maria untuk mengunjungi dan melayani saudaranya itu. Jawaban Maria, "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan" (Luk 1:38), pada dasarnya mempunyai dimensi horizontal. Kalau Maria hamba Allah dan pelayan Injil-Nya, serentak itu ia juga pelayan bagi sesamanya.

Kita mendapati Maria tidak hanya mengunjungi dan berada di rumah Zakaria dan Elisabet, tetapi juga di Kana saat pesta perkawinan. Ia ikut serta membantu bersama ibu-ibu yang lain dan dengan jeli mengatakan kepada Yesus, "Mereka kehabisan anggur" (Yoh 2:3). Entah berapa kali Maria merasakan undangan rahmat Allah untuk bertandang dan melayani mereka yang membutuhkan.

Teringat saat di atas salib, sambil menunjuk ke Yohanes, Yesus telah berkata kepada Maria, "Ibu, inilah, anakmu!". Maria pasti memahami apa arti kata-kata penyerahan Yesus itu. Bukan hanya untuk menguatkan dan meneguhkan dia, karena ada Yohanes, murid yang dikasihi yang menggantikan Yesus yang mati di salib. Tetapi juga kata-kata itu pun berarti permintaan Yesus agar dia untuk menjadi ibu bagi Yohanes dan bagi semua kita yang dikasihi Yesus. Maka, Maria pasti mengunjungi kita dari rumah ke rumah. Ia hadir saat ada pertemuan dan arisan keluarga atau marga. Ia pasti ada di samping ranjang saat kita terbaring lemah dan menderita sakit. Ia mengunjungi kita, melihat kekurangan kita dan pasti berkata, "Mereka kehabisan anggur".

Maria datang ke rumah Elisabet untuk membawa warta gembira dan damai. "Ia masuk ke rumah Zakaria dan memberi salam kepada Elisabet" (Luk 1:40). Tapi Maria tak datang sendirian. Ada Yesus dalam rahimnya. Jadi, Maria datang membawa dan bersama Yesus. Bahkan Yesus-lah yang sebenarnya mendorong dan membawa Maria untuk mengunjungi Elisabet. Tak heran terkait ini, penginjil Lukas membuat kita benar-benar sadar bahwa salam yang diucapkan Maria memiliki kekuatan dahsyat, merupakan berkat yang paling bermakna dan berdaya guna. Bayangkan, "ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus" (Luk 1:41).

Dalam Perjanjian Lama, Tuhan bersemayam dalam Tabut Perjanjian. Tabut itu diusung oleh bangsa Israel dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi dalam Perjanjian Baru rupanya Tuhan lebih senang tinggal dalam Tabut Perjanjian yang hidup, yaitu manusia dan itu dimulai dengan Maria. Maria, seorang perawan, telah menjadi Tabut Perjanjian yang baru.

Tabut memang lambang, simbol kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya, yang menyertai, membimbing dan melindungi bangsa Israel. Raja Daud dahulu pernah menari kegembiraan di depan Tabut dengan seruan kemenangan. Dan, Maria, rahimnya, hatinya, telah dijadikan Tabut oleh Tuhan. Seruan kegembiraan Daud hampir secara harafiah diulangi oleh Elisabet di depan Maria, Tabut Perjanjian Baru! "Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan" (Luk 1:44).

Dengan Maria, Allah tak lagi mendiami suatu Tabut atau kenisah, melainkan Allah mulai mendiami "rahim" manusia yang hidup. Allah kini berdiam dalam Gereja-Nya yang hidup, yaitu umat-Nya. Bahkan kini Allah pun berdiam dalam diri saya, anda, dia, mereka, sebagai kenisah, Tabut yang hidup.

Pandemi Covid-19 mengakibatkan kita belum bisa saling mengunjungi, atau bertandang ke rumah tetangga sebelah. Kita saksikan menjelang hari raya Idul Fitri dan liburan bersama kemarin, diberlakukan larangan mudik dan penjagaan ketat di perbatasan antar daerah, antar provinsi. Tak cuma itu. Silaturahmi pun disarankan by video call atau media sosial lainnya.

Iklan rokok sebuah merk terkenal yang terpasang dengan baliho besar di lokasi strategis sungguh menarik, "Pintu rumah tertutup. Pintu hati terbuka". Ya ... pintu hati kita memang mesti selalu terbuka untuk bisa menerima kunjungan Maria yang datang bersama Yesus. Pintu hati, "rahim" kita mesti senantiasa terbuka, karena Yesus ingin ada di dalam, sehingga setiap kata, ucapan, pesan whatsapp, tampilan videocall, sungguh memberikan kegembiraan di hati orang lain.*

Akses artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved