Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Rabu 21 April 2021: TETAP BERSAMA

Hidup kita adalah kesimpulan dari keputusan-keputusan yang kita buat tiap hari, dan keputusan-keputusan itu ditentukan oleh prioritas kita.

Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Rabu 21 April 2021: TETAP BERSAMA (Yohanes 6:35-40)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Hidup kita adalah kesimpulan dari keputusan-keputusan yang kita buat tiap hari, dan keputusan-keputusan itu ditentukan oleh prioritas kita. Prioritas itu didorong oleh motivasi yang ada dalam hati: apakah motivasi timbul karena kehendak sendiri, kehendak orang lain, atau karena kehendak Allah. Motivasi itu akan menjadi pendorong dan generator seluruh prioritas, keputusan dan hidup orang itu.

Dalam kitab suci, sering ditemukan dua term yang berbeda penggunaannya. Pertama, kata “keinginan” yang disematkan pada manusia. Dalam bahasa Yunani diambil dari kata ‘Ephitumia’ yang berarti keinginan terlarang atau nafsu.

Sementara yang kedua, kata “kehendak” yang dikenakan pada Allah. Kata ini diambil dari kata Yunani, ‘Thelema’ yang berarti pilihan Tuhan atau isi hati Tuhan. Kedua term itu dapat menjadi motivator untuk setiap keputusan manusia, dengan implikasi (hasil akhir) yang berbeda.

Ada dampak kekal yang mengikuti setiap tindakan yang didorong oleh kehendak Allah. Tuhan ingin agar orang percaya tidak lenyap binasa, melainkan beroleh hidup selama-lamanya. 

Yesus turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Nya sendiri, melainkan kehendak Dia yang telah mengutus-Nya (Yoh 6:38). Dan, Yesus menyebut diri-Nya "utusan". Artinya, sama dengan pesuruh yang siap sampai mati melakukan kehendak majikannya.

Inilah kehendak Bapa yang menjadi prioritas dan perjuangan hidup Yesus, "yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman" (Yoh 6:39). Yang paling penting: Ia tak pernah mau membuang siapa saja. Ia mendekap, merangkul, menyayangi (bdk. Yoh 10:1-21).

Dalam melaksanakan kehendak Bapa, Yesus tak pernah memaksa. Ia hanya menegaskan bahwa siapa pun harus tahu apa yang menjadi kehendak Bapa untuk dirinya sendiri, "yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman" (Yoh 6:40).

Bagi kita, ada dua kata kunci, yakni melihat dan percaya. Kita melihat apa pada Yesus? Macam-macam! Melihat itu perlu dan amat fundamental. Sebagai orientasi umum. Tetapi dengan melihat, masalahnya belumlah selesai. Setelah melihat, kita harus berani melangkah ke tingkat lebih tinggi yang tidak eksperimental lagi, yaitu percaya.

Kalau percaya, maka kita membuka diri atas realitas tak terselami, tak terpahami, atas kehendak Allah yang tak dapat diungkapkan dengan cukup jelas dan memuaskan secara manusiawi. Singkatnya, kita melihat dan percaya bahwa Yesus mencintai kita; kita tak dibuang; kita tak dibiarkan hilang.

Percaya kepada Yesus berarti kita mengikuti jalan hidup-Nya. Kita menjadikan kehendak Bapa sebagai prioritas hidup kita. Bahwa kita pun berusaha dengan berbagai cara agar tidak ada yang hilang dari keluarga kita, dari komunitas kita. Tak boleh ada yang merasa tersisihkan, terbuang dan kita pun tidak terdorong oleh keinginan untuk membuang orang lain, apalagi yang tak disukai. Berusaha mengasihi meski berbeda dan menghormati walau berlawanan. *

Simak juga renungan harian katolik berikut:

Simak juga artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved