Wawali Buka Pelatihan Staf SR dan SSR 

dana hibah dari Global Fund dalam rangka mendukung upaya eliminasi malaria di wilayah Indonesia timur untuk tiga tahun ke depan.

Penulis: Yeni Rachmawati | Editor: Rosalina Woso
Doc PROKOMPIM Kota
Wakil Wali Kota Kupang, Hermanus Man buka kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Staf dalam Pengelolaan Program Malaria GFATM Penguatan Komunitas Region Nusa Tenggara Timur, di Hotel Sotis Jalan Timor Raya.   

Wawali Buka Pelatihan Staf SR dan SSR 

POS-KUPANG.COM | KUPANG-- Wakil Wali Kota Kupang, Hermanus Man membuka kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Staf dalam Pengelolaan Program Malaria GFATM Penguatan Komunitas Region Nusa Tenggara Timur, di Hotel Sotis Jalan Timor Raya. 

Pelatihan ini di prakarsai oleh PERDHAKI  (Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia) selaku Principal Recipient (PR) untuk mengelola dana hibah dari Global Fund dalam rangka mendukung upaya eliminasi malaria di wilayah Indonesia timur untuk tiga tahun ke depan.

Project Manager Malaria PERDHAKI, dr. Ari Hermawan dalam kegiatan pembukaan, mengungkapkan pihaknya telah melakukan pengelolaan anggaran malaria sejak tahun 2010 di berbagai tempat dan kembali dipercaya oleh Global Fund untuk tiga tahun kedepan, yaitu 2021-2023.

“Tiga tahun mendatang kami diminta bergerak lebih dalam ke masyarakat sebagai Principal Recipient (PR) yaitu community base atau pendekatan berbasis komunitas,” ungkapnya. 

Dijelaskan tujuan menggelar kegiatan ini yaitu meningkatkan kapasitas rekan sub recipient (SR) dan sub-sub recipient (SSR) dalam program malaria terutama kapasitas staf SR dan SSR baru dalam melakukan pengelolaan program, keuangan dan administrasi-logistik secara  optimal. 

Pelatihan yang direncanakan berlangsung selama tiga hari tersebut dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan yang ketat bagi peserta yang berasal dari beberapa daerah di NTT yaitu dari Keuskupan Agung Kupang dan Keuskupan Agung Ende.

Dia berharap pelatihan ini mampu menghasilkan sejumlah output yang maksimal dalam pengelolaan program malaria.

“Output tersebut antara lain, rekan SR dan SSR memiliki kemampuan dalam berkoordinasi dengan dinas terkait, memiliki indikator yang harus di capai, memahami sistem dan prosedur program, keuangan, M&E, logistik, dan administrasi,” ujarnya.

Ditambahkannya, selain itu Rekan SR dan SSR diharapkan memiliki kemampuan program dan monitoring yang baik (Advokasi-BCC-Empowerment Program) serta dapat mengelola program secara baik, terprogram, akuntabel dan transparan. 

Wakil Wali Kota Kupang, Hermanus Man dalam sambutannya mengungkapkan untuk di beberapa daerah di NTT, kasus malaria masih menjadi penyebab kematian yang tinggi pada sarana-sarana kesehatan, meskipun untuk Kota Kupang sendiri sudah status eliminasi untuk tiga tahun terakhir.

Dikatakannya untuk beberapa daerah di NTT, penyakit malaria sudah sangat familiar bagi masyarakat bahkan sampai pada cara pengobatannya.

Namun Wawali mengatakan perlunya pengawasan terhadap beberapa jenis obat malaria yang beredar di masyarakat karena dapat menyebabkan resistensi.

Kepada peseta pelatihan, Wawali mengatakan terdapat tiga hal penting yang harus dimiliki oleh peserta untuk diterapkan di lapangan.

Pertama, perlunya pemahaman dan pengetahuan tentang manajemen baru seperti community base atau pendekatan berbasis komunitas.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved