Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Selasa 25 Mei 2021: PRO BONO & PRO DEO
Dalam dunia keadvokatan dikenal istilah Latin "pro bono", yang artinya demi kebaikan. Ini terkait pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma,tanpa biaya
Renungan Harian Katolik, Selasa 25 Mei 2021: PRO BONO & PRO DEO (Markus 10:28-31)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Dalam dunia keadvokatan dikenal istilah Latin "pro bono", yang artinya demi kebaikan. Ini terkait pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma, tanpa biaya atau uang imbalan kepada orang yang membutuhkan. Orang yang membutuhkan di sini adalah masyarakat miskin, organisasi non profit.
Selain itu ada pula istilah "pro bono" dalam dunia peradilan. Yakni proses hukum yang dijalani oleh orang yang tidak mampu secara finansial, di mana seluruh pembiayaannya ditanggung oleh negara.
Dalam hidup sehari-hari kita pun sesungguhnya mengenal praktek pro deo dan pro bono. Kita menyaksikan begitu banyak orang yang berkarya dan memberikan dirinya dengan penuh pengorbanan tanpa bayaran, tanpa menuntut upah untuk orang lain.
Berapa banyak asisten rumah tangga yang mengabdi di biara, pastoran, di rumah majikannya atas dasar kasih tulus. Kita melihat ada banyak guru yang mengabdi di pedalaman demi kemajuan anak-anak didiknya tanpa mempersoalkan honor yang sekian minim; ada banyak sukarelawan, pekerja sosial, atau apa pun namanya yang bekerja pro deo mengadvokasi orang-orang kecil.
Sesungguhnya tindakan pro bono dan pro deo adalah panggilan jiwa, panggilan nurani, dorongan hati. Siapa pun (akan) tahu bahwa apa pun yang dikerjakan, dia raih, tak hanya dinikmati sendiri, tak bisa dinikmati selama hidup, pun tak bisa memberi kenikmatan dan kepuasan abadi. Mungkin hanya satu dua orang yang dikaruniai rahmat untuk merasa puas dengan apa yang dia punya. Namun umumnya kita mengalami tetap ada celah bahkan kekosongan di hati meski telah memiliki segalanya.
Kita setidaknya pernah mendengar apa yang dinamakan "kebahagiaan batin". Mungkin ada di antara kita yang pernah mengalaminya, sebagaimana yang dialami oleh orang-orang kudus. Umpamanya, kita pernah merasakan betapa dekatnya Tuhan. Atau mengalami betapa bahagianya setelah membantu seseorang. Itulah yang dinamakan harta rohani, yang menggugah dan mendorong orang untuk bertindak pro bono, pro deo.
Kepada Yesus, Petrus berkata, "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau" (Mrk 10:28). Tersirat pertanyaan atau mungkin gugatan tentang balasan, upah, kepuasan, kebahagiaan apa yang diperoleh?
Kita simak perkataan Yesus ini, "Sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal" (Mrk 10:29-30).
Perbuatan atau tindakan pro bono dan pro deo pasti akan memberikan kebahagiaan batin. Tetapi tak hanya itu! Apa yang diberikan akan kembali seratus kali lipat dan memperoleh hidup kekal. Artinya, ada kebahagiaan jiwa yang tanpa batas, yang bersifat kekal. Itulah yang dialami dan dinikmati para kudus dan mungkin ada banyak di antara kita yang pernah mengalaminya.
Seluruh pribadi kita diarahkan ke kebahagiaan. Tuhan telah meletakkan kelaparan dan kehausan itu di dalam hati kita. Kita diciptakan untuk kebahagiaan, dan hasrat yang tersimpul di dalamnya itu adalah panggilan dari Tuhan, suatu undangan yang mengalir dari kedalaman keabadian kepada kita. Kalau kita mau, kita akan berbahagia. Dus, berkarya pro bono dan pro deo sesungguhnya adalah panggilan Tuhan. Kita coba merenungkannya.*
Simak juga video renungan harian katolik berikut:
Baca artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)