Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Kamis 22 April 2021: TETAP PERCAYA

Penegasan Yesus tentang diri-Nya, "Akulah roti hidup", "Akulah roti yang telah turun dari surga", membuat orang-orang Yahudi bersungut-sungut.

Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Kamis 22 April 2021: TETAP PERCAYA (Yohanes 6:44-51)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Penegasan Yesus tentang diri-Nya, "Akulah roti hidup", "Akulah roti yang telah turun dari surga", membuat orang-orang Yahudi bersungut-sungut. Mereka mengenal Yesus. Dia adalah anak Yusuf yang mereka kenal juga. Bagaimana mungkin Ia mengatakan "Akulah roti yang telah turun dari surga?" (lih. Yoh 6:41-42).

"Bersungut-sungut" merupakan tema penting dalam kitab Keluaran. Sekedar contoh, orang Israel bersungut-sungut di padang gurun kepada Musa dan Harun, karena kekurangan makanan (lih. Kel 16:2). Tapi sungut-sungut kali ini bukan karena mereka kekurangan makanan seperti di padang gurun. Sungut-sungut muncul karena pernyataan Yesus bahwa Ia adalah roti yang turun dari surga, padahal mereka tahu asal-usulnya.

Terhadap sungut-sungut dan cibiran itulah, Yesus memberi tanggapan-Nya. "Mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku" (Yoh 6:45).

Yesus menandaskan bahwa hanya mereka yang beriman yang dapat memahami perkataan-Nya. Mereka yang beriman itu tak lain adalah mereka yang diberikan oleh Bapa kepada Anak, yaitu mereka yang mendengar dan membiarkan diri diajar oleh Bapa. Jadi, untul bisa menerima dan mengerti perkataan-Nya, orang harus percaya kepada-Nya.

Untuk memperjelas, Yesus bilang, "Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati" (Yoh 6:49). Itulah tanda bahwa manna atau roti yang diberikan itu tidak mencukupi. Beda dengan diri-Nya yang adalah roti hidup yang turun dari surga. Barang siapa makan dari padanya, ia tidak akan mati, ia akan hidup selama-lamanya" (6:50-51).

"Makan" berarti percaya. Roti yang diberikan Yesus adalah "daging-Nya". Dipakai kata "daging" dan bukan "tubuh", karena mengacu pada "Sabda yang telah menjadi daging" (Yoh 1:14). Kematian-Nya pun demi kehidupan dunia. Dengan demikian Yesus menunjukkan asal-usul keilahian diri-Nya dan bahwa Ia adalah roti yang turun dari surga.

Cukup sering kita pun bersungut-sungut karena mengikuti Yesus atau karena tidak bisa menerima perkataan-Nya. Kita menganggap kata-kata dan ajaran-Nya tidak relevan dan menjawabi kebutuhan diri kita. Malah tak jarang kita terobsesi bahwa perut harus kenyang dulu baru bisa hati tenang.

Ada sebuah cerita. "Tidak ada Allah!", teriak seseorang. Mendengar itu seorang guru pun mendekatinya, "Yang anda katakan sama sekali bukan hal baru. Kitab Suci sudah mengatakannya lebih dari 2000 tahun lalu. Pemazmur bilang, orang bebal berkata dalam hati: Tidak ada Allah (Mzm 14:1). Ia lebih sopan dan tidak meneriakkannya di warung kopi".

St. Yohanes, penginjil menulis jelas, "Sabda telah menjadi daging" (Yoh 1:14). Semoga kita tetap makan roti dan daging yang bisa membuat kita hidup selama-lamanya (bdk. Yoh 6:51). *

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Baca juga artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved