Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Sabtu 29 Mei 2021: Hikmat Ilahi dan Orientasi Nilai Budaya

Umumnya setiap masyarakat memiliki orientasi nilai budaya. Disadari atau tidak, hidup dan perilaku manusia dipengaruhi oleh pandangan hidup tertentu

Facebook/Florens Maxi Un Bria
RD. Maxi Un Bria 

Renungan Harian Katolik, Sabtu 29 Mei 2021: Hikmat Ilahi dan Orientasi Nilai Budaya (Markus 11 : 27-33)

Oleh: RD. Maxi Un Bria

POS-KUPANG.COM - “Tertawa adalah sinar matahari di rumah” demikian tulis William Thackeray ( 2019). Semua anggota keluarga dan komunitas apa pun bisa tertawa dan melepaskan senyum ikhlas karena saling memahami perbedaan perilaku, budaya dan latar belakang.

Umumnya setiap masyarakat memiliki orientasi nilai budaya. Entah disadari atau tidak, hidup dan perilaku manusia dipengaruhi oleh pandangan hidup tertentu yang diyakini. Adapun orientasi nilai budaya yang dimiliki, berkaitan dengan hakikat hidup dan kerja manusia, ruang dan waktu, hubungan manusia dengan Allah, sesama dan alam semesta ( Florence Kluckhohn 1961, dalam Liliweri, 2016 ).

Bagi komunitas umat beragama, orientasi hubungan manusia dengan Allah selalu menjadi dasar dan sumber hikmat untuk mengembangkan dan menghidupi model relasi dengan sesama dan alam semesta. Komunitas Kristiani meyakini bahwa sumber segala hikmat, berkat dan kekuasaan berasal dari Allah. Sebagaimana tertulis, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan dari surga” ( Yohanes 3 : 27 ).

Diskursus di antara para imam kepala dan orang Yahudi tentang sumber kekuasaan yang dimiliki oleh Yesus dalam mengerjakan segala mukjizat dan pengajaran bergerak dalam dua pertanyaan berikut. Apakah kuasa Yesus berasal dari Allah atau dari manusia?

Bagi orang beriman yang dituntun roh Ilahi meyakini bahwa Yesus memperoleh segala kekuasaan dan hikmat dari Allah. Sementara bagi sebagian orang yang mengandalkan rasionalitas dan orientasi nilai yang lain mungkin saja memiliki pemahaman yang berbeda.

Namun Putera Sirakh menulis, “Aku hendak bersyukur kepada-Mu Ya Tuhan, dan memuji nama Tuhan. Pada masa mudaku, sebelum mengadakan perjalanan, kebijaksanaan telah kucari dengan sungguh-sungguh dalam sembahyangku. Hatiku bersukacita atas kebijaksanaan, karena bunganya yang bagaikan buah anggur masak. Kakiku melangkah di jalan yang lurus dan sejak masa mudaku telah kuikuti jejaknya” ( Sirakh 51 : 12-15 ).

Putera Sirakh bersyukur karena menemukan sukacita dan damai sejahtera karena berjalan menurut hikmat kebijaksanaan yang dicarinya pada Tuhan. Putera Sirakh meyakini bahwa titah Tuhan itu tepat dan menyukakan hati.

“Hukum Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan teguh, memberikan hikmat bagi orang bersahaja. Hukum Tuhan lebih indah dari pada emas bahkan dari pada emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu-tetesan dari sarang lebah” (Mzm 19: 8 , 11).

Dalam konteks masyarakat mutlikultural dewasa ini, perbedaan budaya dan keunikan tetap menjadi anugerah yang dapat memberikan kontribusi nilai bagi hidup bersama. Karena itu kompentensi komunikasi antar dan lintas budaya dapat membantu manusia untuk saling memahami dan hidup berdampingan secara damai.

Putera Sirakh mengingatkan manusia agar berkenan memohonkan hikmat dari Allah sebelum berlangkah dan melakukan kegiatan apa pun, agar mampu membaca dan menemukan nilai-nilai kebaikan universal dalam realitas dunia yang beranekaragam.

Selamat mengalami suasana akhir pekan dalam terang kebijaksanaan yang menggembirakan jiwa. Tetap tersenyum penuh syukur dan memancarkan kesejukan dan damai karena berjalan dalam terang hikmat Ilahi.

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Akses artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved