Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Sabtu 29 Mei 2021: Rendah Hati

Menurut Romo Mangunwijaya, orang cerdas bukanlah orang yang bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan (guru) kepadanya

Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Sabtu 29 Mei 2021: Rendah Hati (Mrk 11:27-33)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Menurut Romo Mangunwijaya, orang cerdas bukanlah orang yang bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan (guru) kepadanya, melainkan orang yang mampu melahirkan pertanyaan murni dari kedalaman hatinya. Jawaban, apalagi dalam ujian sekolah, bisa saja dan umumnya, merupakan hafalan lanjutan dari pengetahuan guru.

Sementara orang yang bertanya biasanya, digerakkan oleh rasa ingin tahu yang besar tentang hal yang benar, murni dan baik untuk memperkaya khazanah batinnya. Pertanyaan yang diajukan dengan medium bahasa sederhana adalah ekspresi dari kehausan jiwa akan sesuatu yang menjadi sahabat jiwa yaitu keaslian, kemurnian, kebenaran dan kebaikan. Orang bertanya kepada seseorang yang ia percaya mampu memuaskan kehausan rohaninya akan pengetahuan.

Kita tahu, orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan kaum tua-tua adalah kelompok terpelajar dan masuk barisan golongan elite dalam bangsa dan agama Yahudi. Mereka tahu bahwa bangsa Yahudi sedang berada dalam penantian panjang akan sosok Mesias yang menjadi pembebas. Tetapi posisi sosial yang tinggi dalam masyarakat membuat kelompok elitis ini hidup dalam gelimang kemewahan yang memiliki kaitan erat dengan praktik-praktik korupsi atas nama agama sebagaimana yang dilawan Yesus melalui tindakan pengusiran dari halaman Bait Allah (Mrk 11:11-26).

Konteks sebagai kelompok elite agama Yahudi yang didukung pengetahuan yang mumpuni sebenarnya memberi mereka basis untuk tahu bahwa Mesias itu sudah hadir dalam sosok Yesus. Tapi sosok Yesus menjadi sangat kontroversial karena Yesus tampil dengan penuh kuasa dan wibawa yang melampaui “kebodohan” mereka. Seandainya kelompok elite agama Yahudi ini sedikit rendah hati saja, mereka akan mengakui dengan benar bahwa Yesus itulah Mesias yang dinanti-nantikan.

Yesus yang mereka tunggu ternyata sangat jauh dari keinginan hari mereka. Hidup dan ajaran Yesus sangat mengganggu kenyamanan hidup sosial dan menggugat kemapanan praktik keagamaan yang tidak benar. Ketika orang banyak berbondong-bondong mengikuti Yesus, orang Farisi, ahli Taurat dan kaum tua-tua mulai mereasa kesepian dalam hidup keagamaan. Ajaran Yesus menjadi kritik keras yang bisa saja mampu mengosongkan umat dari mereka.

Pertanyaan mereka kepada Yesus, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepadamu sehingga Engkau melakukan hal-hal itu” (Mrk11:28) sesungguhnya menarasikan iman mereka yang disembunyikan di bawah tembok keangkuhan diri. Mereka tentu tahu bahwa kuasa dahsyat yang dimiliki Yesus tidak mungkin berasal dari manusia. Lebih repot lagi, mengapa kuasa seperti Yesus itu tidak bisa mereka hadirkan?

Maka pertanyaan terkait kuasa dan pemberi wewenang kepada Yesus di atas tidak lahir dari kehausan jiwa untuk berziarah dalam kerendahan hati mencari kebenaran dan kebaikan. Pertanyaan itu merepresentasikan keresahan, kegalauan dan ketakutan akan kuasa dan posisi sosial yang semakin terancam oleh kehadiran, ajaran dan karya-Nya.

Dalam situasi tersudut seperti ini, masih pentingkah keangkuhan diagungkan? Masih relevankah kita deretkan lagi pertanyaan-pertanyaan konyol dan bodoh yang sesungguhnya tidak penting di hadapan Tuhan? Apakah pantas kita menyombongkan keterbatasan kita di hadapan Tuhan yang Mahakuasa dan Mahatahu?

Di hadapan Tuhan yang Maha Segalanya, kita hanyalah debu yang mudah saja diterbangkan angin. Kesadaran sebagai debu tanah harusnya membuat pertanyaan-pertanyaan konyol dan bodoh hilang tanpa bekas di jiwa. Kita tunduk menyembah-Nya. Kita membiarkan diri kita dikuasai sepenuhnya oleh Dia.

Santo Agustinus mengatakan, kerendahan hati adalah jalan yang pasti menuju Tuhan. Ia menulis, “Pertama-tama, kerendahan hati, kemudian, kerendahan hati dan yang terakhir, kerendahan hati. Kerendahan hati mampu mengubah seorang manusia menjadi malaikat.”*

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Akses artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved