Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Rabu 28 April 2021: SETIA PERCAYA

Yesus berbicara tentang apa artinya percaya kepada-Nya. Orang yang percaya kepada-Nya adalah orang yang percaya kepada Dia yang telah mengutus-Nya

Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Rabu 28 April 2021: SETIA PERCAYA (Yohanes 12:44-50)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Sekali lagi Yesus berbicara tentang apa artinya percaya kepada-Nya. Orang yang percaya kepada-Nya adalah orang yang percaya kepada Dia yang telah mengutus-Nya, yaitu Bapa-Nya.

"Barang siapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; barang siapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku" (Yoh 12:44-45).

Baiklah kita meneropong masalah percaya ini dalam segi negatifnya. Bahwa percaya bukanlah masalah inteligensia atau pandangan. De facto kita sering menempatkan masalah percaya ini dalam ruang lingkup yang rasional sifatnya. Siapa yang dapat menghafal pengetahuan agama seperti 10 perintah Allah di luar kepala, biasanya diberi pujian. Tapi kepercayaan bukan terbatas suatu sistem yang penuh dengan kewajiban dan perintah.

Kita coba meninjau persoalan ini dari segi positifnya. Percaya berarti melihat kehidupan ini dengan mata lain, dengan mata ilahi. Sebagai kelanjutannya, kita harus berani melalui ambang pintu kepribadian kita untuk melepaskan diri dari isolasi keterbatasan kita. Percaya sesungguhnya menjadi nyata pada titik di mana pikiran dan daya kita seakan-akan menyerah, angkat tangan dan mengaku kalah.

Bagi yang percaya, kekalahan ini bukanlah suatu kekalahan dalam arti kata yang lazim ditanggapi oleh manusia biasa. Tidak! Kekalahan dalam hal ini adalah suatu kemenangan, di mana dia yang percaya meletakkan kehendak manusiawinya di depan kaki kehendak ilahi. Di sana orang itu mencapai kemenangan. Di mana seseorang bertekuk lutut di bawah bimbingan ilahi, di sana orang itu mencapai kemenangan.

Seorang yang berkepercayaan harus berani melepaskan kepastiannya dan menggantungkan diri kepada Tuhan. Dus kepercayaan sesungguhnya adalah suatu keberanian, karena kita menyerahkan diri kepada orang lain. Pantaslah apabila kepercayaan itu dapat dibandingkan dengan cinta.

Kepercayaan dan cinta tidak dapat dipisahkan. Cinta pun adalah suatu keberanian. Seseorang yang mencintai, selama urat nadinya berdenyut, akan melakukan apa pun untuk orang yang dicintai. Bukan karena ia mengenal orang itu sampai ke alas dasarnya, melainkan karena ia percaya kepada orang itu.

Yesus, dengan kasih-Nya, datang untuk meruntuhkan tembok-tembok kepastian dan rasa aman yang terbangun dalam diri, agar kita dapat menjangkau diri-Nya. "Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal dalam kegelapan" (Yoh 12:46).

Hidup kita merupakan suatu long march ke masa depan. Kita tentu harus mempunyai orientasi ke masa depan yang baik, yang cerah. Masa depan yang cerah itu tak lain adalah saat kita bisa menemukan kebahagiaan yang sejati dalam kehidupan kekal.

Dalam kerangka ini, kita harus melihat kehidupan yang kita jalani dan masa depan yang kita tempuh dengan mata ilahi. Bahwa sepanjang long march kita tak akan bisa melihat masa depan yang memberi kebahagiaan itu.

Yesus telah datang sebagai terang menunjukkan kepada kita tujuan dan jalan kebahagiaan itu. Olehnya, dalam perjalanan hidup, mesti selalu ada saat kita mengaku "kalah" dan menyerahkan diri kita kepada Yesus. *

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Baca artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved