Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Selasa 4 Mei 2021: DAMAI DALAM ALLAH

Kesan perpisahan terasa sangat kuat ketika Yesus menyampaikan salam damai kepada para murid.

Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Selasa 4 Mei 2021: DAMAI DALAM ALLAH (Yohanes 14:27-31a)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Kesan perpisahan terasa sangat kuat ketika Yesus menyampaikan salam damai kepada para murid. "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu" (Yoh 14:27). Pemberian damai dengan konteks perjamuan malam sebagai perjamuan perpisahan menjelang kepergian-Nya ini tentu mempunyai arti yang penting.

Dalam injil Yohanes, istilah-istilah seperti damai, kebenaran, terang, hidup, sukacita, merupakan istilah-istilah yang menggambarkan berbagai aspek dari rahmat besar yang diberikan Allah. Rahmat besar itu tak lain adalah hidup abadi. Memberikan damai berarti memberikan hidup abadi. Hidup abadi adalah kesatuan yang abadi dengan Allah, Allah tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalam Allah. Dan hidup abadi ini hanya bisa diberikan oleh Allah melalui Yesus.

Oleh karena itu, damai yang diberikan oleh Yesus jelas berbeda dengan damai yang diberikan oleh dunia. Dunia tak akan pernah bisa memberikan damai yang diberikan oleh Yesus. Dunia tidak akan bisa memberikan hidup yang abadi.

Dunia memang memberikan kehidupan. Ada banyak makanan dari yang pokok hingga hidangan bergizi lengkap. Dunia berusaha menyelamatkan kehidupan lewat perkembangan teknologi medis kedokteran yang luar biasa. Namun makan tiga kali sehari dan minum sekurang-kurangnya 1,5 liter sehari serta tidur-istirahat secukupnya setidaknya merefleksikan sifat kesementaraan dan ketidakabadian dari hidup yang diberikan dunia.

Damai yang dijanjikan untuk diberikan oleh Yesus bukan sekedar keseimbangan kekuatan, atau tidak adanya perang. Damai itu bukan sekedar perasaan nyaman di dalam diri kita, karena bisa memusatkan perhatian, merasa tenang, utuh, dan hening secara batin. Damai yang diberikan oleh Yesus adalah kesatuan yang terus menerus dengan Allah, tinggal di dalam Allah dan Allah tinggal di dalam kita. Dalam kesatuan itu kita merasa damai bak seorang bayi yang berada dalam pelukan ibunya.

Damai inilah yang ditinggalkan oleh Yesus kepada para murid sebelum kepergian-Nya, agar mereka tidak gelisah dan gentar menghadapi kepergian-Nya dan menghadapi kesulitan-kesulitan yang akan mereka hadapi kemudian karena kepergian-Nya. Yesus ingin agar mereka tetap tenang dan bersukacita meski menghadapi kesukaran dan penderitaan apa pun tanpa Dia.

Tak disangkal bahwa ada saatnya kita merasa bahwa Tuhan seakan "pergi meninggalkan" kita saat datangnya kesulitan, persoalan; apa yang kita butuhkan tak tersedia, apa yang kita mohon tak terpenuhi. Kadang kita alami bahwa setelah usaha pencarian yang panjang akan kedamaian dengan berlibur, tamasya, rehat, cuti, mengambil jarak untuk menenangkan diri, kita mendapati bahwa kita tak menemukan ketenangan, kedamaian yang utuh dan langgeng.

Dengan begitu, janji damai dari Yesus sesungguhnya memberikan harapan yang pasti bahwa pada saatnya kita akan menemukan kedamaian sejati yang dicari itu saat kita tinggal dan bersatu selamanya bersama Yesus dan Bapa. Olehnya, keterbukaan hati dan keterarahan hidup dibimbing oleh Roh akan kesatuan dengan Bapa dan Yesus setidaknya menjadi pilihan pasti dan tetap bagi kita dalam menjalani hidup di tengah dunia ini. *

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Baca artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved