Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Rabu 10 Februari 2021: MURNIKAN HATI

Bagi Yesus, dasar kuat untuk sikap beragama yang sejati adalah utamakan hati (=batin), bukan tangan (=lahir).

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Rabu 10 Februari 2021: MURNIKAN HATI (Markus 7:14-23)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Bagi Yesus, dasar kuat untuk sikap beragama yang sejati adalah utamakan hati (=batin), bukan tangan (=lahir). Tapi Yesus sangat tahu bahwa orang cenderung lebih melihat, memperhatikan, dan menilai yang lahiriah, ketimbang yang batiniah.

Yesus sadar bahwa sungguh celaka bila para pengikut-Nya sendiri sampai menilai sesamanya menurut apa yang dipakai, apa yang dimakan, apa yang dimiliki. Seandainya itu terjadi, para pengikut-Nya pasti tak mungkin membawa Kabar Baik bagi orang lain.

Dalam hidup setiap hari kecenderungan kepada yang lahiriah nampak kasat mata. Istilah "you are what you eat" cukup sering diperdengarkan dan dijadikan jargon. Orang beranggapan bahwa apa yang dimakan menentukan adanya, keberadaannya, eksistensinya.

Anggapan itu lantas mengalami perluasan makna tatkala diterapkan dalam berbagai hal lain. Orang merasa berada dan diakui berdasarkan apa yang dia pakai, miliki, katakan. Tak heran orang berjuang untuk menunjukkan keberadaannya dengan memoles dan mempercantik penampilan, memperbesar pundi-pundi yang dipunyai.

Kepada orang banyak Yesus memberikan pencerahan dengan sebuah perumpamaan yang bergerak di bidang ide. Dia katakan, "Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya" (Mrk 7:15).

Intinya ialah: "utamakan hati!" Artinya, "hati"-lah yang menentukan keberadaan dan nilai yang sebenarnya sebagai orang beragama.

Sebagai manusia yang bertelinga, berhidung, bermata, berlidah, berkulit, bertangan, berkaki, siapa pun dapat berkomunikasi, berelasi, menerima, memperoleh, menggapai apa pun yang ada di luar dirinya. Melalui panca indera, dunia luar (bisa) masuk ke dalam dirinya.

Namun, semua yang dari luar itu tetaplah bukan pribadi dari orang yang kemasukan unsur luar itu. Barang dari luar tetaplah barang semata-mata, bukan pribadi orang yang kemasukan barang itu.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved