Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Minggu 21 Februari 2021: Berjuang Jadi Kawanan Kecil
Penginjil Markus menceritakan kemenangan Yesus yang mengalahkan godaan kejahatan yang dilukiskan, “Ia berada di antara binatang-binatang liar”
Renungan Harian Katolik, Minggu 21 Februari 2021 ( Minggu 1 Prapaska ): Berjuang Jadi Kawanan Kecil
Oleh: Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - Yesus mengalami godaan di padang gurun selama berpuasa empat puluh hari. Penginjil Markus menceritakan kemenangan Yesus yang mengalahkan godaan kejahatan yang dilukiskan, “Ia berada di antara binatang-binatang liar” berkat penyertaan Ilahi yang dilambangkan melalui kehadiran para malaikat (Mrk 1:13).
Kemenangan Yesus melawan godaan setan membuka gerbang pewartaan Kabar Gembira bagi segenap makhluk hidup. Godaan terhadap Yesus di padang gurun mengingatkan kita bahwa tak seorang pun yang akan luput dari cobaan.
Namun Yesus memberi teladan yang mengagumkan yaitu bahwa setiap tugas mewartakan Kabar Gembira dalam konteks apa pun mesti diawali dan didasari dengan doa dan puasa, atau dalam bahasa Biblis: menyalibkan egoisme, sebagai jalan untuk memenangkan pertempuran dalam godaan melawan kejahatan.
Cobaan yang dialami Yesus menyadarkan kita juga bahwa kehidupan di dunia ini senantiasa mengalir dan berada di antara yang baik dan yang jahat. Godaan selalu mengarahkan segala sesuatu kepada yang jahat sekalipun kita dapat dan seharusnya membuatnya menjadikannya lebih baik.
Kisah godaan Yesus di padang gurun mesti selalu menyadarkan kita bahwa Tuhan menjadi kuat dan memenangkan pertempuran melawan kuasa jahat karena relasi-Nya yang dekat dengan Allah Bapa di Surga melalui puasa dan doa tiada henti.
Di sisi lain, kita serentak disadarkan bahwa Tuhan kita yang pernah digoda itu tidak berbuat dosa. Kita juga akan mengalami godaan dan Tuhan pasti menjaga dan memberikan kekuatan-Nya untuk mengutuhkan kembali kekuatan jiwa berkat puasa dan doa, setelah diobrak-abrik oleh setan, agar kita mampu memenangkan pertempuran di tengah “padang gurun”.
Godaan akan menarik kita dari jalan yang baik, benar dan terang memasuki situasi batas yang kelam, salah dan berimplikasi maut. Tuhan telah menunjukkan kunci yang mujarab untuk melawan godaan iblis yaitu membuka diri terhadap kehadiran Allah melalui upaya pengosongan diri dari berbagai nafsu dan keserakahan serta membiarkan rahmat Allah itu hadir dan berkarya menguatkan kelemahan manusiawi kita.
Puasa dan doa berarti mengosongkan diri kita dari keinginan duniawi dan membuka hati bagi Allah untuk menyalurkan kekuatan-Nya ke dalam jiwa kita. Allah selalu setia menawarkan rahmat-Nya yang tanpa batas kepada kita manusia.
Allah memang memberikan kebebasan kepada manusia tapi Ia menuntut kita untuk menjatuhkan pilihan seturut teladan Yesus Anak-Nya yaitu menjadikan kehendak Bapa sebagai puncak dari segala perjuangan hidup kita.
Rahmat Allah itu telah kita terima melalui kekuatan air dalam Sakramen Pembaptisan yang oleh Santo Petrus dilukiskan sebagai simbol pengangkatan kita menjadi manusia bermartabat (1 Ptr 3:21) karena Tuhan menyelamatkan kita seperti sisa kecil dalam kisah air bah menurut Kitab Kejadian yaitu Nuh beserta istri dan tiga anaknya (Kej 9:8-15).
Selama masa tobat ini, marilah kita hidup dalam keakraban dengan Tuhan melalui laku puasa, pantang, dan doa tanpa henti. Puasa adalah masa istimewa di mana rahmat Allah turun atas kita dengan cara yang istimewa.
Tuhan hanya menuntut kita agar setia membuka diri terhadap curahan rahmat-Nya. Rahmat Allah sebenarnya tidak perlu banyak kita perjuangkan. Ia telah tersedia. Kita hanya perlu membuka diri dan menerimanya dengan penuh sukacita tanpa rintangan.
Jalannya adalah melalui doa yang khusyuk dan sikap rendah hati yang tulus karena iman sebetulnya merupakan ketaatan hati dan budi terhadap Sabda Allah. Jika kita taat, kita akan menjadi kawanan kecil seperti Nabi Nuh dan keluarga yang selamat dari kebinasaan air bah akhir zaman karena Tuhan pasti menyelamatkan kita.*
Simak juga video renungan harian katolik berikut:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-steph-tupeng-witin-svd.jpg)