Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Jumat 23 April 2021: SAHABAT SEJATI

Menurut pengertian umum, daging dan darah seseorang itu sama dengan pribadi orang itu seutuhnya.

Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Jumat 23 April 2021: SAHABAT SEJATI (Yohanes 6:52-59)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Menurut pengertian umum, daging dan darah seseorang itu sama dengan pribadi orang itu seutuhnya. Anak adalah daging-darah orang tua. Karena diri pribadi anak setidaknya diturunkan juga dari orang tuanya. Terkait ini pepatah lama berbunyi, "Buah jatuh tak jauh dari pohonnya".

Sebagai manusia, kita mempunyai daging. Hantu tidak ada daging dan tulang (bdk. Luk 24:39). Bagi Yesus, daging-Nya adalah kemanusiaan-Nya. Melalui dan dalam kemanusiaan-Nya, Allah menjadi Allah beserta kita berkat penjelmaan-Nya.

Sedangkan darah selalu berarti hidup. Tak sulit untuk mengerti hal ini. Kalau darah mengalir keluar terus dari suatu luka di tubuh, maka hidup terancam lenyap. Dengan kematian-Nya di salib, Yesus telah mencurahkan darah-Nya; Ia memberikan, mengorbankan hidup-Nya bagi kita manusia.

Yesus berkata, "Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia" (Yoh 6:56). Yesus bicara tentang makan daging-Nya dan minum darah-Nya, supaya orang bisa tinggal di dalam Dia. Apa maksudnya?

Kalau kita menjadi sahabat sejati bagi orang lain, kita melepaskan otonomi atau kebebasan tertentu dari diri pribadi kita. Dalam arti tertentu, kita mati terhadap diri kita sendiri dan kebutuhan yang terpusat pada diri kita, seperti untuk menunjukkan bahwa kita benar, kita paling baik. Kita terbuka terhadap diri sahabat kita. Kita mendengarkan dia dan kita menyatukan diri kita dengannya. Inilah artinya tinggal dalam atau tinggal satu dalam yang lain.

Kalau demikian, dengan perkataan-Nya itu, Yesus menawarkan kepada kita relasi dengan diri-Nya yang amat pribadi dan dekat, relasi persahabatan yang sejati. Relasi itu akan membawa kita masuk ke dalam hidup Allah dan memberi makan kepada hidup kita. Relasi ini akan membuat kita tinggal dalam Yesus dan Yesus tinggal di dalam diri kita.

Implikasinya, kalau kita mengerti bahwa kehadiran seorang sahabat menguatkan kita dan memberikan kehidupan, maka kita tetap ingat dan terus berhubungan dengan Yesus, Sang Sahabat sejati, meskipun berjauhan atau terpisah secara jasmaniah. Kita mau mengerjakan apa yang Ia kehendaki; kita hidup bagi-Nya dan bagi pekerjaan serta janji-janji-Nya. Inilah yang dikehendaki-Nya: kita masuk ke dalam persekutuan dengan Bapa, kita mencintai sesama, bahkan musuh-musuh kita, berusaha agar tak ada yang terbuang atau dibuang.

Selain itu, kita membiarkan Yesus tinggal dalam diri kita. Itu berarti kita (sudah) membersihkan rumah hati kita untuk memberi ruang bagi-Nya sehingga Ia dapat tinggal di dalam diri kita. *

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Simak juga artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved