Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Jumat 26 Februari 2021: Pembunuh

Dalam suratnya yang pertama, St. Yohanes menulis, "Setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia" (1 Yoh 3:15).

Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Jumat 26 Februari 2021: Pembunuh (Matius 5:20-26)

Oleh: Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Dengan penuh wibawa Yesus katakan, "Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala" (Mat 5:21-22).

Menurut kamus, kata sifat "marah" (wrath) dari bahasa Latin "Ira" yang berarti temperamen berlebihan, kemarahan, kekesalan, karena perilaku tidak adil, murka, keinginan balas dendam.

Orang Yunani mempunyai 2 (dua) kata yang bermakna "marah", yakni "thymos" dan "orge". "Thymos" adalah marah yang meletus, meledak-ledak bagaikan bom bunuh diri yang diledakkan teroris. Tiba-tiba, secara mengejutkan muncul kemarahan. Namun marah dalam pengertian ini hanya sesaat, gampang reda.

Kalau "orge", ini kategori marah yang berkembang dari hari ke hari. Terkadang menahun, karena terus dipelihara. Hati sudah panas dibuat lebih panas lagi, sehingga menjadi murka. Di dalamnya terkandung benci. Makanya, orang yang sudah murka sering tak lagi mau berdamai, dicari akal untuk balas dendam dan mencelakakan orang lain.

William Blake coba menjelaskan dengan kata-katanya, "Aku marah pada temanku: aku menyatakan ini padanya, dan kemarahan itu menguap. Aku marah pada musuhku: aku tidak menyatakannya pada dirinya, dan kemarahan itu semakin menumpuk".

Maka terang dan jelas, kenapa Yesus menyama-derajatkan amarah yang murka dengan membunuh. Seperti seorang yang membunuh harus dihukum, seorang yang marah dengan kebencian dan dendam, apalagi mencelakakan orang lain, pun mesti dihukum.

Soalnya, kemarahan bukan hanya membuat orang melawan orang lain, tetapi bisa berbalik pada orang yang membiarkan kebencian tumbuh di hatinya. Dalam hal ini biasanya orang itu tak hanya membunuh, tapi juga akhirnya bunuh diri. Kita harus mengerti bahwa hukuman dan kematian ada di tangan Tuhan.

Dalam suratnya yang pertama, St. Yohanes menulis, "Setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia" (1 Yoh 3:15).

Dua orang bijak yang tinggal dalam kapel yang sama di Gurun Sahara, suatu hari mengobrol. "Mari bertengkar supaya kita tidak menjauh dari rasa kemanusiaan. Kalau tidak kita akhirnya akan sama sekali tidak mengerti dengan benar emosi yang menguasai manusia", kata salah satunya.

"Aku tidak tahu bagaimana memulai pertengkaran", jawab yang lain. "Aku meletakkan sebuah roti di tengah dan kau bilang: itu milikku. Aku akan menjawab: bukan, itu milikku. Lalu kita mulai bertengkar dan akhirnya kita akan berkelahi", kata yang pertama.

Itulah yang mereka lakukan. Yang seorang bilang itu miliknya. Yang lain membantah, mengatakan itu bukan milik temannya. Tapi pada akhirnya, "Jangan buang-buang waktu untuk hal ini. Simpan saja roti itu," kata yang kedua. "Idemu tentang pertengkaran tidak terlalu bagus. Kalau kita sudah memiliki jiwa abadi, sulit rasanya untuk bertengkar," lanjutnya.

Dalam Masa Prapaskah ini, kita mendekatkan diri dengan Tuhan dan sesama. Kita tempuh jalan: berkanjang dalam doa, berpantang akan keinginan diri, berpuasa untuk menguasai yang lain, dan bersedekah dengan ringan, sehingga kita memiliki jiwa abadi, jiwa yang tenang dan damai bersama Tuhan dan sesama. *

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved