Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Sabtu 27 Februari 2021: Kesempurnaan Hidup Anak-anak Allah
Hari ini kita mendengarkan Sabda Allah yang memberikan kepada kita suatu wawasan iman tentang kasih yang sejati
Renungan Harian Katolik, Sabtu 27 Februari 2021: Kesempurnaan Hidup Anak-anak Allah
Renungan Atas Perikop Injil Matius 5:43-48
Oleh: Fr. Giovanni A. L Arum
Calon Imam Keuskupan Agung Kupang
Berdomisili di Centrum Keuskupan Agung Kupang
POS-KUPANG.COM - Jika kita belajar dari kisah Bunda Teresa dari Calcuta, salah satu orang kudus terkenal di zaman modern, maka kita mendapat suatu teladan iman yang luar biasa bahwa cinta kepada orang-orang yang menderita dan telantar telah menegaskan identitasnya sebagai anak Allah.
Kisah hidup Bunda Teresa tentu tidak tanpa tantangan dan penolakan. Pada awal karyanya, ia mengalami banyak tantangan dan penolakan, bahkan ketika ia berusaha untuk menolong mereka yang miskin di Calcuta. Tetapi ketabahan Bunda Teresa telah menguatkan langkah kakinya untuk tetap berharap. Akhirnya, orang-orang yang awalnya menolak pelayanan beliau pun menerimanya dengan penuh cinta.
Hari ini kita mendengarkan Sabda Allah yang memberikan kepada kita suatu wawasan iman tentang kasih yang sejati, yakni kasih yang melampaui batas-batas yang ditetapkan manusia. Kita tahu bahwa hukum yang terbesar adalah hukum kasih.
Hukum kasih sebagai hukum terutama Kristiani dapat diringkaskan dalam rumusan: “kasih kepada Tuhan (dillectio ad Deum) dan kasih kepada sesama (dillectio ad fratrem)” (Bdk. Mat. 22: 37-39).
Bahkan, Yesus sendiri mengatakan bahwa pada dua bentuk hukum kasih inilah “tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 22:40).
Pada perikop Injil hari ini, Yesus mengingatkan kembali tentang bunyi hukum kasih kepada sesama yang diambil dari Im. 19: 18. Tetapi, Yesus tidak berhenti pada tuntutan kasih yang sangat terbatas seperti yang dipahami oleh orang-orang Yahudi pada waktu itu. Kasih kepada sesama dipahami sebagai kasih yang terbatas pada sesama orang Yahudi. Yesus melampaui hukum kasih yang sempit seperti itu. Yesus bergerak lebih jauh dengan mengatakan, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Ay. 44).
Ada hal menarik yang membuktikan bahwa perintah Yesus untuk mengasihi musuh adalah perintah yang keluar dari Allah Putera sendiri, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia. Pada ayat 33 dikatakan bahwa “kamu telah mendengar firman” (Ekousate hoti errethe), namun pada ayat 34 dengan jelas dikatakan bahwa Yesus sendiri yang memberikan firman, “Tetapi Aku berkata kepadamu (ego de lego humin)." Yesus memiliki otoritas ilahi untuk menyampakan firman. Dan firman yang keluar dari mulut Yesus adalah firman yang menghidupkan.
Tuntutan untuk mengasihi musuh adalah tuntutan murid-murid Kristus yang mulia. Tentu saja model kasih seperti ini tidak diajarkan oleh dunia. Hukum mana di dunia yang mengajarkan untuk mengasihi musuh dan berdoa kepada mereka yang menganiaya kita?
Secara kodrati, kita akan merasa “adil” jika kita mampu memberikan hal yang setimpal dengan orang yang mencintai ataupun membenci kita.
Tuntutan “mengasihi musuh” tentu melampaui logika keadilan manusia. Tuntutan ini jelas bukan tuntutan kodrati, melainkan tuntutan adikodrati. Kita memang hidup di dunia tetapi kita tidak berasal dari dunia.
Kita sedang berjuang untuk bertumbuh sebagai “anak-anak Allah”. Dan kasih yang “mengangkat kita” (transendensi diri) adalah kasih yang murni tanpa adanya tendensi untuk bertumpu pada takaran kesetimpalan. “Saya mengasihi orang yang mengasihi saya. Untuk apa saya mengasihi orang yang jelas-jelas memusuhi saya?”
Yesus dengan jelas mengatakan bahwa jika kita hanya mampu mengasihi orang yang mengasihi kita, apa beda kita dengan para pemungut cukai yang dianggap pendosa? Toh, mereka pun berbuat hal yang sama kepada orang yang baik terhadap mereka.
Kesempurnaan yang dituntut oleh Yesus bukanlah kemustahilan. Ingat, banyak orang kudus telah membuktikan bahwa perintah untuk mengasihi musuh bukanlah perintah yang mustahil untuk dilakukan.
Melampaui itu semua, Yesus telah lebih dahulu menggenapi apa yang Ia sendiri tuntut dari murid-murid-Nya. Ia mengampuni semua orang yang bersalah kepada-Nya. Bahkan di kayu salib, Ia berdoa bagi mereka semua yang jelas-jelas menganiaya diri-Nya.
Tetapi, tentu saja perintah ini bukanlah perintah yang mudah dilaksanakan selayaknya membalikkan telapak tangan. Hal ini tentu saja sulit, karena setiap orang cenderung akan mempertahankan egoismenya. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Ay. 48).
Di masa Prapaskah ini, kita memeriksa kembali diri kita. Sudah sejauh mana kita menegaskan kesempunaan hidup kita sebagai anak-anak Allah? Sudah sejauh mana kita menjadi pengikut Kristus yang sejati? Hal sederhana yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hukum kasih terhadap musuh ini adalah mengampuni.
Mengampuni tidak sama dengan melupakan kesalahan. Kita mengampuni berarti kita bersedia menerima sakit bahwa kita telah dilukai dan dengan ikhlas memutuskan rasa benci kepada orang yang melukai kita.
Ingat, rantai kebencian dan dendam hanya dapat diputuskan dengan pengampunan.
Semoga Tuhan memberkati kita sekalian. Salvete!*