Selasa, 21 April 2026

Persoalan Infrastruktur & Pendidikan di Nisar Mabar, Guru Besar Undana Kupang Angkat Bicara

persoalan pelik yang harus segera diatasi bupati dan wakil bupati sebagai pimpinan tertinggi di Kabupaten Maba

Penulis: Gecio Viana | Editor: Rosalina Woso
Dokumentasi pribadi Prof. Drs. Feliks Tans, M.Ed., Ph.D untuk POS-KUPANG.COM.
Prof. Drs. Feliks Tans, M.Ed., Ph.D 

Persoalan Infrastruktur dan  Pendidikan di Nisar Kabupaten Mabar, Guru Besar Undana Kupang Angkat Bicara

POS-KUPANG.COM | LABUAN BAJO -- Guru besar Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Prof. Drs. Feliks Tans, M.Ed., Ph.D angkat bicara terkait persoalan infrastruktur dan pendidikan di Nisar Desa Nanga Bere, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Provinsi NTT.

Problematika yang terjadi selama ini desa tersebut, beberapa siswa yang berjalan kaki hingga 10 km dan puluhan siswa lainnya harus melewati sungai, bahkan saat banjir melanda untuk bersekolah, ruang kelas sekolah yang mirip 'kandang kambing', dan ketiadaan ruang kelas.

Alumnus Universitas La Trobe Australia ini yakin kepemimpinan pasangan Bupati dan Wakil Bupati Mabar, Edistasius Endi dan dr Yulianus Weng dapat mengatasi problem tersebut secara cepat, tepat, dan benar. 

"Jangan tunggu, sehingga masalahnya berkepanjangan. Saya percaya Bupati Mabar (Edistasius Endi) bisa mengatasi persoalan tersebut secara cepat, tepat, dan benar," katanya saat dihubungi dari Labuan Bajo, Minggu (14/3/2021).

Menurutnya, keadaan tersebut merupakan persoalan pelik yang harus segera diatasi bupati dan wakil bupati sebagai pimpinan tertinggi di Kabupaten Mabar. 

"Jangan biarkan anak-anak Mabar belajar dalam keprihatinan seperti itu. Mereka masa depan Mabar dan, bahkan, Indonesia. Mereka juga anak-anak kita bersama. Karena itu, bupati harus segera atasi itu. Jangan mengatakan bahwa itu baru bisa diatasi tahun depan karena anggaran untuk mengatasi itu baru diusulkan tahun ini," tegasnya.

Jika persoalan tersebut dibiarkan berlarut-larut seperti, maka bupati dan wakil bupati Mabar bukan tipe pejabat yang melihat jabatan sebagai aksi, tetapi sebagai posisi. 

"Saya ingatkan, jabatan itu soal aksi, perbuatan, untuk melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah. Itu juga yang disebut dengan "problem-based leadership", kepemimpinan berbasis masalah," katanya.

Prof Felix menuturkan, pemimpin daerah harus tahu aksi apa yg harus segera dilakukan untuk mengatasi setiap masalah yang ada di daerah kepemimpinannya.

"Jangan tunggu, sehingga masalahnya berkepanjangan. Saya percaya Bupati Mabar bisa mengatasi persoalan tersebut secara cepat, tepat, dan benar," ujarnya.

Sebagai masukan, kata Prof Felix, Pemda Mabar dapat melihat rujukan kebijakan yakni Permendikbud Nomor 32 Tahun 2018 tentang Standar Teknis Pelayanan Minimum Pendidikan.

"Dalam kebijakan tersebut, untuk siswa SD, misalnya, jarak pemukiman anak sekolah dan SD-nya tidak lebih dari 3 KM. Jika lebih, standar pelayanan minimum pendidikan tdk terpenuhi.  Tentu tugas pemerintah adalah melaksanakan pendidikan dgn standar nasional. Namun kalau standar minimum saja tdk bisa, standar nasional pasti lebih tidak bisa lagi. Karena itukah, pemerintah harus bekerja lebih keras, lebih cerdas, supaya SPM, standar pelayanan minimum, pendidikan Itu terpenuhi," jelasnya.

Kepada para siswa di Nisar, Prof Felix berpesan agar selalu awas saat melakukan perjalanan ke sekolah, terlebih saat musim penghujan.

"Namun tetap harus hati-hati. Jika banjir, jangan paksakan diri ke sekolah. Belajar saja di rumah," paparnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved