Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Jumat 5 Maret 2021: SADAR SEBAGAI PENGGARAP
Pak Arief, seorang pengusaha perkebunan. Ia punya perkebunan kelapa sawit ribuan hektar dengan pabrik yang tergolong besar.
Renungan Harian Katolik, Jumat 5 Maret 2021: SADAR SEBAGAI PENGGARAP (Matius 21:33-43.45-46)
Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - Pak Arief, seorang pengusaha perkebunan. Ia punya perkebunan kelapa sawit ribuan hektar dengan pabrik yang tergolong besar. Setelah membangun dan membesarkan perusahaannya, ia bermaksud menyerahkan pengelolaannya kepada para profesional. Ia memilih manager-manager handal dan mempercayakan perusahaan perkebunannya itu kepada mereka. Setelah itu ia mundur alias lengser ke prabon dan hanya mengawasinya dari jauh.
Beberapa waktu berlalu, pak Arief mengirim utusan untuk meminta laporan pertanggungjawaban dari para manager kepercayaannya. Ia ingin tahu kondisi perusahaannya dan mau mengambil keuntungan yang menjadi haknya.
Namun orang-orang utusannya justru diperlakukan dengan buruk oleh para manager. Utusan yang pertama dipukuli, dirajam, bahkan dihabisi. Yang kedua, meski jumlahnya lebih banyak, mendapat perlakuan serupa. Mereka ditangkap dan disiksa oleh para preman yang dibiayai para manager.
Akhirnya, dengan terpaksa pak Arief mengutus anaknya sendiri. Tetapi anaknya itu malah dibunuh dengan maksud agar perusahaan nantinya bisa dikuasai dan diambil alih kepemilikan oleh mereka. Kejadian tragis ini memancing kemarahan pak Arief. Ia tentu akan menghabisi para manager tak tahu diri itu.
Kisah di atas hasil modifikasi dari perumpamaan rekaan Yesus seperti dicatat penginjil Matius. Kisah ini tentu dibikin Yesus untuk "menembak" imam-imam kepala, orang-orang Farisi dan tua-tua bangsa Yahudi. Apa artinya kisah itu bagi kita pada masa sekarang ini ?
Kita tahu bahwa kisah perumpamaan itu adalah sebuah alegori atau kisah yang diterapkan pada orang atau keadaan tertentu, yakni para pemimpin Yahudi tempo dulu. Namun dalam tafsiran alegori, kita juga memahami bahwa kebun anggur itu bisa juga dipandang mewakili keuskupan, paroki, stasi, rumah tangga, keluarga, yayasan, rumah sakit, sekolah, anak-anak, pasien, karyawan, umat, tugas pelayanan, dan sebagainya. Sedangkan para penggarap atau manager adalah orang-orang pilihan Tuhan, termasuk kita, yang dipercayakan untuk nemelihara "kebun anggur" milik Tuhan.
Titik berat perumpamaan barangkali kebun anggur yang tak bisa memberi hasil, Tuhan sang pemilik tidak kebagian hasil yang menjadi haknya, juga perlakuan buruk terhadap para utusan Tuhan. Tapi yang terutama disoroti adalah niat jahat dan upaya para penggarap mau merebut "kebun anggur".
Kalau bermenung sungguh, kita akui bahwa acap kali kita bertindak seolah-olah "kebun anggur" Tuhan itu adalah milik kepunyaan kita. Kita seenaknya mengambil kebijakan dan keputusan menurut selera kita sendiri, semau gue. Kita tak lagi ingat bahwa jabatan itu kepercayaan dari Tuhan, tugas itu pelayanan.
Teringat kisah di kampung pelosok Flores. Ada seorang pastor misionaris asal Belanda hendak membaptis anak-anak. Ia awali dengan bertanya kepada para orang tua anak-anak itu. "Ini anak siapa ?" Mereka serentak menjawab, "Anak kami masing-masing". Dia lalu berkata, "Kalau ini anak kalian, bawa pulang ! Saya tidak baptis". Mereka kaget dan heran. Sang pastor lantas menegaskan dengan suara nyaring, "Ini anak-anak Tuhan !"
Kita selalu bilang, "Anak itu titipan Tuhan". Benarkah kita menjaga, merawat, membesarkannya dengan dasar bahwa nanti akan ada pertanggungjawaban kepada Bapa mereka di surga? Terlampau sering kita bertutur, "Jabatan dan tugas itu panggilan dan kita ini hanya pekerja, hamba, orang suruhan, penggarap kebun anggur Tuhan". Harap kita tetap selalu sadar diri dan tidak sampai kebablasan mengklaim seakan kita ini pemilik. *
Simak juga video renungan harian katolik berikut: