Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Sabtu 6 Februari 2021: KEKUATAN SUNYI

Ada orang memang takut atau tidak berani berada di tempat yang sunyi. Banyak alasannya.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Sabtu 6 Februari 2021: KEKUATAN SUNYI (Markus 6:30-34)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Ada orang memang takut atau tidak berani berada di tempat yang sunyi. Banyak alasannya. Sunyi itu sepi dan seram, sehingga menakutkan. Atau, sunyi tanpa ada apa pun, sehingga membosankan.

Orang-orang zaman now rupanya lebih suka mencari keramaian. Banyak orang selalu berbondong-bondong ke kota, penuhi pusat keramaian. Para pedagang kaki lima mempunyai insting yang tajam. Mereka tahu kapan dan di mana ada keramaian: dangdutan, pesta perkawinan, kampanye, demo atau unjuk rasa. Mereka pasti akan mendahului hadir sebelum acara digelar.

Sahabat berbagi cerita. Ia heran, tak habis pikir, putrinya kalau belajar menghadapi ujian justru sambil dengar musik dari HP dengan menggunakan headset di telinga. Lain waktu pamit belajar bareng teman-temannya. Tapi tempat belajar yang dituju justru di starbucks. Saya teringat, dulu di seminari, belajar harus di kelas dan tak boleh berisik. Kalau ribut pasti kena semprot dan ujungnya dapat hukuman tanam pisang saat waktu istirahat siang.

Tapi tak sedikit yang ingin akan kesunyian. Sunyi itu tenang, adem, memberi kedamaian. Banyak seniman pasti mencari kesunyian, keheningan, karena dalam suasana macam itulah ilham, inspirasi muncul. Rohaniwan-rohaniwati tak hanya berkewajiban, tapi juga berhak pergi ke tempat sunyi untuk menjalani retret atau khalwat. Di sana mereka biasa berjarak dengan rutinitas dan kesibukan tugas, jauh dari kebisingan sehingga bisa bermenung dalam kesunyian tentang hidup dan perjalanan panggilan yang telah dijalani, dan menimba kesegaran dan kekuatan untuk berziarah lagi.

Setelah menerima kedatangan kembali para murid dari tugas, Yesus langsung mengajak para murid-Nya, "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika" (Mrk 6:31). Yesus mengajak mereka untuk menyepi seperti Dia sendiri dulu di padang gurun. Dulu di padang gurun, Yesus semakin menyadari pernyataan dari surga bahwa Ia Anak terkasih dan kepada-Nya Bapa berkenan (Mrk 1:11-12).

Para murid baru saja mengalami keberhasilan dalam berwarta dan menyembuhkan orang dari kuasa roh jahat dengan kuasa yang dibekalkan Yesus. Mereka perlu mengendapkan pengalaman itu. Bila tidak, mereka nanti bisa jatuh dalam tindakan memperagakan kehebatan dan terbuai oleh popularitas dengan memenuhi undangan talk show di mana-mana.

Dengan begitu, mereka akhirnya tak lagi melihat inti pelayanan yang sebenarnya. Mereka perlu membuat jarak dengan keberhasilan yang dicapai, agar tidak sampai lupa diri menunjukkan kebesaran diri, bukan lagi menyiapkan kedatangan Sang Guru.

Mungkin kita terbiasa dan senang dengan keramaian. Kita pun terdorong untuk bersyukur atas keberhasilan kita dengan sukacita dalam keramaian. Kegembiraan yang dibagi memang akan bertambah. Di pihak lain, kita sebaiknya bersukacita bersama orang yang bersukacita. Tapi rupanya kali ini Yesus mengajak kita ke tempat yang sunyi saat kita datang hendak bersyukur atas kesuksesan kita dalam karya.

Thomas Merton menulis, "Dunia kita telah melupakan kegembiraan dalam kesunyian, kedamaian dalam keheningan, yang dalam kadar tertentu sangat dibutuhkan demi mencapai kepenuhan hidup manusia".

Mengutip seorang rahib Syria, Merton menambahkan, "Jika kamu mencintai kebenaran, jadilah pencinta keheningan. Keheningan seperti sinar matahari yang akan menerangi kamu dalam Tuhan dan akan membebaskan kamu dari bayang-bayang ketidaktahuan. Pada awalnya kita harus memaksa diri untuk hening. Namun kemudian lahirlah sesuatu yang menarik kita kepada keheningan. Hanya bila kamu melakukan hal ini, cahaya yang terang benderang akan terbit bagi kamu sebagai akibatnya".

Ammonas (murid St. Antonius, pertapa): "Saya menunjukkan kepadamu kekuatan keheningan. Betapa Tuhan tinggal sepenuhnya pada orang yang bertahan dalam keheningan; karena keheningan itulah kekuatan Tuhan tinggal dalam diri orang-orang kudus di masa lalu dan misteri Tuhan diperlihatkan kepada mereka".

Dalam bukunya, "Dengan Tangan Terbuka" (1971), Henri Nouwen menulis, "Doa adalah suatu gaya hidup yang memungkinkan kita untuk menemukan keheningan di tengah-tengah hiruk pikuk kehidupan dunia ini. Dalam keheningan, kita membuka diri untuk menerima janji-janji Tuhan, menerima harapan baru bagi diri sendiri maupun orang lain dan seluruh komunitas tempat kita hidup". *

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved