Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Jumat 26 Februari 2021: PRAPASKAH DAN CARA HIDUP

Setiap kita menginginkan agar hidup kita selalu menjadi lebih baik. Karena itu kehidupan yang baik perlu dijalani dengan sebuah proses

Dok Pribadi
RD Hironimus Nitsae 

Renungan Harian Katolik, Jumat 26 Februari 2021: PRAPASKAH DAN CARA HIDUP (Injil Matius 5:20-26)

Oleh: RD. Hironimus Nitsae

POS-KUPANG.COM - Setiap kita menginginkan agar hidup kita selalu menjadi lebih baik. Karena itu kehidupan yang baik perlu dijalani dengan sebuah proses yang salah satunya membutuhkan kesabaran dalam diri. Kesabaran ini juga berkaitan dengan bagaimana kita menahan atau bahkan mengurangi ego kita untuk sebuah hal yang lebih penting dalam hidup kita sendiri.

Pada teks Injil hari ini, diketengahkan kepada kita tentang cara hidup yang seharusnya dijalani. Pada bagian awal berbicara soal hidup keagamaan kaum Farisi dan ahli Taurat. Secara tegas dikatakan bahwa jika hidup keagamaan kita tidak lebih benar dari mereka, maka sebenarnya kita tidak masuk dam kerajaan Surga.

Kita bisa memahami apa yang dimaksudkan oleh penginjil dengan melihat cara hidup yang dijalani oleh kaum Farisi dan ahli Taurat. Mereka adalah kelompok orang yang sangat paham tentang ajaran Taurat, namun dalam keseharian justru mereka tidak mempraktekkan apa yang mereka pahami. Malah sebaliknya yang dikejar adalah tentang popularitas diri dengan tameng sebagai kaum rohaniah.

Kedua, teks ini berbicara soal menjalani hidup kita dalam situasi sekarang. Terkadang untuk menyelesaikan sebuah masalah kita tidak sungguh-sungguh mendalami penyebab utamanya. Kita hanya berada pada bagian permukaan dan melupakan apa yang seharusnya dilihat kembali dari sebuah masalah yang kita hadapi. Sebagaimana yang dicontohkan dalam teks ini soal jangan membunuh, berdamailah dengan lawan kita, dan persembahkanlah diri kepada Tuhan dengan baik dan benar yang sebelumnya telah terjadi perdamaian bila ada konflik dengan sesama.

Maka, kita perlu meredam apa yang menjadi akar persoalan atau benih yang dapat memunculkan konflik lain bagi sesama dan terutama bagi diri sendiri. Persoalan yang terjadi sekarang lebih pada cara kita mengantisipasi seperti apakah kita menjalani hidup. Termasuk ketika kita memaknai hidup secara rohani.

Masa Prapaskah ini adalah momentum reflektif bagi kita untuk sejenak masuk dalam diri dan melihat apa yang seharusnya diperbaiki: Soal ego kita, soal melebih-lebihkan status sosial kita. Soal menganggap orang lain tidak sepadan dengan kita. Mungkin juga ketika kita merasa bahwa kita tidak butuh Tuhan lagi karena kasus covid-19 yang tidak ada habis-habisnya.

Semoga kita lebih solider dengan diri sendiri untuk menyadari bahwa Tuhan senantiasa turun untuk hadir bersama dengan kita karena Ia mencintai kita tanpa kata tapi.

Sekarang apakah kita sungguh mencintai-Nya dalam diri sesama?

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved