Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Kamis 29 April 2021: MENGANGKAT TUMIT

Mendapatkan orang yang benar-benar memiliki hati yang tulus memang bukan perkara mudah.

Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Kamis 29 April 2021: MENGANGKAT TUMIT (Yohanes 13:16-20)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Mendapatkan orang yang benar-benar memiliki hati yang tulus memang bukan perkara mudah. Ada orang yang telah diberi kepercayaan, tapi kemudian melakukan pengkhianatan.

Pengkhianatan menjadi satu di antara perbuatan tercela, menodai nilai-nilai kesetiaan, loyalitas. Karena pengkhianatan lebih dari pemisahan atau penolakan.

Dalam pengkhianatan, rahasia hidup pribadi, pikiran-pikiran yang dipercayakan seseorang justru digunakan untuk melawan pribadi orang itu; pikiran-pikiran atau kata-katanya dipakai untuk menyakitinya, mencemarkannya, dan merusak nama baiknya.

Sering kali pengkhianatan dapat berupa tindakan untuk mendukung kelompok musuh atau saingan, atau juga berupa bentuk pemutusan hubungan kerja sama secara penuh dengan mengabaikan aturan atau norma yang sebelumnya diputuskan atau disepakati bersama.

Pengkhianatan tidak hanya menghancurkan hati, tetapi juga menggelapkan jiwa. Orang tidak akan pernah melupakan rasa sakit seperti kabut yang selamanya tertinggal di lubuk hati.

"Bagi saya, hal yang lebih buruk daripada kematian adalah pengkhianatan. Kamu tahu, saya bisa memahami kematian, tetapi saya tidak bisa membayangkan pengkhianatan," begitu kata Malcolm X.

Setelah membasuh kaki para murid dan menyatakan kepada mereka dambaan-Nya akan kasih, kesatuan, dan persekutuan, hati Yesus gundah. Ia tahu bahwa ada di antara para murid-Nya telah mengkhianati-Nya. Ia ingat akan kata-kata dalam Mazmur 41:10, yang berbicara tentang sahabat karib yang dipercaya. Ia berujar lirih, "Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku" (Yoh 13:18).

Yesus memaksudkan kata-kata-Nya pada sosok Yudas, murid-Nya, sahabat-Nya. Yudas yang Ia percaya, yang kakinya telah Ia basuh. Ternyata justru bersekongkol dengan musuh-musuh-Nya, mengkhianati-Nya.

Ungkapan "Dia mengangkat tumitnya terhadap Aku", dalam bahasa Ibrani secara harafiah berbunyi, "Dia membuat besar tumit". Itu ungkapan yang menyatakan "kekerasan yang keji".

Di dalam ungkapan ini tidak ada tanda yang menunjukkan kemarahan, tapi hanyalah kesedihan, kegetiran hati. Berarti dengan mengatakan itu, Yesus menyatakan betapa dalam dan perih luka yang tergores di dalam hati-Nya oleh pengkhianatan.

Akankah kata-kata Yesus itu akan kembali diungkapkan dari bibir-Nya kepada kita saat ini? Semoga tidak! *

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Baca juga artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved