Breaking News

Ramadan 2021

Sabar Menghadapi Musibah

pandemi yang melanda seluruh dunia. Musibah panjang dalam wujud pandemi ini menuntut setiap hambaNya untuk tetap “sabar”. 

Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/ISTIMEWA
Hasanah Purnamasari, S.H.I, M.Ag, Dosen Ekonomi Syariah STAI Kupang. 

Sabar Menghadapi Musibah

Oleh: Hasanah Purnamasari, S.H.I, M.Ag

Dosen Ekonomi Syariah STAI Kupang

Musibah merupakan sunnatullah yang datang dalam bentuk dan jenis variatif, misalnya gunung meletus, banjir, badai, tanah longsor, kebakaran, gempa bumi hingga pandemi yang melanda seluruh dunia. Musibah panjang dalam wujud pandemi ini menuntut setiap hambaNya untuk tetap “sabar”. 

Karena hanya yang bersabar akan lulus ujian dan dapat melanjutkan ke jenjang kehidupan selanjutnya. Musibah dapat menimpa jiwa seseorang, ada yang menimpa tubuhnya, hartanya, keluarganya dan lain sebagainya.

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ditimpa musibah pada hartanya atau dirinya, lalu dia menyembunyikan dengan tidak mengeluh kapada manusia, maka hak atas Allah SWT untuk mengampuninya.” (At-Thabari)

Kata musibah dalam ilmu bahasa dimaknai sebagai perkara yang tidak disukai yang menimpa manusia. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa musibah adalah segala sesuatu yang menyakitkan, merugikan, menyusahkan dan menimpa diri manusia.

Oleh karena itu, jika seseorang mengalami musibah, maka hal ini berpotensi menyebabkan orang tersebut kehilangan nikmat-nikmat Allah SWT yang telah dianugerahkan kepadanya seperti anak, orangtua, saudara, harta dan kesehatan.

Kendati demikian, Syaikh Ibnu Utsaimin menegaskan dalam kitab Riyadhush Shalihin, apabila manusia ditimpa musibah, maka janganlah berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit tersebut akan berlalu tanpa arti, tetapi Allah SWT akan menggantikan dengan yang lebih baik (yaitu pahala) dan menghapus segala dosa. 

Baca juga: Tata Cara Sholat Tahajud di Bulan Ramadan,Sahkah Tahajud Setelah Witir? Penjelasan Ustaz Abdul Somad

Saat ini dunia memasuki tahun kedua dalam menghadapi pandemi virus corona. Penyebarannya masih sangat masif berdampak pada segala aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, sosial, ekonomi bahkan politik. 

Banyak perubahan-perubahan yang harus terjadi disebabkan virus ini. Sebagai umat Islam, seyogyanya menggunakan kacamata agama dalam memandang realitas, bukan melepaskan pengaruh Tuhan dari fenomena yang terjadi ini karena semua yang terjadi dalam alam semesta sudah digariskan oleh Allah SWT.

Virus corona bukanlah musibah semata, namun banyak hikmah yang datang bersamanya, jika kita mengimani dengan penuh kesungguhan hati.

Para pembaca Pos Kupang yang dirahmati Allah SWT, Dari musibah pandemi ini dapat diambil kesimpulan besar bahwa sehebat apapun manusia, lengkap dengan ilmu dan teknologinya tidak akan sanggup menghadapi kekuatan Allah SWT. 

Baca juga: Membuka Warung Makanan Waktu Siang Ramadan, Apakah Mendapat Dosa? Begini Penjelasan Dr Syamsul Bakri

Karena itu, apabila segala upaya sudah dilakukan, telah berlindung kepadaNya, musibah selalu dialami dan memang manusia pasti mengalami musibah. Maka, langkah terbaik menghadapi musibah adalah dengan menyerahkannya kepada Allah SWT atau dengan istirja’ (mengembalikan kepadaNya) kemudian bersabar dan berpasrah diri kepadaNya.

Bagi seorang hamba yang beriman, dalam menghadapi musibah hendaknya mengambil sikap sebagai berikut:

Pertama, menyadari sepenuhnya bahwa dunia ini tempat ujian, bencana, musibah dan petaka. Tempat kenikmatan hakiki hanyalah di surga kelak.

Kedua, melihat sekeliling kita bahwa masih banyak musibah lain yang jauh lebih besar dari musibah yang menimpa dirinya.

Baca juga: Inilah Tips Anti Bibir Pecah-pecah Saat Jalani Puasa Ramadan 2021, Cobain Yuk Guys

Ketiga, menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT seraya mengharap pahala dan ampunan dosa atas musibah yang menimpanya. 

Keempat, meyakini bahwa musibah adalah jalan untuk meningkatkan taqwa, memperbanyak istighfar dan meningkatkan amal sholehnya. Dalam hadist qudsi disebutkan: “Allah berfirman kepada malaikat-malaikatNya:

“Pergilah kepada hambaKu, lalu timpakanlah bermacam-macam ujian karena Aku ingin mendengar suaranya.” (HR.Thabrani). Suara yang dimaksud ialah doa-doa yang menggema dengan penuh pengharapan dan tulus ikhlas. Karena banyak manusia yang hanya mengingatNya dikala duka dan musibah lantas lupa padaNya dikala senang dan bergelimang harta. 

Promo IFTAR RAMADAN dari Sahid T-More Kupang.
Promo IFTAR RAMADAN dari Sahid T-More Kupang. (ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM)

Baca juga: Kapan Waktu Tepat Baca Niat Puasa Ramadan? Apakah Sesudah atau Sebelum Makan Sahur?

Disini musibah akan kembali mendekatkan kita pada sang khalik dan sungguh beruntung manusia yang mengingatNya kala senang dan susah, sakit dan sehat, lapang maupun sempit.

Semoga ditengah musibah pandemi yang belum berakhir ini serta badai seroja yang baru saja dialami oleh masyarakat NTT, kita bisa menjadi hambaNya yang sabar dan berbaik sangka kepada ketetapan Allah SWT serta optimis bahwa segala ujian atau musibah tidak akan diberikan melebihi kemampuan seorang hamba dalam menjalaninya.

 Dengan musibah yang kita alami, semoga menjadi penggugur dosa-dosa dan digantikan dengan kebaikan dunia serta pahala di akhirat kelak. Allahumma Amiin.(*)

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved