Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Sabtu 27 Februari 2021: MENJADI SEMPURNA
Dalam kotbah di bukit, Yesus bersabda, "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna"
Renungan Harian Katolik, Sabtu 27 Februari 2021: MENJADI SEMPURNA (Matius 5:43-48)
Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - "Menjadi orang baik atau menjadi orang benar?" Pertanyaan yang sederhana, tapi menggelitik. Boleh jadi ada yang memilih menjadi orang baik, dan ada yang memilih menjadi orang benar. Tapi sangat boleh jadi ada yang memilih menjadi orang baik sekaligus orang benar. Ini soal pilihan.
Dalam kotbah di bukit, Yesus bersabda, "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Mat 5:48). Yesus memberi penegasan kepada para murid-Nya untuk "menjadi orang yang sempurna" seperti Bapa di surga. Dan ini bukan pilihan, melainkan suatu keharusan.
Secara umum, sempurna berarti utuh, lengkap segalanya, komplet atau tidak kurang; berkeadaan tidak bercacat dan tidak bercela; telah selesai dengan sebaik-baiknya, teratur dengan sangat baiknya.
Pertanyaan, apakah orang bisa menjadi sempurna, tak bercela dan tak bercacat? Soalnya, siapa pun tak mungkin memungkiri bahwa tak ada yang sempurna dalam hidup ini. Sebuah paradoks: orang diharuskan menjadi sempurna, padahal dia tak mungkin menjadi sempurna dalam dunia ini.
Kata "sempurna" dalam pernyataan Yesus "haruslah kamu sempurna", dalam bahasa Yunani adalah "teleios", yang artinya sesuai dengan tujuan sesuatu diciptakan. Manusia adalah sempurna, kalau ia sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai Allah pada saat penciptaannya. Apa tujuan Allah sewaktu Ia menciptakan manusia? Allah mau supaya manusia menjadi se-gambar dan serupa dengan-Nya (bdk. Kej 1:26).
Namun Allah tak hanya mencipta dan mengharuskan manusia menjadi sempurna seperti diri-Nya. Allah juga memberi dorongan dan kemampuan agar manusia bisa berkembang dan menjadi sempurna. Ciri khas Allah justru terletak dalam kebajikan-Nya yang tak kunjung padam, dalam kasih-Nya yang tak terbatas dan tanpa batas. Kasih-Nya inilah yang menggugah dan memampukan manusia, sehingga pasti bisa melakukan apa pun dan menggapai kesempurnaan.
Dengan begitu, dapatlah dipahami kenapa Yesus memberi penegasan bahwa para murid harus menjadi sempurna seperti Bapa di surga. Alasannya jelas, karena sama seperti berjuta manusia lain, para murid tercipta sebagai gambar dan rupa Allah.
Para murid pun terarah dan harus mengarahkan diri agar menjadi gambar dan rupa Allah yang otentik. Mereka pun diberi kemampuan dari kasih Allah yang sempurna, untuk mengasihi siapa saja seperti Allah yang menerbitkan matahari bagi yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang yang tidak benar (Mat 5:45).
Dalam kerangka ini, adalah keharusan juga bagi kita untuk menjadi sempurna seperti Bapa di surga. Selama masa Prapaskah ini, kita ingin mendalami serius kata-kata Yesus ini: "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Mat 5:43-44;46-48).*
Simak juga video renungan harian katolik berikut: