Breaking News:

Butuh Ritual Adat Terkait Turunnya Permukaan Air Danau Tiga Warna Kelimutu ? Ini Kata Vinsen

Butuh Ritual Adat Terkait Turunnya Permukaan Air Danau Tiga Warna Kelimutu ? Ini Kata Vinsen

Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Ferry Ndoen
Foto TNK untuk Pos Kupang
ilustrasi: Danau Kelimutu 

Butuh Ritual Adat Terkait Turunnya Permukaan Air Danau Tiga Warna Kelimutu ? Ini Kata Vinsen

POS-KUPANG.COM | ENDE - Selain melakukan penelitian secara ilmiah, lanjut Vinsen, Pemda Ende dan instansi terkait juga perlu menggandeng masyarakat dan tetua adat Lio untuk menggelar seremoni atau ritual adat terkait fenomena turunnya permukaan air di danau Kelimutu kawah tiga, Selasa (25/5/2021).

Vinsen katakan, keberadaan Danau Kelimutu tidak lepas dari kepercayaan dan kearifan lokal suku Lio.

Danau Kelimutu kawah tiga yang permukaan airnya turun dalam bahasa setempat 'Tiwu Ata Mbupu'.

Suku Lio percaya bahwa Danau Kelimutu menyimpan aura mistis karena merupakan tempat persemayaman terakhir dari jiwa-jiwa orang yang meninggal.

Danau dalam bahasa Lio, Tiwu. Kelimutu merupakan gabungan dari dua kata yakni Keli yang artinya gunung dan Mutu yang artinya mendidih.

Ayam Hutan/Ayam hutan terlihat di TN Kelimutu pasca penutupan TN Kelimutu.
Ayam Hutan/Ayam hutan terlihat di TN Kelimutu

Kawah satu, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal.

Kawah dua "Tiwu Ata Polo" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan baik terhadap alam maupun manusia.

Sedangkan kawah tiga "Tiwu Ata Mbupu" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua atau lansia.

Vinsen mengatakan, selama ini memang sering dilakukan seremoni adat 'Pati Ka' setiap tahun. Namun seremoni adat terkait dengan kejadian penurunan permukaan air, perdana.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved