Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Selasa 20 April 2021: ROTI ABADI

Orang-orang Yahudi menantang Yesus agar memberikan roti manna itu sebagai bukti bahwa diri-Nya Mesias

Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Selasa 20 April 2021: ROTI ABADI (Yohanes 6:30-35)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Kalau orang-orang di kampungku ditanya, "Apakah sudah makan?", mereka pasti akan jawab, "Belum", padahal mereka barusan menghabiskan sepiring jagung titi (makanan khas), beberapa pisang dan singkong rebus, dengan lauk ikan panggang besar. Persepsi yang berurat akar di sana, yang namanya makan ya harus ada nasi. Seseorang tidak akan dianggap sudah makan, kalau ia belum makan atau disuguhi nasi.

Semua orang Yahudi tahu bahwa roti adalah makanan pokok mereka. Taurat, sabda Allah adalah roti juga, yakni roti bagi hati dan budi mereka. Dalam kitab nabi Yehezkiel, tertulis sabda Tuhan ini, "Hai anak manusia, makanlah yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel. Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku" (Yeh 3:1-4).

Selain itu, bagi orang-orang Yahudi, roti selalu mengingatkan mereka akan manna di padang gurun (lih. Kel 16:15; Mzm 78:24). Itulah roti dari Allah yang diberikan melalui Musa kepada nenek moyang mereka. Ada satu periuk roti manna yang disimpan dalam Tabut Perjanjian di Bait Allah dan ketika Bait Allah itu dihancurkan musuh, nabi Yeremia menyembunyikannya dan akan mengeluarkannya kembali waktu Mesias datang.

Oleh karenanya, orang-orang Yahudi menantang Yesus agar memberikan roti manna itu sebagai bukti bahwa diri-Nya Mesias. "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu?" (Yoh 6:30).

Yesus mengingatkan, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia" (Yoh 6:32-33).

Manna hanyalah simbol untuk roti dari Allah, sedangkan roti yang benar, yang sesungguhnya dari Allah adalah diri-Nya sendiri. Yesus tidak bicara  tentang roti yang diberikan dari surga, melainkan roti yang turun dari surga. Roti itu adalah diri-Nya sendiri. "Akulah roti hidup, barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi" (Yoh 6:35).

Hemat saya, kiranya kita perlu merenungkan, mengkontemplasikan pesan penting ini: manna itu simbol roti yang diberikan Allah. Manna bukanlah "roti yang turun dari surga". Manna takkan pernah mengenyangkan dan memuaskan kita selamanya. Manna bukanlah pokok sebagai orang yang beriman. Pantesan, apa pun "manna" yang kita makan di bumi ini, tetap saja setelah beberapa waktu kita lapar lagi. Sebanyak berapa porsi yang kita makan, akan datang saatnya, kita perlu makan lagi. Seberapa enaknya menu apa pun, kepuasan tetap bersifat sementara.

Olehnya, kata-kata Yesus mesti selalu mengingatkan kita dalam konteks menyantap, bekerja, mengais rezeki, berinvestasi, mengumpulkan harta, "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu" (Yoh 6:27). *

Simak juga video renugan harian katolik berikut:

Simak juga artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved