Breaking News:

Rato Yagi Riada Dari Kampung Praigoli, Dalam Sejarah Baru Terjadi Pasola Tanpa Atraksi Pasola

Kebijakan itu sebagai upaya mencegah terjadi kerumunan massa yang berdampak terjadi pula penularan virus corona.

Penulis: Petrus Piter | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/PETRUS PITER
Rato Yagi Riada dari Kampung Praigoli (kiri) didampingi Tomas Wanokaka, Raimond Reingu Toka. Foto Selasa (2/3/2021)  

Rato Yagi Riada Dari Kampung Praigoli, Dalam Sejarah Baru Terjadi Pasola Tanpa Atraksi Pasola

POS-KUPANG.COM|WAIKABUBAK---Rato Yagi Riada dari Kampung Praigoli, Kecamatan Wanokaka, Sumba Barat mengaku baru kali ini, pelaksanaan pasola tanpa  atraksi pasola. Pasola kali ini hanya  menggelar sembayang ritual adat saja.

Sedangkan atraksi pasola sama sekali tidak ada. Hal itu dapat dimaklumi karena saat ini sedang terjadi wabah penyakit mematikan manusia yakni virus corona.

Kebijakan itu sebagai upaya mencegah terjadi kerumunan massa yang berdampak terjadi pula penularan virus corona.

Walau demikian, ia mengaku, para rato bersepakat demi melengkapi pesta pasola maka setelah para rato menggelar ritual adat dilanjutkan dengan atraksi pasola yang diwakilkan oleh dua orang penunggang kuda sebagai pembuka atraksi pasola   yang bersenjatakan lembing masing-masing dari Kampung Praigoli dan kampung lahipangabang.

Kedua  orang penunggang kuda tersebut berlari keliling lapangan pasola sekitar 2-3 kali, lalu melemparkan lembing ke tengah lapangan dan acara atraksi pasola selesai.

Rato Yagi Riada didampingi tokoh masyarakat Wanokaka, Reimond Reingu Toka menyampaikan1 hal itu di kediaman Reimond Reingu Toka di Wanokaka, Sumba Barat, Selasa (2/3/2021).

Lebih lanjut, ia mengatakan, para rato termasuk dirinya, tokoh masyarakat, pemerintah, kepolisian TNI dan para pihak terkait lainnya telah bersepakat dalam rapat bersama yang berlangsung di kantor Kecamatan Wanokaka, Senin (1/3/2021) bahwa  pelaksanaan pasola kali ini cukup dengan menggelar acara ritual adat tanpa ada atraksi pasola. Hal itu demi mencegah terjadi kerumunan massa yang berdampak  negatif terjadi penularan virus corona.

Sebagai salah satu tokoh adat (rato) dari kampung Praigoli yang juga adalah salah satu kampung pelaksana pasola, mengaku, secara umum pelaksanaan pasola tetap berjalan seperti biasa dengan pelaksanaan sejumlah rangkaian kegiatan ritual adat yang berlangsung sejak tanggal 26 Februari 2021 hingga sekarang.

Ia juga mengaku, tidak ada dampak atau resiko bila  melaksanakan pasola tidak utuh, misalnya hanya menggelar sembayang ritual adat tanpa atraksi pasola karena kondisi daerah dan negara dalam keadaan darurat kesehatan kemanusiaan.

Bila dipaksakan akan berdampak buruk bagi keselamatan manusia. Hal itu berbeda bila disengaja atau dalam suasana normal maka dampak buruk pasti menimpah masyarakat Wanokaka selaku empunya pasola.

Rato Yagi mengaku hal itu, akan ia bawah dalam sembayang saat menggelar  acara ritual adat pasola, memohon sang khalik senantiasa menjaga masyarakat dan daerahnya agar terbebas dari hal buruk menimpahnya.

Sementara itu tokoh masyarakat Kecamatan Wanokaka, Sumba Barat, Reimond Reingu Toka, menambahkan,  pelaksanaan pasola kali ini hanya dengan gelar acara ritual adat demi mencegah kerumunan masa karena daerah ini sedang terjadi wabah penyakit virus corona yang membahayakan keselamatan manusia.

Polda NTT Limpahkan Berkas Perkara Kasus Dugaan Korupsi Proyek Wisata Awololong ke JPU

Keputusan  itu merupakan kesepakatan bersama dalam rapat dengan para rato, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan pemerintah, kepolisian, TNI dan pihak terkait lainnya di Kantor Kecamatan Wanokaka, Sumba Barat, Senin (1/3/2021). Semua ini diambil demi kebaikan bersama agar dapat mencegah terjadi kerumunan masaa di wilayah ini. Dan semua pihak harus mematuhinya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Petrus Piter)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved