Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Sabtu 20 Februari 2021: Pancarkan Cahaya Iman dan Cinta Kasih

Josemaria Escriva dalam bukunya The Way (2006; 1 ) menulis “Jangan biarkan hidupmu menjadi sia-sia. Jadilah manusia yang berguna.

Dok Maxi Un Bria
RD Maxi Un Bria dengan latar belakang menara Pizza Italia. 

Renungan Harian Katolik, Sabtu 20 Februari 2021: Pancarkan Cahaya Iman dan Cinta Kasih (Lukas 5 : 27-32)

Oleh: RD. Maxi Un Bria

POS-KUPANG.COM - Josemaria Escriva dalam bukunya The Way (2006; 1 ) menulis “Jangan biarkan hidupmu menjadi sia-sia. Jadilah manusia yang berguna. Tinggalkan jejak. Pancarkan cahaya iman dan cinta kasihmu.”

Refleksi Josemaria Escrifa berkaitan dengan upaya membangun karakter insan Kristiani yang terpanggil dan diutus untuk menjadi garam dan terang dunia yang berguna bagi banyak orang.

Lewi mengikuti ajakan Yesus. Ia insyaf atas segala dosa masa lalu, dan siap sedia untuk berubah menjadi manusia baru yang bahagia dan memiliki orientasi hidup kepada yang Ilahi. Lewi ingin menegaskan jatidirinya sebagai manusia yang berguna dan bernilai di mata Tuhan dan sesama.

Kesadaran sebagai manusia biasa yang berjuang untuk menemukan makna hidup dan kebahagiaan di dunia dan akhirat telah membuka mata batin Lewi pemungut cukai untuk meninggalkan gaya hidup lama yang gemerlap penuh kepentingan duniawi, lalu mamasuki fase hidup baru yang berdimensi rohani-surgawi.

Pilihan sadar Lewi untuk mengikuti Yesus juga bertolak dari daya tarik personal Yesus dan ajaran-Nya yang menyentuh hati. Yesus menggunakan komunikasi personal dan persuasif dalam membuka wawasan para pendengar, utamanya Lewi dan para pemungut cukai. Lewi disapa Yesus secara personal dan pengaruhnya sangat dahsyat.

Kepada Lewi, Yesus bersabda, “Ikutlah Aku.“ Karena kegembiraan dan antusiasme mengikuti Yesus, Lewi mengadakan perjamuan bagi Yesus bersama para murid dan teman-teman seprofesi. Perjamuan bersama Yesus adalah momentum yang sangat istimewa di mata Lewi, keluarga dan para sahabatnya. Mereka bersyukur dan bahagia, karena Tuhan berkenan mengunjungi dan makan bersama-sama mereka. Tuhan hadir dan memberi makna baru bagi hidup, pekerjaan dan persepsi sosial atas mereka.

Tentu saja apa yang dilakukan Yesus dan Lewi serta para pemungut cukai lainnya mendapat reaksi negatif dari Kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Karena menurut mereka, Lewi dan para pemungut cukai termasuk kawanan pendosa yang mesti dihindari.Stigma sosial demikian telah mengalienasi dan mengisolasi para pemungut cukai dalam interaksi sosial.

Pilihan Yesus untuk makan bersama Lewi dan para pemungut cukai telah membuka cara pandang yang baru bagi khalayak tentang siapakah sesungguhnya sesama manusia itu. Lewi dan para pemungut cukai diperlakukan Yesus sebagai sesama saudara yang mesti diperhatikan, disayang dan dibantu untuk keluar dari cara hidup lama sekaligus membebaskas mereka dari stigma sosial sebagai pendosa.

Yesus menegaskan bahwa kehadiran seorang tabib berguna dan relevan di tengah masyarakat karena ia hadir bagi orang-orang sakit. Sabda-Nya demikian, “Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, melainkan orang sakit, Aku datang bukan untuk orang benar, tetapi untuk orang berdosa, supaya mereka bertobat” ( Lukas 5 :31-32 ).

Semoga seperti Lewi, kita pun terbuka untuk mengundang Yesus terlibat dalam hidup pribadi, keluarga dan komunitas. Karena yakin bahwa Ia yang penuh kasih dan Maha Pengampun atas segala dosa, menerima kita apa adanya dan merahmati kita untuk berubah menjadi lebih baik serta menuntun kita menuju keselamatan. Salve.*

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved