Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Sabtu 24 April 2021: BERI DIRI

Jalan menuju Kalvari bukan jalan tol, tetapi jalan salib. Maka menjadi sahabat Yesus yang setia menapaki jalan salib, ya mengalami pengeritaan-Nya

Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Sabtu 24 April 2021: BERI DIRI (Yohanes 6:60-69)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - "Jalan menuju Kalvari bukan jalan tol, tetapi jalan salib. Maka menjadi sahabat Yesus yang setia menapaki jalan salib, ya mengalami pengeritaan-Nya; bukan cari jalan pintas atau jalan nyaman", begitu nasihat orang saleh. Apakah semua orang bertahan dalam menapaki jalan salib persahabatan dengan Yesus?

Yohanes penginjil menulis fakta ini dengan terang benderang, "Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia" (Yoh 6:60.66).

William Barclay mengemukakan 2 (dua) kesulitan yang sangat nyata. Pertama, mengikuti Yesus menuntut adanya penyerahan diri sepenuhnya atau kemauan untuk menerima Yesus sebagai sahabat satu-satunya. Menjadi sahabat berarti menjadi orang yang mau melakukan apa pun demi kebaikan sahabatnya. Persoalannya, lebih sering orang justru menuntut agar sahabatnyalah yang harus mendengarkan dia, mengerti dirinya, melakukan apa pun untuk kebaikan dirinya.

Saat mengikuti Yesus, orang menginginkan Yesus melakukan hal-hal baik bagi dirinya dan dunia. Itu tak salah. Namun rupanya Yesus pun menghendaki orang itu harus melakukan hal-hal yang baik juga bagi orang lain dan dunia. Yesus justru menghendaki, agar orang memberi makan kepada yang miskin, membezuk yang sakit, hadir bagi mereka yang kesepian, menghibur yang berduka, dan sebagainya.

Kedua, mengikuti Yesus menuntut ukuran moral yang tinggi. Banyak orang merasa berat dan bahkan menolak Yesus, bukan karena perkataan Yesus membingungkan dan sulit dimengerti dengan pikiran, persepsi dan intelektualitasnya, melainkan karena Yesus menantang hidup mereka.

Sekedar contoh, simak perkataan Yesus, "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal" (Yoh 6:27).

Atau, "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku" (Mat 19:21). Tidakkah ini menantang dengan tuntutan moral yang tinggi?

Tak jarang kita pun cepat menyerah saat iman menuntut untuk menapaki jalan salib. Capek, tak sanggup, ketakutan, dan beragam alasan lain. Kita memang berkorban tapi belum sampai pada tahap pemberian diri. Tak heran kita kecewa, putus asa. Apalagi tatkala tak mendapat apa-apa, atau menemukan hanya diri kita sendiri yang berkorban dan orang lain tidak.

Sambil memohon ampun pada Tuhan, karena pernah "undur diri", dengan rendah hati kita pun bermohon agar Bapa menguatkan kita sehingga bisa datang lagi dan tetap setia mengikuti Yesus (bdk. Yoh 6:65). *

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Ikuti artikel-artikel renungan harian katolik lainn DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved