Selasa, 5 Mei 2026

Bupati Edi Endi Prioritaskan Air Bersih Untuk Kampung Lobohusu

ratusan warga kampung yang terletak di Dusun Marombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo itu, selama ini mengonsumsi air kali

Tayang:
Penulis: Gecio Viana | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/GECIO VIANA
Bupati Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Edistasius Endi 

Bupati Edi Endi Prioritaskan Air Bersih Untuk Kampung Lobohusu

POS-KUPANG.COM | LABUAN BAJO -- Bupati Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Edistasius Endi mengatakan, memproritaskan air bersih untuk Kampung Lobohusu, Senin 17 Mei 2021.

Hal tersebut dikarenakan, ratusan warga kampung yang terletak di Dusun Marombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo itu, selama ini mengonsumsi air kali Wae Mese.

Pihaknya pun telah memerintahkan Direktur Perumda Wae Mbeliling, Aurelius H. Endo untuk turun ke lokasi tersebut dan telah melakukan survei ketersediaan air demi masyarakat.

"Kalau saya perintahkan (Direktur Perumda Wae Mbeliling) langsung ke lokasi, berarti prioritas," tegasnya.

Baca juga: Direktur Perumda Wae Mbeliling Rapat Koordinasi Terkait Survei Air di Kampung Lobohusu Mabar

Menurutnya, salah satu alasan penyediaan air bersih di wilayah tersebut karena berlokasi tidak jauh dari Labuan Bajo.

Warga Kampung Lobohusu saat menimba air di kali Wae Mese, Kabupaten Mabar, Sabtu 15 Mei 2021.
Warga Kampung Lobohusu saat menimba air di kali Wae Mese, Kabupaten Mabar, Sabtu 15 Mei 2021. (POS KUPANG.COM/GECIO VIANA)

Lebih lanjut, ketersediaan air dirasa cukup karena saat ini Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Wae Mese II dalam proses pengerjaan.

"Kami tunggu laporan data teknis (Perumda Wae Mbeliling), apalagi itu wilayah dalam kota, terlebih saat ini tengah dikerjakan SPAM Wae Mese tahap II. Supaya kalau dia sudah sampaikan (Perumda Wae Mbeliling), nanti akan dikoordinasi kepada saat ini yang tangani SPAM Wae Mese II," katanya.

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 7 warga di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), terkena penyakit ginjal, Minggu 16 Mei 2021.

Hal tersebut, diduga karena warga yang sering mengonsumsi air kali Wae Mese sejak dulu.

Bahkan, dari 7 warga tersebut, seorang warga telah meninggal dunia 2 tahun lalu akibat terkena penyakit ginjal.

"Yang sudah kena batu ginjal ada 7 orang, termasuk saya sendiri, yang korban satu orang, mertua saya sendiri," kata Ketua RT 008 RW 004 Kampung Lobohusu Dusun Marombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Mabar.

Aco menduga, warga terkena penyakit tersebut, karena sejak dulu mengonsumsi air kali akibat krisis air di desa.

Hal tersebut diperkuat dengan diagnosa dokter, setelah warga berobat di pusat kesehatan di Labuan Bajo.

Baca juga: Ratusan Warga di Labuan Bajo Konsumsi Air Kali, Aktivis Sosial Marta Muslin Angkat Bicara

Kepada warga yang berobat, dokter mendiagnosis warga terkena penyakit ginjal karena meminum air yang memiliki kadar kapur sangat tinggi.

"Iya konsumsi air kali. Menurut dokter air yang kami konsumsi kadar kapur tinggi, dia bilang beralih ke air bersih tidak boleh air ini lagi, seperti itu kata dokter," katanya diamini sejumlah warga.

Warga yang terkena penyakit ginjal pun harus membeli air galon dengan harga per galon sebesar Rp 7 ribu.

Aktivitas warga mengonsumsi air kali dilakukan hingga saat ini, sehingga penderita penyakit ginjal dirasa akan bertambah.

Selain sakit ginjal, sejumlah warga lainnya juga mengalami diare pasca mengonsumsi air kali.

"Jelas akan akan terus bertambah (jumlah penderita kanker), kecuali kita berhenti minum air kali ini. Kalau penyakit lainnya diare, ada anak-anak dan orang dewasa," katanya.

Dijelaskannya, jika memasuki musim penghujan dan terjadi banjir, warga memilih untuk menampung dan mengonsumsi air hujan.

Namun, seringkali hujan terjadi di hulu sungai dan mengakibatkan banjir. Sedangkan, tidak terjadi hujan di area kampung.

Akibatnya, masyarakat tidak mendapatkan air hujan dan terpaksa mengonsumsi air kali yang keruh dan bercampur lumpur akibat banjir.

Baca juga: Warga Kampung Lobohusu Mabar Konsumsi Air Kali: Direktur Perumda Janji Selesaikan Dalam 6 Bulan

"Biasanya kami tadah air hujan, baru kami rebus, itu pun kadang tidak menentu, kadang turun kadang tidak. Kadang hujan turun hanya di hulu saja (dan tidak di area kampung), sehingga datang hanya banjir saja, stok air tidak ada, sehingga timba air ini (air kali) untuk minum," tutur Aco.

Hal senada disampaikan warga Kampung Lobohusu, Abdul Sehadu (47), menurutnya sudah terdapat 7 warga kampung itu yang terkena sakit ginjal akibat mengonsumsi air kali.

Tim Perumda Wae Mbeliling Mabar saat melakukan survei di Kampung Lobohusu Dusun Marombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Mabar, Senin 17 Mei 2021. 
Tim Perumda Wae Mbeliling Mabar saat melakukan survei di Kampung Lobohusu Dusun Marombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Mabar, Senin 17 Mei 2021.  (POS KUPANG.COM/GECIO VIANA)

"Beberapa tahun terakhir sudah ada 7 yang kena batu ginjal resmi dari dokter. Belum tahu yang belum diperiksa, tapi yang sudah positif ada 7 orang," ujarnya.

Menurutnya, kebiasaan warga menggunakan air kali untuk kebutuhan konsumsi dan kebutuhan rumah tangga lainnya telah dilakukan sejak dulu, hingga saat ini.

"Sudah dilakukan sejak nenek moyang," ucapnya.

Pihaknya berharap, pemerintah melalui Perumda Wae Mbeliling agar dapat melayani kebutuhan air bersih bagi masyarakat.

Hal tersebut dilakukan demi mencegah warga yang terkena penyakit akibat mengonsumsi air kali.

Baca juga: Diperintah Bupati Mabar Edi Endi, Direktur Perumda Wae Mbeliling Akan Survei Kampung Lobohusu

Diketahui, sehari-hari, sebanyak 55 kepala keluarga (KK) di Kampung Lobohusu, menimba air sejauh 1 kilometer di kali Wae Mese.

Aktivitas warga ini dilakukan setiap pagi dan sore hari, karena di kampung itu tidak terdapat sumber air maupun layanan air bersih dari pemerintah.

Kali Wae Mese merupakan kali berukuran besar, yang juga mengairi sejumlah lahan sawah milik warga desa sepanjang aliran sungai.

Pantauan POS-KUPANG.COM, air kali Wae Mese terlihat keruh, bahkan berwarna kehijauan.

Meskipun demikian, sejumlah warga tetap menimba air tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bahkan, warga juga menggunakan air sisa dari areal persawahan yang terlihat keruh untuk mandi dan mencuci pakaian.

Sementara itu, Kampung Lobohusu terletak di arah selatan Labuan Bajo, berjarak kurang dari 5 kilometer dari ibukota Kabupaten Mabar.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved